Thursday, October 8, 2026
Depan > Pendidikan > Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo Asah Literasi dan Seni Bertutur Siswa SMPN 1 Banyuanyar Lewat Mendongeng

Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo Asah Literasi dan Seni Bertutur Siswa SMPN 1 Banyuanyar Lewat Mendongeng

BANYUANYAR – Kemampuan literasi siswa tidak hanya dituntut sebatas membaca, tetapi juga memahami, mengolah dan menyampaikan kembali informasi secara menarik. Hal tersebut menjadi fokus pelatihan mendongeng yang diikuti siswa SMP Negeri 1 Banyuanyar bersama Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo Hesthiyono Suko Adhi, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan bertajuk pembekalan seni tutur dan literasi tersebut diikuti puluhan siswa SMPN 1 Banyuanyar. Pelatihan diarahkan untuk memperkuat budaya literasi sekolah sekaligus membekali siswa dengan kemampuan menyusun sinopsis sebagai dasar sebelum membawakan cerita di atas panggung.

Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo Hesthiyono Suko Adhi menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. “Saya mengajak siswa memahami bahwa kemampuan mendongeng tidak hanya bergantung pada hafalan naskah, tetapi juga pada pemahaman terhadap alur dan konflik cerita,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Hesthiyono menekankan proses mendongeng perlu diawali dari sinopsis atau ringkasan cerita yang kuat. “Semua bermula dari sinopsis atau ringkasan cerita,” jelasnya.

Menurut Hesthiyono, naskah yang belum matang dapat membuat pendongeng kesulitan ketika tampil di hadapan penonton. Karena itu, siswa diarahkan menyusun alur cerita secara sederhana, jelas dan mudah diingat.

Siswa juga dibimbing memperhatikan komposisi antara narasi dan dialog, memilih konflik yang mampu menarik perhatian sejak awal serta memanfaatkan unsur onomatope atau tiruan bunyi dan kata-kata khas daerah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai bahan latihan, peserta diajak membedah dua contoh cerita. Pertama, kisah persahabatan anak dan penjaga alam dalam “Kode Hijau Alas Simpenan”. Kedua, legenda lokal mengenai asal-usul nama Desa Klenang yang menggunakan unsur tiruan bunyi gamelan, seperti “Ning….Nong….Klennang….Klennong”.

Dari contoh tersebut, siswa berlatih mengubah narasi panjang menjadi sinopsis yang lebih padat, menarik dan mudah diingat tanpa harus menghafalkan seluruh teks secara kata demi kata.

Salah satu siswa SMPN 1 Banyuanyar saat mendongeng dipandu Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo Hesthiyono Suko Adhi. (Foto : Dispersip)

“Kunci sinopsis yang baik adalah alur yang mengalir dan konflik yang jelas. Dengan begitu, jika di panggung kita lupa teks, alur cerita tetap terjaga dan kita mampu berimprovisasi dengan tenang,” tuturnya.

Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan materi performa panggung dan teknik vokal. Siswa diperkenalkan pada konsep olah suara 5P, yakni Pace, Pause, Pitch, Projection dan Pronunciation.

“Melalui latihan ini siswa mempraktikkan pengaturan tempo berbicara, penggunaan jeda dramatis, pengaturan nada, proyeksi suara hingga artikulasi. Para siswa juga diajak melakukan latihan vokal secara bersama-sama untuk membangun keberanian dan mengurangi rasa kaku ketika tampil di depan publik,” terangnya.

Selain suara, aspek ekspresi dan gerak tubuh turut menjadi perhatian. Siswa dikenalkan dengan penggunaan mimik wajah, gestur dan postur tubuh yang luwes serta natural. “Penggunaan properti dalam mendongeng juga diarahkan agar proporsional dan tidak mengganggu gerakan penutur,” lanjutnya.

Pada bagian akhir, peserta dan guru pendamping diperkenalkan dengan sejumlah komponen penilaian dalam lomba bertutur atau mendongeng. Aspek tersebut meliputi penampilan peserta, teknik bertutur, penguasaan materi, atribut pendukung termasuk improvisasi dan blocking panggung serta integrasi nilai karakter 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

“Melalui pelatihan ini, kemampuan literasi siswa diarahkan tidak berhenti pada aktivitas membaca. Siswa juga didorong mampu memahami isi cerita, merangkumnya menjadi gagasan yang utuh dan mengomunikasikannya dengan percaya diri,” tambahnya.

Sementara Kepala SMPN 1 Banyuanyar Suparno menyampaikan kecakapan literasi saat ini tidak hanya bertumpu pada kemampuan membaca pasif, melainkan bagaimana siswa mampu menyerap nilai cerita, merangkumnya serta mengkomunikasikannya kembali kepada khalayak secara percaya diri dan menarik.

“Kolaborasi antara sekolah dan Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo melalui kegiatan seni bertutur ini menjadi bagian dari upaya memperluas praktik literasi yang kreatif, komunikatif dan dekat dengan potensi siswa,” pungkasnya. ***

Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info