Thursday, October 8, 2026
Depan > Kemasyarakatan > Terindikasi PMK, Segera Hubungi Petugas Teknis Peternakan dan Dokter Hewan

Terindikasi PMK, Segera Hubungi Petugas Teknis Peternakan dan Dokter Hewan

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Bagi para peternak pemilik sapi potong, sapi perah, domba, kambing, kerbau maupun babi, apabila menemukan tanda-tanda terindikasi terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) diminta segera menghubungi petugas teknis peternakan dan dokter hewan setempat.

“Apabila sapinya tidak mau makan, keluar banyak air dari mulutnya atau hipersalivasi, tidak bisa berdiri, di kukunya ada luka-luka, di mulutnya lesi-lesi seperti sariawan di gusi maupun lidahnya maka segera hubungi petugas teknis peternakan kecamatan maupun dokter hewan setempat,” kata Medik Veteriner Muda Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto.

Selanjutnya jelas Niko, segera pindahkan ternak dari kerumunan ternak yang lain atau lakukan isolasi terhadap ternak. Kemudian, semprotkan kandang dengan disinfektan dan bersihkan kandang dengan disinfektan. Yang penting selalu koordinasi dengan petugas teknis peternakan kecamatan maupun dokter hewan.

“Insya Allah nanti dokter hewan maupun petugas teknis peternakan kecamatan akan memberikan penanganan sesuai dengan gejalanya. Lalu diberikan obat-obatan dan vitamin supaya hewan itu tidak semakin lemah,” jelasnya.

Niko menerangkan, kukunya yang luka akan diberikan pengobatan di kukunya. Mulutnya kalau tidak mau makan bisa diberikan perasan air jeruk karena seperti orang sariawan. “Memang PMK ini adalah penyakit yang banyak ditakuti di dunia dan penyebabnya adalah virus,” terangnya.

Menurut Niko, virus itu tidak bisa disembuhkan oleh antibiotik atau vitamin yang lain. Peternakan di Indonesia itu kebanyakan adalah peternak rakyat, maka diperlukan higienis sanitasi di masyarakat yang selama ini rata-rata kurang baik. “Dikhawatirkan nanti ada infeksi sekunder, makanya perlu antibiotik dan pemberikan vitamin oleh petugas teknis peternakan dan dokter hewan di lapangan,” tegasnya.

Lebih lanjut Niko menjelaskan wabah PMK bukan hanya berdampak kepada pelaku usaha di bidang peternakan saja, tetapi juga meubel-meubel terkait dengan perusahan olahan kayu kalau mau ke luar negeripun mungkin akan mengalami gangguan dan hambatan. Sebab virus PMK ini bisa menempel dimana saja apalagi di kayu selama 398 hari.

“Penularan PMK bisa terjadi melalui udara dan apa saja. Tetapi virus PMK tidak tahan terhadap PH dibawah 6 dan PH diatas 9 akan mati,” tambahnya.

Niko menambahkan semua itu tergantung dari pada pemilik sapi atau hewan bagaimana setelah mendapatkan penanganan dari petuags teknis peternakan kecamatan maupun dokter hewan untuk merawat sapinya.

“Harus selalu menjaga kebersihan kandang. Kalau bisa untuk sementara air minum sapi yang biasanya diambilkan dari mana saja itu, air sumurnya diberikan kaporit supaya virusnya in aktivasi atau mati. Kalau bisa dikasih air hangat untuk minumnya karena masih sakit,” pungkasnya. (wan)