Thursday, October 8, 2026
Depan > Kemasyarakatan > KTNA Krejengan Dilatih Perbanyakan Trichoderma Cegah Penyakit Tembakau

KTNA Krejengan Dilatih Perbanyakan Trichoderma Cegah Penyakit Tembakau

KREJENGAN – Upaya mendorong pertanian berkelanjutan terus dilakukan melalui pelatihan perbanyakan jamur Trichoderma sp untuk mencegah penyakit tular tanah pada tanaman tembakau yang digelar di rumah anggota KTNA Supardi Desa Patemon Kecamatan Krejengan, Kamis (4/6/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 30 anggota Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) se-Kecamatan Krejengan ini menghadirkan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya Ika Ratmawati, POPT Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Kamaluddin Harahap, Kepala Desa Patemon serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Krejengan.

Dalam pelatihan tersebut, para petani mendapatkan materi sekaligus praktik langsung mengenai teknik perbanyakan jamur Trichoderma sp menggunakan media jagung giling. Agen hayati ini dikenal efektif dalam menekan perkembangan patogen penyebab penyakit tular tanah pada tanaman tembakau.

Penyampaian teknis inokulasi pengembangan jamur Trichoderma oleh POPT Pangan Hortikultura. (Foto : POPT Perkebunan)

Petugas POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menyampaikan Trichoderma sp berfungsi sebagai jamur antagonis yang mampu melindungi tanaman dari serangan penyakit seperti layu fusarium dan busuk batang.

“Penggunaan agen hayati ini efektif untuk mencegah penyakit seperti layu fusarium dan busuk batang, terutama jika diaplikasikan sejak awal masa tanam di persemaian maupun saat pindah tanam ke lahan. Jamur Trichoderma ini ibarat imunisasi untuk keamanan tanah dan tanaman tembakau,” ujarnya.

Sementara POPT Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Kamaluddin Harahap memandu praktik inokulasi jamur sekaligus menjelaskan pentingnya proses sterilisasi media dan penyimpanan yang tepat.

Praktek inokulasi jamur Trichoderma dipandu POPT Pangan Hortikultura. (Foto : POPT Perkebunan)

“Penggunaan media yang steril serta kondisi penyimpanan yang lembab akan mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan kualitas jamur Trichoderma yang dihasilkan petani,” ungkapnya.

Koordinator PPL Kecamatan Krejengan Muhammad Mustajib menyampaikan kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap inisiatif petani dalam mencari solusi permasalahan budidaya secara mandiri dan ramah lingkungan.

“Kegiatan ini akan kami dorong menjadi agenda rutin bulanan agar petani tidak hanya belajar, tetapi juga mampu memproduksi sendiri kebutuhan sarana pertanian berbasis hayati,” katanya.

Praktek inokulasi jamur Trichoderma pada media jagung dipandu POPT Pangan dan Hortikultura. (Foto : POPT Perkebunan)

Ketua KTNA Kecamatan Krejengan Imam Wahyudi mengaku pelatihan tersebut sangat bermanfaat bagi petani tembakau yang selama ini sering menghadapi masalah tanaman layu setelah dipindahkan ke lahan.

“Kami sangat terbantu dengan pelatihan ini karena saat musim tanam tembakau, banyak petani mengeluhkan tanaman mudah layu setelah pindah tanam. Melalui praktik ini, kami mendapatkan solusi yang dapat langsung diterapkan di lapangan,” urainya.

Salah seorang petani asal Desa Opo-opo Hasan yang telah menggunakan Trichoderma sp pada usaha pembibitannya, mengaku merasakan manfaat nyata dari penggunaan agen hayati tersebut. “Sekarang kami bisa membuat sendiri. Biaya lebih hemat dan hasil panen juga meningkat,” jelasnya.

Foto bersama hasil pengembangan jamur Trichoderma di KTNA Kecamatan Krejengan. (Foto : POPT Perkebunan)

Melalui pelatihan ini, petani di Kecamatan Krejengan diharapkan semakin mandiri dalam mengembangkan teknologi pertanian ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada bahan kimia serta meningkatkan produktivitas tanaman tembakau secara berkelanjutan. ***

Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info