KRAKSAAN – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA Kabupaten Probolinggo mendorong guru tidak hanya meningkatkan kompetensi mengajar, tetapi juga mampu melahirkan gagasan perubahan di sekolah. Upaya tersebut diwujudkan melalui seminar rancangan proyek transformasi kepemimpinan sekolah di SMP HATI BBS (Bilingual Boarding School) Kraksaan, Selasa (15/9/2026).
Sebanyak 74 anggota MGMP IPA mengikuti seminar yang menghadirkan dua guru yang baru menyelesaikan diklat Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) APBN Tahun 2026 diantaranya Ely Setyowati selaku Plt. Kepala SMPN 2 Sumberasih dan Minahur Rohman selaku guru SMPN 1 Krucil.
Keduanya memaparkan rancangan proyek transformasi kepemimpinan sekolah yang dikembangkan berdasarkan persoalan nyata di lingkungan sekolah masing-masing.
Seminar dibuka Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Like Lidyawati. Ia mengapresiasi MGMP IPA yang dinilai aktif dan produktif dalam mendorong guru untuk terus belajar serta menghasilkan gagasan yang berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Like juga menekankan pentingnya Hari Belajar Guru bersama MGMP sebagai bagian dari budaya belajar dan pengembangan profesional guru. Dalam kesempatan tersebut, Disdikdaya juga memperkenalkan program literasi “JEJAK LENTERA” berupa penulisan cerpen secara daring.
Salah satu gagasan yang dipaparkan adalah PASTEL KoE atau Transformasi Kepemimpinan Sekolah Berwawasan Lingkungan melalui PASTEL KoE yang dirancang Ely Setyowati untuk SMP Negeri 2 Sumberasih. Program tersebut mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan pengalaman belajar murid melalui pengolahan dan pemilahan sampah, termasuk komposting dan ekobrik.
“Yang ditekankan bukan sekadar bagaimana sekolah membersihkan sampah, tetapi menjadikan persoalan sampah sebagai bagian dari proses pembelajaran. Murid didorong untuk mengamati, memilah, mengolah, menghasilkan, mengomunikasikan, merefleksikan hingga membangun kebiasaan,” jelasnya.

Rancangan PASTEL KoE juga menempatkan murid sebagai salah satu aktor utama perubahan. Sementara kepala sekolah diarahkan berperan sebagai penggerak, fasilitator, coach dan pembangun ekosistem belajar.
Proyek kedua adalah BEST (Bilingual Ecosystem for School Transformation) yang dipaparkan Minahur Rohman untuk SMP Negeri 1 Krucil. BEST berangkat dari persoalan rendahnya penguasaan kosakata dasar bahasa Inggris siswa, minimnya praktik komunikasi menggunakan bahasa Inggris serta munculnya rasa takut atau stigma ketika siswa mencoba berbicara dalam bahasa tersebut.
“Melalui BEST, sekolah diarahkan membangun ekosistem yang membuat siswa lebih berani menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.
Strateginya antara lain membangun komitmen warga sekolah, membentuk Tim Penggerak BEST, melakukan studi tiru, memanfaatkan aplikasi Duolingo sebagai media belajar mandiri, menerapkan 15 minutes English talk serta mengembangkan berbagai aktivitas untuk membangun budaya bilingual.
“Dua rancangan ini memperlihatkan bahwa transformasi kepemimpinan sekolah dapat dimulai dari persoalan yang benar-benar dihadapi sekolah. Perubahan tidak berhenti pada kebijakan kepala sekolah, tetapi membutuhkan keterlibatan guru, murid dan seluruh warga sekolah,” tegasnya.
Seminar tersebut sekaligus memperkuat posisi MGMP IPA Kabupaten Probolinggo sebagai ruang belajar bersama. Forum guru tidak hanya menjadi tempat bertukar materi pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca persoalan sekolah, berbagi praktik baik dan merancang solusi yang dapat memberikan dampak berkelanjutan.
“Melalui gagasan seperti PASTEL KoE dan BEST, guru didorong mengambil peran lebih besar dalam perubahan sekolah. Kepemimpinan pendidikan pun tidak semata-mata dipahami sebagai urusan administratif, tetapi sebagai kemampuan membaca masalah, menggerakkan kolaborasi dan memastikan perubahan benar-benar dirasakan murid,” pungkasnya. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
