Sunday, November 29, 2020
Depan > Informasi Layak Anak > Pemkab Berikan Pelatihan Guru Pembimbing Khusus Sekolah Inklusif

Pemkab Berikan Pelatihan Guru Pembimbing Khusus Sekolah Inklusif

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) memberikan pelatihan guru pembimbing khusus sekolah inklusif di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kraksaan, Senin hingga Sabtu (21-26/9/2020).

Kegiatan ini diikuti oleh 75 orang peserta yang dibagi dalam 2 (dua) gelombang untuk mencegah penyebaran COVID-19. Gelombang pertama diikuti 38 orang peserta pada Senin hingga Rabu (21-23/9/2020) dan gelombang kedua diikuti 37 orang peserta pada Rabu hingga Sabtu (24-26/9/2020).

Pelaksanaan pelatihan guru pembimbing khusus ini menerapkan protokol kesehatan secara ketat mulai dari pengukuran suhu tubuh, sering mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir, memakai masker serta menjaga jarak aman.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi kebijakan tentang pendidikan inklusif, konsep pendidikan inklusif, analisis KUDA, ragam ABK, konsep PBS, identifikasi kesulitan disabilitas fungsional dan kebutuhan alat bantu, kemampuan dan kelebihan serta dukungan dan pendampingan yang diperlukan, informasi medis dan program pembelajaran, penyusunan PBS, strategi dan adaptasi pembelajaran, penyusunan RPP, penilaian pembelajaran serta praktik penyusunan RPP.

Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi melalui Kepala Bidang Pembinaan SD Sri Agus Indariyati mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan bagi guru pendamping, karena setiap anak mempunyai kekurangan yang berbeda. Tentunya penanganannya pasti berbeda.

“Cara menangani anak kebutuhan khusus yang pada umumnya yang lamban belajar, terutama di literasi dan numerasi. Penanganan anak yang berkebutuhan khusus bermacam-macam, ada tuna netra, tuna wicara, tuna rungu dan lain sebagainya,” katanya.

Menurut Sri Agus, setiap sekolah yang ada di Kabupaten Probolinggo harus menerima anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sehingga harapannya semua SD adalah sekolah inklusif. Sebelumnya sudah terbentuk sebanyak 24 sekolah inklusif dan bertambah 51 sekolah inklusif sehingga totalnya 75 sekolah inklusif.

“Menangani anak-anak di sekolah inklusif ini harus mempunyai empati dan kasih saying yang tinggi. Karena memang anak berkebutuhan khusus perlu perhatian lebih. Oleh karena itu, kami harapkan semua sekolah bisa menjadi sekolah inklusif dan mau menerima anak-anak berkebutuhan khusus sehingga tidak harus ke SLB (Sekolah Luar Biasa),” jelasnya.

Dengan adanya kegiatan ini Sri Agus mengharapkan guru pendamping ini bisa lebih bersemangat menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. Selain itu, guru-guru bertambah ilmunya karena menangani anak-anak berkebutuhan khusus itu berbeda dan tidak sama dengan yang lainnya.

“Guru-guru itu harus mempunyai kreatifitas. Dengan demikian anak-anak yang lamban belajarnya bisa mengikuti literasi dan numerasi, minimal bisa berhitung. Harapan kami guru pendamping bisa membuat soal-soal khusus dan tidak sama dengan anak-anak yang normal. Kalau untuk sarana dan prasarana pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus sudah kami sediakan. Prinsip kami adalah pendidikan untuk semua,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal