Depan > Kesehatan > Pemkab Gelar Workshop Protokol Ambulance Bagi Tenaga PSC dan Puskesmas

Pemkab Gelar Workshop Protokol Ambulance Bagi Tenaga PSC dan Puskesmas

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar workshop protokol ambulance bagi tenaga PSC dan puskesmas di ruang pertemuan Bimasena Paseban Sena Hotel dan Resort Probolinggo, Rabu dan Kamis (10-11/8/2022).

Kegiatan ini diikuti oleh 33 puskesmas (1 tim gawat darurat yang terdiri dari dokter, perawat/bidan dan driver) yang terdiri 17 puskesmas di sesi 1 dan 16 puskesmas di sesi 2 dan 6 (enam) orang Tim PSC-119 Kabupaten Probolinggo. Untuk sesi 2 akan dilaksanakan pada 23 dan 24 Agustus 2022.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari narasumber terdiri dari dr. Putra Agung Dewata, Sp.Em, dr. Jefri Efendi, Fuad Zulkarnai, A.Md.Kep dan Gigih Adetya Junaedi, S.Kep, Ners.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dr Dwi Indah Lestari mengatakan kegiatan ini digelar dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas petugas kesehatan saat pra hospital.

“Selain itu untuk menurunkan angka kecacatan dan kematian sebagai akibat pertolongan pertama dan tekhnik penanganan yang tidak optimal baik dalam keadaan sehari hari maupun pada saat bencana di Kabupaten Probolinggo,” katanya.

Dwi Indah menerangkan gawat artinya mengancam nyawa. Sedangkan darurat adalah perlu mendapatkan penanganan atau tindakan segera untuk menghilangkan ancaman nyawa korban. Jadi, gawat darurat adalah keadaan yang mengancam nyawa yang harus dilakukan tindakan segera untuk menghindari kecacatan bahkan kematian korban.

“Pertolongan pertama pada gawat darurat adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan pasien dari kematian,” jelasnya.

Menurut Dwi Indah, kondisi gawat darurat dapat terjadi dimana saja, baik pre hospital maupun in hospital ataupun post hospital. Pre hospital care adalah pelayanan sebelum masuk rumah sakit. Pre hospital care seringkali menjadi aspek yang terabaikan dalam sistem pelayanan kesehatan rumah sakit. Pelayanan pre hospital yang baik dapat mengurangi angka kematian sampai 50%.

“Dengan diadakannya worskhop protokol ambulance bagi tenaga PSC dan puskesmas diharapkan petugas kesehatan memiliki kompetensi tambahan dalam melakukan pelayanan pra hospital, baik dalam keadaan sehari-hari maupun bencana, sehingga angka kematian atau kecacatan yang disebabkan oleh penanganan yang tidak optimal dapat diminimalisir dan pasien dapat berada dalam kondisi yang optimal saat tiba di fasilitas rujukan untuk kemudian dilakukan penanganan lanjutan,” pungkasnya. (wan)