Thursday, October 8, 2026
Depan > Kemasyarakatan > Penyakit Ker-Ker dan Layu Tembakau Diatasi dengan POC, PGPR dan Pesnab

Penyakit Ker-Ker dan Layu Tembakau Diatasi dengan POC, PGPR dan Pesnab

KRAKSAAN – Serangan penyakit ker-ker akibat virus dan penyakit layu yang disebabkan jamur mulai mengancam tanaman tembakau milik petani di Desa Tamansari Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Menyikapi kondisi tersebut, petani bersama pemerintah desa dan penyuluh pertanian bergerak cepat menerapkan pengendalian ramah lingkungan melalui pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan pestisida nabati (Pesnab).

Langkah tersebut dilakukan melalui kolaborasi Pemerintah Desa Tamansari, Kelompok Tani (Poktan) Sumber Jaya, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kraksaan serta Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan dari Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya.

Sebagai tindak lanjut, para petani mengikuti praktik pembuatan POC, PGPR dan pestisida nabati di Balai Desa Tamansari Kecamatan Kraksaan pada Senin (27/7/2026). Seluruh peserta membawa sendiri bahan dan peralatan agar mampu memproduksi ketiga bahan tersebut secara mandiri untuk diterapkan di lahan masing-masing.

Penjelasan teknis terkait pembuatan POC, PGPR dan Pernab di Balai Desa Tamansari Kecamatan Kraksaan. (Foto : POPT Perkebunan)

Petugas POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menjelaskan POC berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanaman, sedangkan PGPR berperan sebagai biostimulan, biofertilizer sekaligus bioprotektan yang mampu memperkuat pertumbuhan tanaman.

Sementara pestisida nabati dimanfaatkan untuk menekan populasi kutu kebul, serangga yang menjadi vektor penyebaran virus penyebab penyakit ker-ker pada tanaman tembakau.

“Kombinasi POC, PGPR dan pestisida nabati merupakan cara jitu untuk menyehatkan tanaman, memacu pertumbuhan serta menekan serangan hama dan penyakit. Apalagi kondisi lahan di wilayah ini tergolong asam sehingga perlu ditingkatkan kandungan unsur organiknya,” ujarnya.

Menurut Ika, penggunaan bahan-bahan organik tidak hanya membantu mengendalikan penyakit tanaman, tetapi juga memperbaiki kondisi tanah sehingga tanaman lebih kuat menghadapi serangan organisme pengganggu.

Proses fermentasi bahan pembuatan POC, PGPR dan Pesnab di Balai Desa Tamansari Kecamatan Kraksaan. (Foto : POPT Perkebunan)

Koordinator BPP Kecamatan Kraksaan Abd Rasyid mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk respons cepat terhadap serangan penyakit yang mulai menyerang pertanaman tembakau di wilayah Desa Tamansari.

“Ini merupakan bagian dari gerak cepat BPP Kraksaan bersama Poktan dan Pemerintah Desa Tamansari agar petani mampu membuat sendiri POC, PGPR dan pestisida nabati sebagai solusi menghadapi serangan penyakit di lapangan,” katanya.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh petani dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis semakin berkurang dan produktivitas tembakau tetap terjaga.

Pemerintah Desa Tamansari juga memberikan dukungan penuh terhadap upaya tersebut. Kepala Desa Tamansari Hosni melalui Sekretaris Desa Abdul Hadi terus menggerakkan masyarakat agar cepat merespons setiap persoalan pertanian yang muncul.

Balai desa pun disiapkan sebagai pusat koordinasi, diskusi dan pembelajaran bagi petani dalam mencari solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi, termasuk serangan penyakit tanaman.

Foto bersama hasil praktek tim Desa Tamansari, poktan, PPL dan POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya. (Foto : POPT Perkebunan)

Sementara Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Tamansari Ali Usman mengingatkan pentingnya penggunaan bibit yang sehat dan memiliki asal-usul yang jelas. Bibit yang berasal dari sumber tidak terpercaya berpotensi membawa virus penyebab penyakit ker-ker.

“Bibit yang diperoleh jangan asal-asalan. Kalau menggunakan benih sendiri harus melalui perlakuan sesuai standar agar menghasilkan bibit unggul, berasal dari daerah yang bebas virus serta menghindari penyebaran kutu kebul sebagai vektor pembawa virus,” jelasnya.

Selain pengendalian hama dan penyakit, penggunaan bibit berkualitas dinilai menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit sejak awal musim tanam.

Melalui kolaborasi antara petani, pemerintah desa, penyuluh pertanian dan tenaga teknis dari BBPPTP Surabaya, diharapkan serangan penyakit ker-ker dan layu pada tembakau dapat ditekan. Pendekatan berbasis POC, PGPR dan pestisida nabati juga diharapkan mampu meningkatkan kesehatan tanaman, menjaga produktivitas tembakau serta mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan di Kabupaten Probolinggo. ***

Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info