Thursday, October 8, 2026
Depan > Kesehatan > IBI Berikan Pelatihan Midwifery Update

IBI Berikan Pelatihan Midwifery Update

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Pengurus Cabang Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Probolinggo memberikan pelatihan midwifery update di Hotel Bromo View Kota Probolinggo, Jum’at hingga Minggu (1-3/7/2022).

Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang yang merupakan anggota IBI Kabupaten Probolinggo. Mereka dipandu narasumber terdiri dari dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anak, Fasilitator MU dari P2KP Kabupaten Probolinggo serta Fasilitator MU PD IBI Jawa Timur.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi gambaran umum, perkembangan profesi bidan dan kebijakan terkini terkait kebidanan, etikolegal dalam pelayanan kebidanan, adaptasi pelayanan kebidanan(KIA-Kespro) di masa pandemi, updating pelayanan antenatal terpadu dan updating asuhan kegawatdaruratan maternal.

Selanjutnya, updating asuhan bayi baru lahir, bayi, balita dan anak pra sekolah, updating asuhan nifas dan pelayanan kontrasepsi, updating asuhan persalinan normal, pedoman pendidikan berkelanjutan bagi bidan/Continnuing Profesional Development (CPD) pendidikan berkelanjutan, updating asuhan kegawatdaruratan neonatal serta asuhan kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono mengatakan dengan adanya pelatihan MU ini nantinya ada peningkatan pengetahuan dan ketrampilam bidan dalam mendukung percapatan penurunan AKI, AKB dan stunting.

“Profesi IBI mempunyai peranan penting dalam peningkatan kualitas hidup ibu dan anak dalam membantu pemerintah dalam mewujudkan generasi unggul menuju Indonedia maju,” katanya.

Sementara Ketua IBI Cabang Kabupaten Probolinggo Nuryati mengungkapkan pelatihan MU ini bertujuan untuk menjaga mutu serta meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan
kompetensi bidan dengan informasi terkini sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas terhadap kesehatan ibu, bayi, balita dan kespro termasuk pelayanan KB.

“Pelatihan ini dikemas dengan menggunakan metode yang lebih interaktif dan secara komprehensif mengenai update perkembangan kebijakan, pelayanan, pendidikan, standar profesi, etika dan organisasi profesi bidan di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Nuryati, pelatihan MU harus diikuti oleh seluruh anggota IBI untuk mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta kepatuhan terhadap kode etik. Pelatihan MU penting dilaksanakan mengingat adanya dinamika perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebijakan.

“Perkembangan IPTEK termasuk Revolusi Industri 4.0 mendorong semua pemberi pelayanan kesehatan termasuk bidan untuk dapat beradaptasi dengan meningkatkan kualitas pelayanan dan melaksanakan perannya secara optimal serta berperan aktif dalam tim pelayanan kesehatan (Interprofessional Health Providers) serta bidan dapat bersaing baik dalam negeri maupun di pasar bebas/global,” jelasnya.

Nuryati menerangkan era yang selalu berkembang disertai dengan persaingan global membutuhkan bidan berwawasan dan berpendidikan yang memenuhi standar global, dengan critical thinking yang kuat. Sehingga dibutuhkan pengembangan SDM bidan secara komprehensif, berjenjang dan berkesinambungan.

“Bidan membutuhkan pengetahuan, keahlian dan kemampuan yang selalu update serta mampu beradaptasi dengan perkembangan IPTEK/kebijakan terbaru salah satunya dapat dilakukan melalui pelatihan MU,” tegasnya.

Lebih lanjut Nuryati menambahkan materi yang akan di update antara lain kebijakan terkait profesi bidan, etikolegal dalam pelayanan kebidanan, pelayanan Antenatal Care (ANC) terpadu, Asuhan Persalinan Normal (APN), asuhan kegawatdaruratan maternal dan neonatal, nifas dan kontrasepsi, asuhan Bayi Baru Lahir (BBL), memahami Simulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (sdidtk) neonatus, bayi dan balita.

“Harapannya bidan mampu meningkatkan keterampilan dan kompetensi bidan sehingga dapat memberikan pelayanan berkualitas terhadap kesehatan ibu, bayi, balita dan kespro termasuk pelayanan KB sesuai dengan perkembangan terkini berdasarkan evidence based practice serta zero kematian maternal dan neonatal,” pungkasnya. (wan)