Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo melakukan deteksi dini faktor resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Bupati Probolinggo, Senin (21/8/2023).
Deteksi dini faktor resiko PTM ini diikuti oleh 225 orang dengan metode meliputi pemeriksaan tekanan darah, pengukuran berat badan dan tinggi badan, pengukuran lingkar perut serta pemeriksaan gula darah dan cholesterol.
Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, para staf ahli, para asisten serta sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Kantor Bupati Probolinggo.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan deteksi dini faktor resiko PTM ini dilakukan karena ASN sebagai abdi negara dan abdi masyarakat merupakan tugas utamanya adalah untuk melayani masyarakat secara prima.
“Deteksi dini faktor resiko PTM ini adalah salah satu cara kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Kesehatan terhadap ASN sebagai pelayan masyarakat agar selalu sehat dan prima dalam rangka melakukan tupoksinya sebagai ASN,” katanya.
Menurut Sekda Ugas, di saat melakukan deteksi dini faktor resiko PTM ini Pemerintah Kabupaten Probolinggo ingin mengetahui sejauh mana kondisi ASN. “Apabila ditemukan hal-hal yang sifatnya perlu untuk pendalaman atau mungkin perawatan, maka kita akan lakukan secepatnya sehingga ASN tetap tegar dan tetap prima dalam melayani masyarakat. Kita akan lakukan kegiatan ini secara rutin berkala paling tidak 1 bulan sekali,” tegasnya.
Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr Dewi Vironica menyampaikan saat ini PTM menjadi penyebab kematian utama sebesar 36 juta (63%) dari seluruh kasus kematian yang terjadi di seluruh dunia, di mana sekitar 29 juta (80%) justru terjadi di negara yang sedang berkembang (WHO, 2010).
“Pada awal perjalanan PTM seringkali tidak bergejala dan tidak menunjukkan tanda klinis secara khusus sehingga datang sudah terlambat atau pada stadium lanjut akibat tidak mengetahui dan menyadari kondisi kelainan yang terjadi pada dirinya,” ujarnya.
Dewi menjelaskan Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013 menunjukan bahwa 69,6% dari kasus diabetes melitus dan 63,2% dari kasus hipertensi masih belum terdiagnosis. Keadaan ini mengakibatkan penanganan menjadi sulit, terjadi komplikasi bahkan berakibat kematian lebih dini.
“Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan prevalensi penyakit stroke 12,1 per 1000, penyakit jantung koroner 1,5%, gagal jantung 0,3%, Diabetes Melitus 6,9%, gagal ginjal 0,2%, kanker 1,4 per 1000, penyakit paru kronik obstruktif 3,7% dan cidera 8,2%,” terangnya.
Menurut Dewi, PTM dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risikonya, yaitu merokok, diet yang tidak sehat, kurang aktifitas fisik dan konsumsi minuman
beralkohol. Mencegah dan mengendalikan faktor risiko relatif lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pengobatan PTM.
Pengendalian faktor risiko PTM merupakan upaya untuk mencegah agar tidak terjadi faktor risiko bagi yang belum memiliki faktor risiko, mengembalikan kondisi faktor risiko PTM menjadi normal kembali dan atau mencegah terjadinya PTM bagi yang mempunyai faktor risiko. Selanjutnya bagi yang sudah menyandang PTM, pengendalian
bertujuan untuk mencegah komplikasi, kecacatan dan kematian dini serta meningkatkan kualitas hidup,” jelasnya.
Lebih lanjut Dewi menegaskan salah satu strategi pengendalian PTM yang efisien dan efektif adalah pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat. Masyarakat diberikan fasilitas dan bimbingan untuk ikut berpartisipasi dalam pengendalian faktor risiko PTM dengan dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan deteksi dini, monitoring faktor risiko PTM serta tindak lanjutnya.
“Kegiatan ini disebut dengan Pos pembinaan terpadu (Posbindu) PTM yang merupakan wujud peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan monitoring faktor risiko PTM serta tindaklanjutnya yang dilaksanakan secara terpadu, rutin dan periodik. Kegiatan Posbindu PTM diharapkan dapat meningkatkan sikap mawas diri masyarakat terhadap faktor risiko PTM sehingga peningkatan kasus PTM dapat dicegah,” pungkasnya. (wan)
