Thursday, October 8, 2026
Depan > Kemasyarakatan > Ibnus Shabil dan Api Semangat Pemuda Kabupaten Probolinggo

Ibnus Shabil dan Api Semangat Pemuda Kabupaten Probolinggo

PROBOLINGGO – Di saat banyak orang berhenti setelah menang, Ibnus Shabil justru memilih melanjutkan perjalanan. Anak muda asal Kabupaten Probolinggo ini telah mencatatkan 179 kejuaraan tingkat nasional dan internasional. Namun baginya, angka itu bukan garis akhir.

“Mungkin orang mengenal saya karena 179 kejuaraan. Tapi bagi saya, itu bukan 179 kemenangan. Itu adalah ratusan proses belajar,” ujarnya.

Nama Ibnus Shabil sendiri bermakna musafir seorang pengelana. Dan filosofi itu tercermin dalam hidupnya. Ia tidak melihat prestasi sebagai tempat menetap, melainkan sebagai titik singgah sebelum melangkah lagi.

Ia tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai karakter di atas pencapaian. Dari ibunya, ia belajar ketekunan dalam diam. Dari ayahnya, ia memahami bahwa integritas lebih penting daripada tepuk tangan.

Perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Ia pernah kalah. Pernah ditolak. Pernah merasa tertinggal. Namun justru dari situ ia menemukan kekuatan.

Ibnus Shab dengan beberapa buku hasil karya tulisannya. (Foto : Istimewa)

“Identitas tidak dibangun dari kemenangan, tapi dari cara kita merespons kegagalan.”

Di tengah padatnya kompetisi, Shabil menemukan ruang sunyi bernama menulis. Bukan untuk popularitas, melainkan untuk berdialog dengan diri sendiri.

Buku pertamanya, Penyamun Kata di Kastil Malam, lahir dari kegelisahan yang ditulis dalam sunyi tengah malam. Buku itu menjadi simbol pencarian jati diri tentang suara yang sering kali hanya bisa didengar ketika dunia sedang diam.

Kemudian hadir Sweet Seventeen, refleksi tentang peralihan usia dan kesadaran akan tanggung jawab. Baginya, usia bukan sekadar angka, melainkan ukuran kedewasaan berpikir.

Di buku ketiga, Tentang Kita, ia menempatkan keluarga, guru dan sahabat sebagai rumah perjalanan. Ia menyadari, manusia tidak pernah tumbuh sendirian.
Dan pada fase berikutnya lahirlah Kismat buku tentang penerimaan. Tentang membedakan antara menyerah dan berdamai setelah berusaha maksimal.

“Kismat bukan tentang menyerah. Tapi tentang berdamai setelah memberikan yang terbaik,” ungkapnya.

Prestasinya kemudian membawanya dipercaya menjadi juri dan narasumber dalam berbagai ajang nasional, termasuk Brawijaya English Tournament dan Festival Bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya.

Beberapa buku hasil tulisan dari Ibnus Shabil. (Foto : Istimewa)

Namun ia tetap memegang satu prinsip sederhana. “Saya tidak sedang mengejar kesempurnaan. Saya sedang mengejar pertumbuhan,” terangnya.

Perjalanan Shabil mendapat apresiasi dari Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris, SE., MM., selaku Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo sekaligus Bunda Literasi Kabupaten Probolinggo.

“Teknologi boleh canggih, tapi kalianlah yang harus punya kendali. Jangan sampai terbalik, kalian yang dikendalikan. Menulis dan membaca adalah pondasi pendidikan. Jangan tinggalkan kebiasaan mendasar ini,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa anak-anak yang masih gemar membaca dan menulis adalah harapan masa depan daerah. “Kalian semua adalah inspirasi. Teruslah menjadi cahaya bagi generasi berikutnya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas menyebut keberhasilan Shabil sebagai bukti bahwa literasi daerah mampu melahirkan generasi berdaya saing.

“Kami terus mendorong tumbuhnya ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan. Sosok seperti Shabil menjadi inspirasi bahwa membaca dan menulis adalah investasi masa depan,” tuturnya.

Bagi Kabupaten Probolinggo, kisah Ibnus Shabil bukan hanya tentang banyaknya kejuaraan. Ia adalah tentang konsistensi, ketekunan dan keberanian untuk terus belajar.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa sering kita menang yang menentukan arah hidup, tetapi seberapa jauh kita bersedia terus berjalan. ***

Penulis : Haryo Rusdianto Susilo
Editor : Tim Bromo Info