DRINGU – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo mendorong seluruh satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memenuhi delapan indikator Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI). Penguatan dilakukan melalui Komunitas Belajar (Kombel) Kepala Satuan PAUD agar pemenuhan kebutuhan anak tidak hanya berhenti pada aspek pendidikan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pelaksanaan peningkatan pemenuhan 8 Indikator PAUDHI di Satuan PAUD melalui Komunitas Belajar (Kombel) Kepala Satuan PAUD. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Rabu (30/9/2026) dan Kamis (1/10/2026), di ruang pertemuan SMP Negeri 1 Dringu.
Kegiatan diikuti seluruh pengawas TK dan penilik PAUD se-Kabupaten Probolinggo serta 32 lembaga PAUD formal dan non formal yang dipilih sebagai role model. Lembaga tersebut nantinya diharapkan dapat melakukan pengimbasan praktik pemenuhan PAUD HI kepada satuan PAUD lainnya di Kabupaten Probolinggo.
Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono membuka kegiatan tersebut didampingi Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Amik Mutammimah.
Selama dua hari, peserta mendapatkan materi dari Sri Ayu, Siti Ari Mami dan Sri Wasis. Materi mencakup kebijakan Program PAUD HI 2026, penyelenggaraan kelas orang tua dan pemantauan kepemilikan NIK, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak serta pemberian PMT.
Materi lainnya meliputi penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyediaan sanitasi dan air bersih, koordinasi kesehatan dan gizi, keterampilan kepala satuan dalam mendukung kebutuhan esensial anak, praktik baik pemenuhan delapan indikator PAUD HI serta pemutakhiran Dapodik.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan refleksi. Kegiatan ditutup oleh Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Amik Mutammimah.
Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono mengatakan pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting bagi perkembangan anak. Karena itu, layanan PAUD tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik dasar, tetapi harus memastikan berbagai kebutuhan esensial anak terpenuhi. “Pendidikan anak usia dini adalah pondasi. Kalau pondasinya kuat, bangunannya akan kokoh,” katanya.
Menurut Hary, konsep PAUD saat ini harus bergerak dari sekadar pembelajaran baca tulis menuju PAUD Holistik Integratif. Anak yang datang ke satuan PAUD harus mendapatkan pemenuhan berbagai hak dasar yang mendukung tumbuh kembangnya.
“Hari ini kita tidak lagi bicara PAUD yang hanya mengajar baca tulis. Hari ini kita bicara PAUD Holistik Integratif (PAUD HI). Anak datang ke sekolah harus terpenuhi semua haknya, bukan hanya hak dididik,” jelasnya.
Hary menjelaskan, terdapat delapan indikator yang harus dipenuhi setiap satuan PAUD. “Indikator tersebut meliputi layanan kesehatan dasar, layanan gizi, layanan pengasuhan, layanan perlindungan, layanan kesejahteraan, layanan stimulasi pendidikan, peran serta orang tua dan masyarakat serta layanan pembinaan kelembagaan,” lanjutnya.
Pemenuhan seluruh indikator tersebut kata Hary, tidak dapat dilakukan oleh guru PAUD seorang diri. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Organisasi Perangkat Daerah terkait, puskesmas, pemerintah desa dan orang tua.

“Delapan indikator ini tidak mungkin bisa dipenuhi oleh guru PAUD sendirian. Harus ada kolaborasi, tidak hanya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang terlibat di dalamnya. Ada OPD terkait, keterlibatan Puskesmas, ada desa, harus ada orang tua,” urainya.
Sebelumnya, Disdikdaya juga telah mengundang OPD terkait untuk duduk bersama membahas pemenuhan indikator PAUD HI. Namun, penguatan internal satuan PAUD juga dinilai penting agar informasi dan praktik baik yang telah dilakukan dapat terus dikembangkan.
“Kombel digunakan sebagai salah satu strategi untuk mempercepat pemenuhan delapan indikator PAUD HI dengan pendekatan yang tidak hanya bersifat top down. Saya selalu tekankan, Kombel bukan kumpulan untuk arisan atau formalitas. Kombel adalah tempat kita belajar bersama, berbagi masalah dan mencari solusi bersama,” tegasnya.
Ia meminta Kombel menjadi ruang terbuka bagi kepala satuan PAUD untuk menyampaikan kondisi nyata di masing-masing lembaga. Jika masih terdapat indikator yang belum terpenuhi, persoalan tersebut diharapkan dibahas bersama untuk mencari solusi.
“Fokus pada pemenuhan indikator, bukan pemenuhan administrasi. Jangan sampai Rapor Pendidikan PAUD HI kita hijau semua di atas kertas, tapi kenyataannya anak masih ada yang tidak dapat PMT, tidak dapat imunisasi,” ujarnya.
Selain itu, seluruh kepala satuan PAUD diminta aktif mengikuti Kombel di tingkat kecamatan sehingga tidak ada satuan PAUD yang berjalan sendiri-sendiri. “Melalui Kombel, kepala satuan PAUD didorong untuk saling belajar, berbagi praktik baik dan saling menguatkan. Praktik terkait penyusunan RPPH PAUD HI, pemenuhan pemberian makanan tambahan (PMT) hingga membangun kerja sama dengan puskesmas dapat dibagikan antar satuan,” harapnya.

Hary juga meminta Bidang PAUD dan PNF mengawal tiga hal meliputi memastikan data delapan indikator dalam Dapodik terisi secara valid, mengaktifkan Kombel minimal satu kali dalam sebulan di setiap kecamatan serta membentuk satu PAUD HI percontohan di setiap kecamatan.
“Target kita di tahun 2026 ini, semua satuan PAUD di Kabupaten Probolinggo sudah bisa memenuhi minimal 6 dari 8 Indikator PAUD HI. Saya yakin, melalui Kombel ini target itu bisa tercapai. Karena kunci PAUD HI ada di Kepala Satuannya. Kalau Kepala Satuannya bergerak, gurunya bergerak, orang tuanya bergerak,” pungkasnya. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
