Tuesday, May 21, 2024
Depan > Kemasyarakatan > Tingkatkan Nilai Jual, Kecamatan Maron Berikan Pelatihan Olahan Porang

Tingkatkan Nilai Jual, Kecamatan Maron Berikan Pelatihan Olahan Porang

Reporter : Syamsul Akbar
MARON – Dalam rangka meningkatkan nilai jual porang, Pemerintah Kecamatan Maron memberikan pelatihan beberapa olahan dari bahan porang di Pendopo Kecamatan Maron, Sabtu (25/2/2023).

Pelatihan produk olahan dari bahan porang yang diikuti oleh Koordinator PPL di Kecamatan Maron, Krucil dan Tiris ini dihadiri oleh Camat Maron Hari Kriswanto, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo Arie Kartikasari, Motivator dan Revolusi Porang Indonesia Ibnu Tanjung serta Supplier Porang dari Desa Kertosuko Kecamatan Krucil Bayu.

Camat Maron Hari Kriswanto mengatakan pelatihan olahan porang ini dilakukan karena ada potensi porang yang luar biasa besar di Kabupaten Probolinggo, termasuk di Kecamatan Maron. Lebih banyak lagi di daerah atas seperti Kecamatan Krucil, Tiris, Sumber dan Sukapura.

“Saya melihat akhir-akhir ini nilai jual porang rendah. Karena memang salah satunya disebabkan karena produksi yang cukup besar dan dengan pemasaran yang mungkin masih belum banyak orang tahu,” katanya.

Hari mengharapkan ke depan porang selain dijual dalam bentuk umbi juga bisa diolah dengan berbagai macam makanan olahan yang terbuat dari bahan dasar porang sehingga nilai jualnya meningkat.

“Saat ini nilai jual umbi berada pada kisaran Rp 3.000 per kg. Ke depan harapan saya dengan pengolahan umbi porang menjadi berbagai produk olahan makanan ini nilai jualnya meningkat sehingga petani porang yang ada di Kabupaten Probolinggo pada umumnya bisa merasakan manfaatnya dan ke depan tidak ada kekhawatiran akan bertanam porang,” jelasnya.

Menurut Hari, pihaknya menghadirkan salah satu supplier porang dari Desa Kertosuko Kecamatan Krucil Bayu yang sudah melakukan MoU dengan beberapa pabrik besar pengolahan porang.

“Ternyata dari informasi yang disampaikan Mas Bayu ini, porang ini prospeknya luar biasa bagus karena produk-produk porang ini pemasarannya adalah ekspor untuk kebutuhan orang-orang di luar negeri dan nilai jualnya ternyata setelah diolah oleh pabrik-pabrik itu luar biasa mahal,” tegasnya.

Hanya saja tambah Hari, ditataran petani ini masih belum banyak tahu kalau prospek penjualan atau pasar porang ini luar biasa bagus. “Harapan saya nanti bisa nyambung terkait dengan budidaya porang termasuk juga olahannya sehingga Kabupaten Probolinggo ke depan juga sebagai penghasil porang dan bisa mengolah porang menjadi salah satu produk unggulan di Kabupaten Probolinggo,” harapnya.

Sementara Motivator dan Revolusi Porang Indonesia Ibnu Tanjung menyampaikan pengolahan porang itu dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan sistem fermentasi. Fermentasi hanya menggunakan bio porang dengan rumus “Ji Pat Ji Ro”.

“Ji itu satu, satu jam saja direndam dengan bio porang. Empat dengan NaCl atau garam. Dihancurkan lagi dengan waktu satu jam. Serta dua jam pengeringan. Kalau pakai oven sudah bisa dikonsumsi oleh masyarakat,” ujarnya.

Berikutnya jelas Ibnu Tanjung, mau digunakan bubur maupun kue apa saja boleh dengan syarat oksalatnya harus dibawah 0,08%. Jika hal itu dilakukan maka sudah bisa dikonsumsi. Itu alatnya tersedia sederhana dengan blender dan kemampuannya yang besar ada pengeringannya ovennya.

“Yang jelas hanya rumus Ji Pat Ji Ro saja dengan langkah-langkah 5P mulai dari pencucian, penghalusan, perendaman, penyaringan dan penjemuran. Langkah 5P ini bisa diamalkan bagi petani-petani di Indonesia, khususnya Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Menurut Ibnu Tanjung, sampai saat ini masyarakat ditakut-takuti bahwa porang itu gatal. Memang porang itu gatal, akan tetapi kegatalannya tidak seperti racun. Kalau racun itu hitungan menit tapi kalau oksalat hitungan tahun jika dimakan yang berlebihan.

“Kalimatnya berlebihan dan efeknya 2 hingga 3 tahun berikutnya. Gadung sudah ditaklukkan oleh nenek moyang, sekarang untuk porang ini mungkin banyak yang belum tahu. Insya Allah kalau sudah tahu ilmunya tidak akan takut karena sudah hilang oksalatnya,” terangnya.

Ibnu Tanjung menegaskan kalau prospek tahun 2023 yang jelas pabrik sudah berjamur di Indonesia dengan jumlah kurang lebih 35 pabrik. Tentunya membutuhkan umbi yang banyak. Tentunya ini beda dengan tahun-tahun yang lalu baru sekitar 9 hingga 11 pabrik. “Yang jelas pabrik sangat membutuhkan umbi porang. Tentunya petani yang panen tahun ini dan 2024 sangat dinanti-nantikan oleh perusahaan,” tegasnya.

Ibnu Tanjung meghimbau kepada masyarakat dan petani porang. Awali dengan suatu konsisten memang masyarakat tidak bisa mengolah maka ada suatu pasar yang jenuh. Ketika kejenuhan itu tidak bisa dicairkan maka tentunya akan mengalami suatu kebuntuan.

“Oleh karenanya kita akan membuat gebrakan melalui program revolusi porang. Kita rubah mindset tidak jual umbi saja kemudian kita olah dengan masakan ciri khas Indonesia. Bisa saja umbi porang dimasak dengan olahan tertentu yang pada akhirnya profitnya berubah. Jadi tidak harus melulu berfikiran ekspor, harus kita olah dan kita makan sendiri,” pungkasnya. (wan)