Depan > Kemasyarakatan > Dinsos Evakuasi ODGJ Untuk Ditampung di Rumah Singgah Sementara

Dinsos Evakuasi ODGJ Untuk Ditampung di Rumah Singgah Sementara

Reporter : Mujiono
BANTARAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Sosial (Dinsos) melakukan evakuasi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Desa Legundi Kecamatan Bantaran untuk ditampung ke rumah singgah sementara di Kecamatan Dringu, Senin (9/5/2022).

Dinsos melakukan penanganan atas dasar laporan dari Kepala Desa Legundi Kecamatan Bantaran bahwa ada orang terlantar berinisial Mr X dengan gangguan jiwa yang meresahkan warga. Orang tersebut sering berteriak-teriak, bahkan mencuri barang-barang warga.

ODGJ berusia sekitaran 23 tahun itu sudah lama berdiam di Desa Legundi Kecamatan Bantaran. Oleh karena itu, Dinsos terus melakukan koordinasi dengan pihak Puskesmas Bantaran dan Polsek Bantaran untuk memastikan keberadaan dan kondisi sebenarnya.

Selanjutnya ODGJ yang membutuhkan penanganan khusus itu dibawa ke rumah singgah/shelter/tempat tinggal sementara diantarkan oleh Perangkat Desa Legundi dan anggota Polsek Bantaran untuk ditindaklanjuti dan membutuhkan penanganan pelayanan perlindungan yang nantinya akan dirujuk ke RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Kabupaten Malang.

Kepala Dinsos Kabupaten Probolinggo Achmad Arif mengatakan pemerintah berkewajiban menangani warga yang tidak mampu, tetapi bukan pengasuhannya secara keseluruhan. Kecuali untuk yang betul-betul tidak mempunyai keluarga.

“Penyandang ODGJ harus disembuhkan kondisi mental/jiwanya. Bahkan petugas dari Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo juga melakukan pendekatan dan bimbingan psikososial bagi keluarganya,” katanya.

Arif meminta bagi keluarga terdekat dan lingkungan masyarakat dikondisikan oleh pekerja sosial dengan dukungan tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk bisa bersikap menerima, memaklumi dan ikut serta mengkondisikan eks ODGJ untuk pulih mentalnya. “Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo berharap ada sinergitas penanganan PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial) dengan instansi terkait sesuai kewenangannya masing-masing,” jelasnya.

Menurut Arif, ODGJ merupakan salah satu kategori PPKS atau karena tidak dapat melaksanakan fungsi sosial sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya (jasmani, rohani, sosial) secara memadai dan wajar.

“Selama ini penanganan ODGJ hanya difokuskan pada rehabilitasi mental/jiwa dengan terapi atau obat kimia sebagai penenang, dibandingkan dengan penanganan ketika ODGJ dinyatakan stabil oleh Dokter Spesialis Jiwa dan dibolehkan pulang dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ),” tegasnya.

Arif menambahkan seringkali pihak keluarga tidak siap menerima kembali anggota mereka yang sudah keluar dari rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Faktor yang memicunya adalah pihak keluarga merasa terbebani dan timbul rasa malu dengan tetangga.

“Melakukan pengawasan dan merawatnya bagi anggota keluarga tidak dilakukan lantaran merasa takut. Keadaan ini tidak boleh dibiarkan terjadi karena akan mempersulit eks ODGJ untuk memulihkan mental/jiwanya,” pungkasnya. (y0n)