Depan > Informasi Layak Anak > SMPN 1 Pajarakan Berikan Trauma Healing Bagi Siswa Korban Ambruknya Jembatan Gantung

SMPN 1 Pajarakan Berikan Trauma Healing Bagi Siswa Korban Ambruknya Jembatan Gantung

Reporter : Syamsul Akbar
PAJARAKAN – Sejumlah siswa dan siswi SMPN 1 Pajarakan yang menjadi korban ambruknya jembatan gantung penghubung Desa Kregenan dan Desa Pajarakan Kulon mendapatkan Psychology First Aid ( PFA) dalam bentuk trauma healing, Senin (12/9/2022).

Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Probolinggo.

Dalam trauma healing yang dipandu oleh tenaga konselor PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) yang merupakan layanan pendampingan keluarga dari DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo ini, para siswa tampak riang mengikuti kegiatan yang dimulai pada pukul 10.00 WIB itu. Mereka terlihat sudah melupakan peristiwa jembatan ambruk tersebut.

Kepala SMPN 1 Pajarakan Arif Syamsul Hadi mengatakan trauma healing ini diikuti oleh 60 siswa. Mereka terbagi menjadi kelas perempuan dan kelas laki-laki. Dari 60 siswa tersebut, 30 siswa diantaranya merupakan korban terjatuh. Sedangkan sisanya adalah para siswa yang melihat peristiwa secara langsung.

“Meskipun tidak terjatuh, siswa yang melihat langsung peristiwa tersebut juga mengalami trauma. Oleh karena itu mereka pun juga mengikuti kegiatan trauma healing,” katanya.

Menurut Arif, sejak pagi dilakukan kegiatan non formal. Mulai dari dzikir, pembagian door prize dan kuis yang bertujuan untuk menghibur siswa supaya kembali semangat mengikuti mata pelajaran. “Jadi kita belajar santai di luar kelas,” katanya.

Terkait siswa dan guru yang masih menjalani perawatan di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Arif menyebutkan masih ada 4 orang. “Hingga saat ini masih ada 4 orang yang dirawat terdiri dari 1 guru dan 3 siswa,” tegasnya.

Sementara Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo Umi Setyowati mengungkapkan trauma healing ini dilakukan dengan metode konseling kelompok. Dimana 1 kelompok terdiri dari kurang lebih 15 orang siswa dengan 1 orang konselor.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan siswa sehubungan dengan kejadian tersebut dengan menggunanakan instrumen berupa Depresion Anxiety Stress Scale (DASS),” ungkapnya.

Umi menerangkan selain itu tujuan dari kegiatan ini adalah langkah awal untuk membantu mengatasi trauma dan mengembalikan kondisi psikologi siswa supaya kembali bersemangat melanjutkan kehidupan.

“Adapun rencana tindak lanjut dari kegiatan trauma healing ini adalah konseling lanjutan kepada siswa korban yang dinilai memiliki tingkat kecemasan yang cenderung tinggi terkait dengan kejadian jatuhnya jembatan gantung tersebut,” pungkasnya. (wan)