Reporter : Mujiono
SUKAPURA – Dalam rangka memeriahkan HUT ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus sebagai upaya untuk melestarikan seni budaya tradisional, Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian berkolaborasi dengan masyarakat Tengger menggelar Pertunjukan Rakyat (Pertura) “Festival Jaranan Tengger, Rabu (30/8/2023).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Heri Sulistyanto, Plt. Asisten Administrasi Umum Hudan Syarifuddin, Kepala Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Yulius Christian, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Sugeng Wiyanto dan Forkopimka Sukapura.
Turut hadir, anggota DPRD Kabupaten Probolinggo yang juga sesepuh masyarakat Tengger Supoyo.
Festival yang dilaksanakan di Desa Jetak ini melibatkan lima kelompok kesenian Reog dan Jaranan Tengger. Lima kelompok tersebut adalah Jaranan Wahyu Tunas Budaya dari Desa Jetak, Jaranan Langgeng Buwono dari Desa Ngadisari, Jaranan Singo Budoyo Desa Wonotoro, Jaranan Desa Ngadas dan Jaranan Putro Budhoyo Desa Ngadirejo.
Sementara Desa Sapikerep juga ikut berpartisipasi memeriahkan festival tersebut meskipun tidak menampilkan kelompok jaranan.
Festival yang baru pertama kali digelar itu mendapat sambutan antusias dari warga masyarakat Tengger di wilayah selatan Kecamatan Sukapura. Pasalnya, kesenian reog dan jaranan Tengger sudah menjadi kesenian tradisional yang disukai oleh semua generasi di kalangan masyarakat Tengger dan selalu ditunggu penampilannya di berbagai kesempatan.
Suasana festival semakin meriah sebab digelar setelah pelaksanaan karnaval masyarakat Tengger di Sukapura dalam rangka memeriahkan HUT ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada festival tersebut, tiap kelompok kesenian jaranan menampilkan atraksinya yang sanggup menghibur dan memukau penonton. Meskipun festival berlangsung hingga petang, namun penampilan tiga orang penyanyi tradisional (sinden) cukup mampu menghangatkan suasana.
Kepala Desa Jetak Ngantoro menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang ikut mendukung terselenggaranya festival jaranan di Desa Jetak. Jika selama ini tiap desa yang memiliki kelompok jaranan tampil sendiri-sendiri, dengan adanya festival tersebut mereka bisa saling bertemu dan tampil bersama.
“Ini adalah bukti nyata kerukunan masyarakat Tengger. Dengan festival ini kita bisa bertemu dan berkolaborasi. Harapannya, seni budaya adat Tengger ini tidak punah dan dapat terus dilestarikan,” ujarnya.
Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Supoyo menegaskan siap mengawal jika masyarakat Tengger senang dan ingin festival semacam ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun.
Sementara Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Probolinggo Yulius Christian sangat bersyukur kesenian reog dan jaranan Tengger dapat dikemas dan dikolaborasikan dalam bentuk festival.
“Mudah-mudahan acara semacam ini dapat dilaksanakan secara terus menerus. Kali ini kita mengawali di Desa Jetak, mudah-mudahan untuk tahun berikutnya dapat dilaksanakan di desa lain,” ujarnya.
Asisten Pemerintahan dan Kesra Heri Sulistyanto berharap kesenian jaranan dapat terus berkembang semakin baik. “Tidak hanya kesenian jaranan tapi juga kesenian yang lain semakin berkembang dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.
Sebagai penutup, semua kelompok jaranan tampil bersama, berkolaborasi melakukan flash mob jaranan yang oleh masyarakat Tengger disebut Kepang Dor. (y0n)
