Friday, September 17, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Hindari Penutupan Pabrik Gula, Sediakan Bahan Baku Tebu

Hindari Penutupan Pabrik Gula, Sediakan Bahan Baku Tebu

Reporter : Syamsul Akbar
DRINGU – Salah satu penyebab ditutupnya Pabrik Gula (PG) oleh Kementerian BUMN karena dianggap sudah tidak efisien dalam memproduksi gula. Padahal potensi tebu di Kabupaten Probolinggo sangat bagus sekali. Oleh karena itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo mulai mengembangkan kembali tanaman tebu dengan harapan bisa menyediakan bahan baku bagi PG untuk menghindari penutupan.

“Kita upayakan agar tanaman tebu kembali dikembangkan. Memang kalau dari APBD Kabupaten Probolinggo tidak ada. Tetapi kita mengusulkan dalam APBD Provinsi Jawa Timur dan APBN,” kata Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Mahbub Zunaidi melalui Kepala Bidang Perkebunan Nurul Komaril Asri.

Menurut Nurul, karena lokasinya berada di Kabupaten Probolinggo maka pihaknya dalam hal ini DKPP melalui Bidang Perkebunan memberikan pendampingan dan fasilitasi. “Intinya kita menghindari penutupan PG. Sebab kalau PG itu ditutup, maka iklim mikro disitu seperti penjual kecil juga akan terdampak. Karena dengan tidak giling maka perekonomian masyarakat juga kena dampaknya,” jelasnya.

Nurul menerangkan pihaknya saat ini sudah mendapatkan bantuan melalui dana APBD Provinsi Jawa Timur dan APBN. Untuk yang APBD Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Probolinggo mendapatkan bantuan berupa Warung Tebu dalam bentuk Kebun Bibit Datar (KBD) seluas 2 hektar yang ditanami 4 varietas di Kelompok Tani Makmur Jaya Mangar Desa Pendil Kecamatan Banyuanyar. Meliputi PS 862, Vmc 7616, Vmc 865 dan N114T.

“KBD itu nanti rencananya tebu ditanam lagi, 6 bulan kemudian menjadi tebu giling. Tebu KBD dua hektar itu bisa menjadi 7 hingga 8 dan dikalikan 2 hektar sehingga menjadi 14 hingga 16 hektar,” terangnya.

Sementara yang dari APBN terang Nurul diperoleh dari Direktorat Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian RI dengan pelaksana Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Pihaknya baru mengusulkan CPCL (Calon Peserta Calon Lokasi) dan dapat jatah 250 hektar Bongkaratun dan 500 hektar Rawat Ratun.

“Sekarang kita sedang mempersiapkan CPCL-nya. Kalau bantuannya sudah dapat, tetapi ini prosesnya penyusunan CPCL-nya. Untuk mendapatkan barang ini memang CPCL-nya dulu yang harus dikirimkan. Rencananya nanti akan difokuskan di Kecamatan Banyuanyar, Maron, Sumberasih dan Gending. Untuk ini kita dapat bantuan benih, HOK, pupuk organik dan obat-obatan,” tegasnya.

Nurul menjelasnya untuk bantuan dari Provinsi Jawa Timur benihnya yang dari Warung Tebu itu diambil dari benih bersertifikat Kebun Pusat Penelitian (Puslit) Sukosari Lumajang dibawah PTPN XI. Tetap memang saat ini masyarakat masih tidak mau menanam tebu karena terkendala dengan harga yang sudah ditentukan oleh pemerintah, harga sewa tanah tinggi serta kuota pupuk bersubsidi yang dikurangi.

“Pembatasan pupuk bersubsidi maksimal lahan 2 hektar itu menjadi kendala mengapa masyarakat tidak mau menanam tebu. Kalau panennya memang selama ini selalu diambil oleh PG. Bahkan kalaupun tidak diambil pabrik swasta mau menerima. Hanya saja kita tidak boleh ke swasta dan harus ke PG,” ujarnya.

Nurul menegaskan tanaman tebu itu butuh waktu 14 bulan agar bisa panen. Oleh karena itu petani membandingkan analisas taninya dengan tanaman lain. Sehingga banyak petani yang akhirnya menanam tanaman pangan atau hortikultura.

“Kalau benihnya berasal dari Kebun Puslit Sukosari Lumajang sudah jelas asal usulnya dan bersertifikat. Tentunya ini sudah pasti hasilnya bagus. Rata-rata biasanya hanya 10 kwintal, tapi ini produktivitasnya bisa mencapai 100 kwintal per hektar,” pungkasnya. (wan)