Depan > Kesehatan > Ratusan Ribu Sapi Potong Berpotensi Terancam Wabah PMK

Ratusan Ribu Sapi Potong Berpotensi Terancam Wabah PMK

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Sampai dengan Rabu (11/5/2022), ada 203 ekor sapi yang terduga terkena wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Probolinggo. Data tersebut diperoleh dari laporan petugas teknis peternakan yang ada di Kabupaten Probolinggo.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Probolinggo Yahyadi dalam rapat koordinasi (rakor) pengendalian dan penanggulangan wabah PMK di ruang pertemuan UPT Puskeswan DPKH Kabupaten Probolinggo, Rabu (11/5/2022).

“Potensi ternak terancam PMK berdasarkan populasi 2022 tribulan I untuk sapi potong sebanyak 312.932 ekor dan sapi perah 8.164 ekor. Untuk sapi potong tersebar di 24 kecamatan, namun yang sudah terindikasi sakit ada di Kecamatan Kuripan, Bantaran dan Wonomerto,” katanya.

Menurut Yahyadi, kewaspadaan terhadap wabah PMK ini perlu dilakukan karena penyebaran penyakitnya sangat cepat dan meluas mengikuti lalu lintas ternak dan produknya serta pengendaliannya sangat sulit dan membutuhkan biaya besar mulai dari pengobatan, vaksinasi serta operasional pengawasan lalu lintas ternak/produk hewan.

“Selain itu, kita harus waspada terhadap wabah PMK karena menimbulkan kerugian ekonomi sangat tinggi (penurunan berat badan, harga jatuh, pemasaran tertutup). Disamping terancam tidak tercapainya swasembada daging sapi/kerbau dan populasi ternak sapi menurun,” jelasnya.

Yahyadi menjelaskan langkah-langkah pengendalian dilakukan sesuai dengan arahan Menteri Pertanian RI dan Gubernur Jawa Timur pada rakor pengendalian PMK Jawa Timur serta arahan Dirjen PKH pada rakornas pengendalian PMK Nasional melalui zoom meeting pada 9 Mei 2022.

“Langkah-langkah pengendalian tersebut diantaranya pembentukan Satgas Kabupaten Pengendalian dan Penanggulangan PMK, menyediakan Posko Laporan di Tingkat Kabupaten hingga Desa, membuat Rencana Aksi Jangka Pendek (darurat) dan Jangka Panjang,” terangnya.

Selanjutnya, memaksimalkan peran petugas lapangan (dokter hewan, paramedik keswan, Inseminator petugas RPH) untuk memantau, mendata dan mengendalikan pergerakan kasus dari jam per jam/hari per hari serta mengisolasi ternak tertular dan menutup lalu lintas ternak/produk hewan dari daerah tertular.

“Serta memperketat pengawasan lalulintas ternak/produk hewan terutama di Pasar Hewan dan pemotongan di RPH, mengintensifkan KIE pengendalian dan penanggulangan wabah PMK dan menyiapkan anggaran dalam rangka mendukung kegiatan Pengendalian dan Penanggulangan wabah PMK,” tegasnya.

Yahyadi menerangkan petunjuk teknis pengendalian bagi Tim URC PMK DPKH Kabupaten Probolinggo meliputi survaillance, pengendalian ternak sakit dan area tertular serta penanganan wabah.

Untuk survaillance dilakukan secara aktif maupun pasif melakukan investigasi pendataan kasus (populasi sekitar, jumlah ternak terduga, nama pemilik, alamat, titik koordinat) dilanjutkan tracing/pelacakan kasus.

“Hasilnya dilaporkan segera 1×24 jam kepada koordinator isikhnas kabupaten melalui koordinator wilayah selanjutnya diteruskan laporan ke iSIKHNAS. Jika diperlukan dilanjutkan dengan pengambilan dan pengiriman sampel untuk uji laboratorium,” ujarnya.

Terkait pengendalian ternak sakit dan area tertular dilakukan dengan isolasi dan karantina, stamping out, dekontaminasi dan disposal.

“Untuk penanganan wabah, hewan diduga PMK tidak diijinkan untuk dipotong dan harus diisolasi, hewan didiagnosa PMK dapat dilakukan pengobatan supportif dan antibiotic, vaksinasi segera dilakukan sesuai petunjuk ototoritas veteriner kementerian/provinsi serta pemotongan ternak hanya dilakukan di RPH setelah dilakukan pemeriksaan antepost mortem dan dinyatakan boleh dipotong/potong bersyarat,” katanya. (wan)