Depan > Kemasyarakatan > Pasar Paiton Menuju Pasar Online Berbasis Digitalisasi Teknologi

Pasar Paiton Menuju Pasar Online Berbasis Digitalisasi Teknologi

Reporter : Syamsul Akbar
PAITON – Seiring dengan perkembangan digitalisasi teknologi, Pasar Paiton Kecamatan Paiton bersiap untuk mewujudkan pasar online berbasis digitalisasi teknologi. Upaya ini akan difasilitasi secara penuh oleh BRI Unit Paiton.

Dengan menjadi pasar online, maka Pasar Paiton nantinya akan bergabung disebuah rumah www.pasar.id yang sudah dibuat oleh BRI. Dari situ, nasabah-nasabah BRI di seluruh Indonesia bisa membandingkan harga dan ongkos kirimnya.

“Dengan Pasar Paiton menjadi pasar online berbasis digitalisasi, maka nanti pembelinya bukan hanya dari warga lokal saja. Misalnya orang Sulawesi akan beli di Pasar Paiton jika harganya lebih murah dari pada beli di daerah lain,” kata Kepala Pasar Paiton Murtade.

Untuk menuju ke pasar online ini jelas Murtade, maka pihak BRI akan menunjuk admin-admin terlebih dahulu. Selanjutnya admin pasar tersebut akan diedukasi oleh BRI. Setelah diberikan edukasi, admin pasar sudah bisa mengupload sendiri barang-barang yang dijual oleh pedagang pasar.

“Jika sudah siap, maka pihak BRI Unit Paiton akan memfollow up Pasar Paiton ke pasar online. Selanjutnya Pasar Paiton akan masuk ke grup besarnya BRI yang anggotanya dari seluruh Indonesia,” jelasnya.

Murtade menerangkan untuk pasar online ini, pihak Pasar Paiton bersama dengan BRI Unit Paiton akan membuatkan kluster-kluster pedagang. Mulai dari kluster baju di depan, kluster sayur di belakang dan lain sebagainya. Intinya, pedagang posisinya tetap hanya dibuatkan kluster untuk mapping lokasinya.

“Kalau ingin membeli buah maka cukup di depan dan baju di sebelah kantor. Jika ingin beli sayur maka ada di belakang. Nanti BRI akan membuatkan peta digital di Pasar Paiton. Sehingga begitu ada orang datang sudah tidak perlu tanya-tanya lagi. Semua ini difasilitasi oleh BRI Unit Paiton,” terangnya.

Dengan menerapkan pasar online ini tegas Murtade, maka transaksi dan sistem pembayaran sudah berbasis digitalisasi teknologi. Pembayaran yang dilakukan sudah tidak berbentuk fisik lagi.

“Apabila sistem pembayaran sudah dilakukan secara digitalisasi maka tentunya akan meminimalisir uang palsu dan resiko kehilangan uang di jalan. Selain itu, orang sudah tidak menghitung uang di jalan,” tegasnya.

Ke depan jelas Murtade, Pasar Paiton akan menjadi pasar unggulan dari BRI. Dengan pasar unggulan ini, masyarakat dan pedagang yang ada di pasar sudah bisa melek teknologi. Semua transaksinya sudah menggunakan sistem digitalisasi. Pembayaran yang dilakukan bukan hanya di tempat saja tetapi juga bisa COD (Cash On Delivery).

“Berdasarkan informasi yang disampaikan BRI Unit Paiton, saat ini di Jawa Timur pasar unggulan BRI baru ada di Surabaya dan Malang. Jadi kalau jadi, maka Pasar Paiton akan menjadi pasar unggulan BRI ketiga di Jawa Timur,” ujarnya.

Menurut Murtade, selama ini para pedagang Pasar Paiton sudah membiasakan diri untuk menabung melalui agen yang sudah dibentuk oleh BRI Unit Paiton. Para pedagang setiap hari menabung mulai dari Rp 5.000. Nantinya dari tabungan tersebut, pedagang bisa mengajukan kredit permodalan tanpa agunan.

“Pedagang pasar yang ingin mengajukan kredit permodalan dibawah Rp 5 juta cukup dengan rekomendasi dari Kepala Pasar. Nanti yang jalan ke pedagang setiap harinya adalah admin pasar yang dibentuk oleh BRI. Untuk tabungan pasar ini tanpa biaya administrasi bulanan dan saldonya boleh nol saat hari raya. Nanti setelah hari raya bisa menabung lagi,” akunya.

Murtade menjelaskan upaya ini bertujuan untuk membantu permodalan di pasar dari yang lain. Sebab selama ini pedagang sayur biasanya meminjam Rp 200 ribu dan bayar setiap hari Rp 10 ribu selama 26 hari.

“Kalau di BRI, pinjam Rp 2 juta maka pedagang cukup menabung Rp 10 ribu setiap hari selama 20 hari. Sisanya yang 10 hari bisa untuk ditabung. Untuk bunga KUR itu sebesar 0,3% setiap bulan atau 6% per tahun. Namun di pasar untuk Rp 2 juta karena tanpa agunan maka bunganya 1,75% per bulan. Tapi nanti ada pengembalian untuk agen pasar sebagai PAD pasar.

Lebih lanjut Murtade menegaskan untuk pencairan kredit orang pasar tidak perlu datang ke BRI, tinggal tanda tangan di agen pasar. Setelah tanda tangan, admin pasar melapor ke mantra. Dari mantra selanjutnya melapor ke BRI Unit Paiton. Baru kemudian dicairkan dan langsung masuk ke rekening.

“Di Pasar Paiton ini ada 350 pedagang. Namun yang sudah aktif menabung sekitar 300 pedagang. Mayoritas adalah pedagang sayur. Bagi yang tidak ingin mengajukan kredit, pedagang cukup menabung saja. Kita akan terus memberikan support bagaimana bisa memberikan kemudahan kepada para pedagang yang ada di Pasar Paiton,” pungkasnya. (wan)

https://probolinggokab.go.id/wp-content/uploads/2019/01/slotmaxwin/ https://bali.bawaslu.go.id/assets/artikel/slotgacormaxwin/ https://slot.papuabaratprov.go.id https://www.rtpharmoni.id/ slot pulsa slot slot online slot88