Depan > Kemasyarakatan > Perjuangan Marit Tangkap Sesaji Warga Tengger di Kawah Bromo

Perjuangan Marit Tangkap Sesaji Warga Tengger di Kawah Bromo

Reporter : Hendra Trisianto
SUKAPURA – Membahas keunikan dan kearifan budaya masyarakat Tengger memang tidak akan pernah habis. Selain menarik untuk disaksikan, ternyata dibalik ritual-ritual adat yang dimiliki masyarakat yang mendiami lereng pegunungan Bromo ini memiliki makna luhur yang tidak banyak orang paham.

Salah satu yang paling umum ialah ritual adat labuh sesaji di kawah Gunung Bromo pada momentum puncak perayaan Yadnya Kasada. Pada momentum ini seluruh masyarakat Tengger dari berbagai penjuru saling berdatangan untuk mengorbankan ongkek-ongkek berisi sesajen berupa buah-buahan, hewan ternak dan uang.

Saat menyaksikan labuh saji ini perhatian kita juga pasti akan tertuju kepada puluhan orang yang nampak sibuk, bahkan saling berebut untuk menangkap dan mengumpulkan sesaji yang dilemparkan para warga Tengger ke arah dapur kawah Gunung Bromo.

Mereka adalah para Marit. Aktivitas mereka ini dapat dilihat sejak malam hingga siang hari, sehari pasca upacara Yadnya Kasada. Mereka jauh-jauh hari sudah tiba, bahkan sengaja membuat tenda darurat di bibir terluar kawah, disamping beton pembatas atau keamanan.

Melihat para Marit berjibaku saat menangkap sesaji membuat siapa pun akan bergidik ngeri. Meski tempat berpijak mereka memiliki kemiringan yang sangat ekstrim namun tak tampak rasa takut sedikitpun. Kaki-kaki para Marit ini seakan lekat dengan dinding kawah saat berlarian mengejar arah jatuhnya sesaji.

Sebagian besar dari Marit percaya dan yakin bahwa mereka mendapatkan perlindungan dari Sang Hyang Widhi dan para leluhurnya saat menjalani profesi Marit. Karena itu tak heran walaupun dalam kondisi hujan bahkan erupsi sekalipun para pemberani ini tetap tegar dan tak bergeming.

Salah satunya diakui oleh Agus Sugianto, pria muda berusia 34 tahun asal Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Ia mengatakan, selama 7 tahun menjalani profesi sebagai Marit pada setiap Yadnya Kasada dirinya tidak pernah mengalami tergelincir atau terjatuh yang kemudian dapat mencelakainya.

“Ndak pernah takut jatuh atau celaka, karena kami yakin dijaga oleh Mbah Bromo. Karena sebelumnya kami juga selalu meminta ijin terlebih dahulu untuk mencari rejeki yang halal dan barokah di sekitar kawah Bromo,” ungkap bapak dengan dua anak ini.

Agus mengemukakan, setiap mengais rejeki dari profesi Marit itu sedikitnya 1 juta rupiah berhasil ia kumpulkan selama dua hari. Belum lagi hasil dari sesaji lainnya yang berupa hasil ternak seperti ayam, kambing serta hasil bumi, jika itu ditotal tak kurang dari dua juta rupiah bisa ia dapatkan.

“Alhamdulillah sebagian hasilnya bisa untuk menambah penghasilan keluarga dan sebagian lagi bisa untuk tambahan modal kami untuk menanami ladang,” jelas Agus.

Jika diperhatikan lebih teliti keberadaan kaum Marit ini, ternyata tidak hanya ada di sekitar kawah Gunung Bromo saja. Tetapi mereka juga tampak mengais rezeki Yadnya Kasada pada pelataran Astana yang lokasinya berada tepat sebelum anak tangga menuju kawah Bromo.

“Selain labuh saji di kawah Bromo, orang Tengger juga menyuguhkan sesaji di Astana sakral ini. Dan banyak diantara mereka yang juga menyedekahkan uang di sini, karena itu kami juga Marit di tempat ini,” ungkap Satuli (42) warga Desa Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.

Seperti pada umumnya para kaum Marit, Satuli dan keponakannya Tuwi (20) juga telah berada di Astana tersebut sejak Hari Rabu (15/6/2022), tepatnya sehari sebelum pelaksanaan puncak perayaan Yadnya Kasada tahun 2022 kali ini.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto juga mengulas tentang keberadaan kaum Marit yang memang sangat lekat dengan Yadnya Kasada masyarakat Tengger.

Menurut Bambang, Marit sudah ada seiring dengan adanya ritual Yadnya Kasada. Pasalnya masyarakat Tengger secara turun temurun juga meyakini setiap sesaji yang sudah dilabuh itu juga memiliki berkah tersendiri, terlebih lagi yang berupa hasil bumi.

“Jika hasil dari Marit itu ditanam kembali di ladang bersama dengan tanaman lainnya, maka hasil panennya akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Diyakini hal ini karena keberkahan dari japa mantra yang sebelumnya dibacakan oleh para Rama dukun sebelum sesaji di labuh, dimana salah satu pengharapannya adalah kesuburan bumi,” jelasnya.

Merujuk kepada hal tersebut Bambang menerangkan, bahwa Marit sejatinya bukan untuk mencari keuntungan dengan cara mengumpulkan labuh saji sebanyak-banyaknya. “Jadi sebenarnya ini bukan untuk dimakan atau dijual, tetapi lebih untuk dikembangkan lagi,” urainya.

Selanjutnya Bambang juga mengimbau kepada para Marit agar senantiasa menjaga etika sebagai Marit. Karena seharusnya labuh sesaji ini baru boleh diambil ketika sudah menyentuh tanah, tidak direbut dan dipaksanakan, apalagi sampai harus membuat alat berupa jaring tangkap dan sebagainya.

“Sebenarnya hal ini sudah sering kami sampaikan dan informasikan, tapi ya namanya manusia, ada saja yang kurang menghiraukan himbauan ini. Semoga keberadaan Marit ini menjadi penanda berkahnya perayaan Yadnya Kasada,” tandasnya. (dra)