KURIPAN – Upaya menjaga kawasan hulu sebagai bagian dari mitigasi bencana banjir terus diperkuat di Kabupaten Probolinggo. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo bersama CSR PT Paiton Energy menyiapkan 3.150 bibit pohon produktif untuk penghijauan di tiga desa di Kecamatan Kuripan.
Program tersebut menjadi bagian dari monitoring dan evaluasi (monev) kesiapan program penghijauan CSR PT Paiton Energy bersama PMI Kabupaten Probolinggo yang dilaksanakan Kamis (27/8/2026). Monev dilakukan di wilayah Kecamatan Kuripan meliputi Desa Wringinanom, Desa Resongo dan Desa Karangrejo.
Sebanyak 3.150 bibit yang disiapkan terdiri atas 1.500 bibit pete dan 1.650 bibit alpukat, lengkap dengan bantuan pupuk. Penanaman direncanakan berlangsung pada awal November 2026 bertepatan dengan masuknya musim hujan, sehingga kondisi ketersediaan air diharapkan mendukung pertumbuhan bibit.
Lebih dari sekadar penghijauan, program ini dirancang sebagai langkah mitigasi bencana berbasis kawasan hulu dan hilir. Kecamatan Kuripan yang berada di wilayah hulu memiliki peran penting dalam menjaga daya resap tanah dan mengendalikan laju aliran air sebelum menuju kawasan hilir.
Sekretaris PMI Kabupaten Probolinggo Dewi Korina mengatakan menjaga kawasan hulu merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana yang dapat berdampak pada masyarakat di wilayah hilir.
“Kegiatan penghijauan di wilayah Kecamatan Kuripan ini merupakan bentuk komitmen PMI dalam upaya penanggulangan dan mitigasi risiko bencana, khususnya bencana banjir yang kerap menimpa wilayah hilir seperti Desa Kedungdalem dan Dringu. Kuripan ini kan wilayah hulu, jadi apa yang kita tanam di sini sangat berpengaruh pada keselamatan saudara-saudara kita di bawah,” ujarnya.

Menurut Dewi, penghijauan memang bukan solusi instan untuk mengatasi banjir. Namun, penanaman pohon menjadi bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk memperkuat kondisi lingkungan sekaligus membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kawasan hulu.
“Meskipun jumlah bibit yang kita tanam belum sepenuhnya menyelesaikan masalah banjir secara mendadak, ini adalah langkah nyata pergerakan bersama. Kami menyiapkan 1.500 bibit pete dan 1.650 bibit alpukat lengkap dengan pupuknya untuk tiga desa,” jelasnya.
Agar program tidak berhenti pada seremoni penanaman, PMI juga menyiapkan pola pemeliharaan dengan melibatkan masyarakat dan kelompok tani. Koordinator di masing-masing desa nantinya ikut memantau perkembangan tanaman sehingga keberadaan bibit dapat terjaga dalam jangka panjang.
“Rencananya penanaman dan dropping bibit dilaksanakan awal November 2026 bertepatan dengan masuknya musim hujan. Kita juga akan menunjuk koordinator di tiap desa agar tanaman ini tidak sekadar ditanam lalu ditinggalkan, tapi dipelihara sampai memberikan dampak lingkungan dan ekonomi bagi warga,” tegasnya.
Pemilihan pete dan alpukat juga menjadi bagian dari strategi agar penghijauan memberikan manfaat ganda. Selain membantu menjaga lingkungan, kedua tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi sehingga dalam jangka panjang dapat menjadi sumber tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Sementara Camat Kuripan Oon Hartono menyambut positif program tersebut. Ia menyampaikan apresiasi kepada PMI Kabupaten Probolinggo dan PT Paiton Energy yang telah memberikan perhatian terhadap upaya pelestarian lingkungan di wilayahnya.

“Kami atas nama Pemerintah Kecamatan Kuripan menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PMI Kabupaten Probolinggo dan PT Paiton Energy atas perhatiannya ke wilayah kami,” ungkapnya.
Menurutnya, antusiasme masyarakat dan kelompok tani menjadi modal penting dalam keberhasilan program penghijauan. Terlebih, tanaman yang dipilih tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga memberikan peluang ekonomi.
“Masyarakat dan kelompok tani di sini sangat antusias. Tanaman seperti pete ini sangat pas, selain akar dan pohonnya kuat menjaga tanah hulu dari erosi dan resapan air, buahnya punya nilai ekonomi tinggi yang bisa menambah penghasilan warga,” katanya.
Namun, Oon menekankan bahwa keberhasilan program juga sangat bergantung pada kesesuaian bibit dengan kondisi lingkungan setempat. Khusus tanaman alpukat, pemilihan varietas menjadi perhatian agar mampu tumbuh optimal di lahan Kecamatan Kuripan.
“Untuk tanaman alpukat, kami sarankan pemilihan varietas bibitnya benar-benar disesuaikan dengan kondisi tanah Kecamatan Kuripan. Pengalaman lalu ada yang bunganya gampang rontok. Kalau bibitnya cocok dan bisa tumbuh maksimal di Desa Resongo, Wringinanom dan Karangrejo, tentu manfaatnya luar biasa,” tuturnya.
Dari tingkat desa, dukungan terhadap program tersebut juga disertai dengan perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan. Kepala Desa Wringinanom Marwono mengatakan, penghijauan menjadi momentum untuk terus membangun kesadaran masyarakat agar tidak hanya menanam, tetapi juga menjaga pohon yang telah tumbuh.

“Penghijauan ini sangat kami butuhkan. Jujur saja, kesadaran menjaga lingkungan di masyarakat masih perlu terus didorong. Jika pohon terus berkurang, debit sumber mata air untuk pertanian dan air minum warga ikut mengecil. Program PMI ini jadi sarana edukasi penting agar warga mau menjaga lingkungan demi masa depan anak cucu,” ujarnya.
Sementara Kepala Desa Karangrejo Tinaksan menyoroti aspek teknis yang perlu diperhatikan agar bibit dapat tumbuh dan terpelihara dengan baik. Salah satunya adalah ketersediaan air di sejumlah titik lahan yang akan menjadi lokasi penanaman.
“Di Desa Karangrejo kendala utamanya adalah sumber air di beberapa titik lahan. Maka dari itu kami sarankan penanaman diprioritaskan di sekitar pemukiman warga yang dekat sumber air. Kalau dekat rumah, warga bakal lebih gampang menyiram, mengawasi dan merawat bibitnya,” jelasnya.
Harapan agar program penghijauan terus berlanjut juga datang dari masyarakat. Tinasan, warga Desa Resongo berharap bibit yang diberikan dapat tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
“Harapan kami bibit alpukat ini bisa tumbuh subur. Penghijauan seperti ini jangan berhenti sekali saja, tapi berkelanjutan. Manfaatnya bukan cuma buat sekarang, tapi buat anak cucu kami ke depan,” harapnya.
Program penghijauan di tiga desa tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang menanam ribuan pohon. Di baliknya terdapat upaya membangun ketahanan lingkungan dari kawasan hulu, memperkuat kepedulian masyarakat terhadap sumber mata air dan mengurangi potensi risiko bencana di wilayah hilir.

Dengan kolaborasi antara PMI, CSR PT Paiton Energy, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kelompok tani dan masyarakat, 3.150 bibit pete dan alpukat tersebut diharapkan tumbuh menjadi investasi lingkungan sekaligus investasi ekonomi bagi masyarakat Kecamatan Kuripan menjaga alam hari ini dan memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang. ***
Penulis : Haryo Rusdianto Susilo
Editor : Tim Bromo Info
