Depan > Kemasyarakatan > Disperindag Fasilitasi Percepatan Menuju IKM Mandiri

Disperindag Fasilitasi Percepatan Menuju IKM Mandiri

Reporter : Syamsul Akbar
PAJARAKAN – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo terus berupaya memberikan fasilitasi untuk mendukung percepatan menuju IKM Mandiri di Kabupaten Probolinggo.

Dengan dukungan dari unsur legislatif, Plt Kepala Disperindag Kabupaten Probolinggo Moh. Natsir bersama anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Wahid Nurrahman melakukan kunjungan ke tempat pembuatan mesin paving dan batako dan pembuatan sosis di Desa Selogudig Wetan Kecamatan Pajarakan.

Kedatangannya disambut oleh Kepala Desa Selogudig Wetan Terpilih Bagus Budi Prayoga bersama dengan Juwaini Sheerif selaku pembuat mesin paving dan batako dan Asumairi Abdillah selaku pembuat sosis.

Plt Kepala Disperindag Kabupaten Probolinggo Moh. Natsir mengatakan selama ini pihaknya selalu mendukung penuh demi perkembangan dan kemajuan sektor IKM yang ada di Kabupaten Probolinggo.

“Untuk percepatan menuju IKM mandiri ini kita lakukan dengan memfasilitasi dalam hal makanan berupa proses perijinan dari BPOM serta dalam rangka bantuan peralatan baik oleh Disperindag maupun CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan,” katanya.

Terkait dengan pembuatan sosis Natsir menjelaskan hingga saat ini IKM tersebut masih belum ada ijin edarnya. Sehingga pemasaran produknya masih terbatas pada pasar lokal saja.

“Sementara ini selain mendatangkan produk sosis, dia juga produksi sendiri. Tentunya ini sebuah peluang yang sangat besar agar bisa dikembangkan dengan baik. Jika sudah memiliki ijin edar, maka produknya bisa dijual secara lebih luas lagi,” jelasnya.

Menurut Natsir, kunjungannya kepada dua IKM tersebut adalah untuk memberikan motivasi supaya produknya bisa keluar Kabupaten Probolinggo. Oleh karena itu, mereka membutuhkan tambahan perijinan lagi untuk mendukung pemasaran produknya.

“Untuk IKM pembuatan sosis ini kita lihat masih membutuhkan pembenahan lagi agar produknya bisa diminati pasar. Baik itu kemasan, higienisnya maupun peralatan yang masih kurang banyak. Disamping juga proses perijinan edarnya,” terangnya.

Natsir menjelaskan kedua IKM ini terlihat sangat semangat sekali dalam membuat produknya, hanya saja masih terbentur dengan peralatan yang masih kurang dan ijin edarnya.

“Produk yang kadaluarsanya lebih dari 7 hari maka harus ada ijin edar dari BPOM. Selain itu, kalau edarnya sudah keluar Kabupaten Probolinggo, maka butuh peralatan banyak. Oleh karena itu butuh fasilitasi dan pendampingan baik dari Pemerintah Daerah maupun CSR perusahaan,” pungkasnya. (wan)