Depan > Kesehatan > Dinkes Lakukan Vaksinasi Massal Difteri Warga Desa Gili Ketapang

Dinkes Lakukan Vaksinasi Massal Difteri Warga Desa Gili Ketapang

Reporter : Syamsul Akbar
SUMBERASIH – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo melakukan vaksinasi massal difteri atau ORI (Outbreak Response Immunization) bagi seluruh warga yang ada di Desa Gili Ketapang Kecamatan Sumberasih.

“Vaksinasi massal difteri ini kita lakukan khusus di Desa Gili Ketapang karena ada satu kasus dan kasus tersebut walaupun sudah dilakukan pertolongan secara maksimal sebagaimana SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ada, tetapi saat kondisinya mulai pemulihan kemudian terus memburuk dan meninggal dunia,” kata Plt Sekretaris Dinkes Kabupaten Probolinggo Mujoko.

Dengan data itulah jelas Mujoko, akhirnya dilakukan suatu penyelidikan epidemologi dan sekaligus dilakukan pemetaan terhadap faktor-faktor risiko dan rekomendasi Provinsi Jawa Timur untuk dilakukan ORI atau imunisasi massal bahasa umumnya.

“Dari situ langkah Dinas Kesehatan dengan cepat untuk mendapatkan SK Penetapan KLB (Kejadian Luar Biasa) dari Bapak Plt Bupati Probolinggo. Naskah itu sudah kita terima dan kegiatan tersebut terus kita lakukan terkait dengan vaksinasi difteri,” jelasnya.

Mujoko menjelaskan sebetulnya kalau target 5 hari paling lambat 6 hari dengan total populasi 8.268 orang vaksinasi massal difteri ini selesai. Tetapi kenyataannya sudah hampir berjalan 10 hari belum juga kunjung selesai. Hal ini perlu penguatan dari lintas sektor utamanya ini leading sektornya kalau sudah KLB ada Dinas Kesehatan sebagai pelaksana lapangan.

“Tapi leading sektor untuk penguatan dan sebagainya dari instansi terkait mulai dari kecamatan, TNI/Polri dan pemerintah desa harus saling bersinergi untuk bagaimana masyarakat tersebut mau datang ke pos-pos yang kita buka atau mau dilakukan imunisasi dengan model door to door,” terangnya.

Tetapi prinsip awal strategi yang Dinkes lakukan terang Mujoko adalah membuka tujuh pos dengan petugas dari Puskesmas Sumberasih dan kader dengan analisis dari tujuh pos tersebut setidak-tidaknya sehari masing-masing pos 300 orang yang tervaksinasi difteri. Ini suatu upaya untuk membendung jangan sampai terjadi penyebaran yang luas karena difteri penyebarannya cepat melalu droplet dan memang secara epidemologi kalau ada satu kasus seperti halnya difteri.

“Difteri ini termasuk kasus-kasus PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi) dan itu dikatakan KLB. Tindakannya ada dua opsi apakah dilakukan vaksinasi pada kelompok tertentu saja namanya BLF atau Back Lock Fighting hanya melokalisir saja atau vaksinasi total populasi. Tapi rekomendasinya total populasi sehingga kita harus semua segera selesaikan,” ujarnya.

Hingga Jum’at (18/3/2022) malam, warga Desa Gili Ketapang yang sudah divaksinasi difteri mencapai 3.300 orang sehingga masih kurang lebih sekitar 5.000 orang. Harapannya kecepatan dukungan dari semua lintas sektor yang ada disana sehingga pelaksanaan vaksin difteri bisa cepat.

“Karena kalau kami lihat bagaimana kondisi lingkungannya, tempat pemukiman dan sebagainya ini kalau dilakukan total populasi dilakukan imunisasi sangat tepat dan seharusnya secara teori 4 hingga 5 hari sudah selesai paling lambat. Sebab penduduknya jaraknya tidak terlalu jauh-jauh sehingga kita buka beberapa pos di beberapa RT itu sudah bisa diakses dengan baik,” tegasnya.

Mujoko menerangkan ini perlu penguatan dan dukungan masyarakat. Jika penguatan dan dukungan masyarakat itu tidak bersama-sama tidak akan tidak kuat. Akhirnya ada masyarakat yang mau dan tidak dan sebagainya.

“Tenaga kalau dari Puskesmas Sumberasih door to door semua tidak akan mampu. Padahal tim sudah diturunkan sebagai vaksinator di lapangan ada 40 orang. Itu tim yang sangat besar dan itu secara teori cukup. Ini kalau terlalu lama juga tidak baik terkait dengan strategi percepatan vaksinasi secara massal tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut Mujoko mengharapkan dengan vaksinasi massal ini setidak-tidaknya bisa terkendali dan bisa terkonrtrol terkait dengan penyebaran tersebut. Harapannya semoga tidak ada penyebaran lagi dan tidak ada kasus-kasus lagi yang ada disana.

“Kalau kami ikuti, daerah sana itu resiko endemi dari tahun ke tahun selalu ada saja. Terakhir tahun 2018 dan tahun 2022. Tahun sekarang ini sudah dilakukan upaya maksimal di rumah sakit juga masih meninggal dunia dan ini yang menjadi perhatian khusus karena difteri perkembangannya lebih cepat dan yang diserang adalah saluran pernapasan. Gejala-gejalanya mirip batuk pilek sebagaimana biasa dan harus diwaspadai,” tambahnya.

Oleh karena itu Mujoko mengharapkan masyarakat juga bisa merespon. Begitu sakit segera periksa ke tenaga kesehatan yang ada atau fasilitas kesehatan serta puskesmas. Sehingga dari awal bisa dideteksi secara dini.

“Semua usia bisa berpotensi terpapar difteri baik anak-anak maupun dewasa. Tetapi kecenderungan pada anak-anak sampai usia 7 tahun yang paling rentan. Kelompok-kelompok ini kalau kami lihat sebatas imunisasinya memang sebetulnya di Gili Ketapang itu baik. Analisis sementara mungkin faktor mobilisasi penduduknya karena penduduknya nelayan sehingga sempat bersentuhan dengan orang karier dan pulang ke rumah akhirnya ada yang rentan terpapar,” pungkasnya. (wan)