Monday, December 6, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Dirapid Test, Ditemukan Reaktif ODP

Dirapid Test, Ditemukan Reaktif ODP

Reporter : Syamsul Akbar

KRAKSAAN – Saat ini Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 426 orang dengan keterangan 98 orang dalam pemantauan, 324 orang selesai dipantau dan 4 orang meninggal dunia. Semua ODP yang masih dalam pemantauan ini menjalani rawat jalan dengan rincian 3 orang di RSUD Tongas dan 95 orang tersebar pada 33 wilayah kerja puskesmas di 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo.

“Dari 98 ODP ini sempat dirapid test dan ditemukan reaktif dari ODP. Tetapi tidak semua ODP dirapid, karena kebijakan diawal tidak walaupun bisa untuk dilakukan rapid test. Namun terakhir sesuai dengan kebijakan Ibu Bupati, semua ODP langsung dirapid,” ujar Juru Bicara Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto, Senin (4/5/2020).

Demikian pula dengan kasus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) jelas Anang, saat ini terdapat 17 orang yang masih dalam perawatan dengan rincian 3 orang ada di rumah sakit swasta dan 14 orang ada di RSUD Tongas.

“Dari 17 orang ini sudah diswab dan hasilnya 4 orang negatif. Jadi terbukti, walaupun dia PDP tetapi tidak selalu ada hubungannya dengan virus Corona. Sekali lagi, tidak semua PDP itu Corona. Untuk sisanya kita masih menunggu hasilnya dari BPTKL Surabaya,” jelasnya.

Oleh karena itu terang Anang, PDP ini bisa berkaitan dengan virus Corona dan bisa tidak berkaitan dengan virus Corona. Kenapa PDP? Mereka adalah orang dengan keluhan yang ditandai dengan keluhan-keluhan gangguan infeksi paru-paru, bisa sesak napas yang frekuensi napasnya cepat melebihi 30 kali per menit.

“Selama ini terjadi kematian yang signifikan dari kasus PDP. Semua ini harus disikapi secara klir karena ada bisa saja kita berpikir ini berkaitan dengan virus Corona, tetapi yang saya lihat kasus-kasus ini ada usia-usia yang diatas 60 tahun itu ada sekitar 4 orang. Jadi sebenarnya, penyakit-penyakit mendasar cukup berat baik dengan kanker, payudara dan lain sebagainya,” terangnya.

Selain itu terang Anang, kematian PDP ini banyak terjadi pada usia produktif dan usia anak. Sebagian ada sekitar 5 orang kasusnya ada pasien-pasien yang B24 atau HIV/AIDS. Jadi sebelumnya yang bersangkutan terkena penyakit HIV/AIDS. Apakah meninggalnya karena HIV/AIDS atau corona, masih belum bisa dipastikan. Karena mereka datang sudah terlambat. Ada yang sempat dirapid dan hasilnya negatif, tetapi ada beberapa yang masih belum sempat dirapid.

“Tetapi sesuai dengan kebijakan satgas, semua PDP dianggap sebagai pasien infeksius sehingga protokol pemakamannya dilakukan dengan protokol pemakaman dengan orang-orang infeksi penyakit dengan serius. Sehingga pemakamannya seperti yang sering dilihat dengan APD lengkap dan lain sebagainya. Jadi itu adalah protokol untuk wabah kasus-kasus infeksius,” pungkasnya. (wan)