Depan > Kesehatan > Jangan Panik, PMK Pada Ternak Bisa Sembuh

Jangan Panik, PMK Pada Ternak Bisa Sembuh

Reporter : Syamsul Akbar
DRINGU – Hingga Selasa (10/5/2022) pukul 14.30 WIB, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Probolinggo mencatat dari populasi kandang sapi sebanyak 144 ekor, sebanyak 143 ekor sakit terduga oleh Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan 7 ekor sembuh. Untuk populasi terancam sebanyak 78.600 ekor yang berasal dari 41 peternak tersebar di Kecamatan Wonomerto, Kuripan dan Bantaran.

Walaupun demikian, DPKH meminta agar masyarakat khususnya peternak tidak perlu panik. Pasalnya PMK ini bisa sembuh setelah diisolasi selama 14 hari sejak pertama kali terdeteksi PMK. Apabila ada sapi yang terdeteksi PMK, tindakannya harus dipisah dari hewan yang lain. Tetapi virus ini tidak menular kepada manusia karena bukan zoonosis.

“Jangan panik (panic selling) dengan adanya PMK yang menyerang ternak. Sebab Allah menciptakan penyakit ini pasti ada solusinya. Kalaupun ada yang mati, itupun kemungkinan bukan karena PMK. Bisa jadi karena kurang makan. Apabila ada sapi yang mati harus divisum dulu sehingga diketahui mati karena virus, kurang pakan atau yang lainnya,” kata Kepala DPKH Kabupaten Probolinggo Yahyadi.

Menurut Yahyadi, kasus PMK ini ditemukan karena ada penyisiran kasus yang dilakukan oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan mengambil sample 8 ekor sapi. “Dari hasil swab yang keluar hari Senin tanggal 9 Mei 2022 kemarin, 7 ekor positif dan 1 ekor negatif,” jelasnya.

Dari 7 ekor yang positif pada tanggal 9 Mei 2022 jelas Yahyadi, pada tanggal 10 Mei 2022 hingga pukul 14.30 WIB, sudah menunjukkan kesembuhan. Dari 7 ekor, tinggal 1 ekor yang masih dikarantina.

“Alhamdulillah, yang 6 ekor ada tanda kesembuhan dengan edukasi baik secara medis maupun non medis. Secara medis disuntik untuk kesehatan dengan vitamin B Complex. Untuk non medis dikasih jamuan empon-empon ditambah telur dan madu supaya menambah nafsu makannya,” terangnya.

Yahyadi menjelaskan PMK pada ternak ini bisa sembuh dengan catatan ada vaksinasi selama 2 kali dengan jenjang waktu 3 hari. Setelah hari ke-14 bisa terdeksi kesembuhannya. Disamping vaksinasi, maka ada pemberian suplemen vitamin-vitamin seperti vitamin B Complex khusus untuk HTG atau Hewan Tanpa Gejala. “Pemberian pola pakan itu harus pakan hijauan dicacah dulu agar si sapi mudah untuk memakan dan melumahnya,” ujarnya.

Disamping itu terang Yahyadi, peternak itu secara tidak langsung kalau dilihat secara logika apa yang dilakukan peternak khususnya yang diambil samplenya sudah melakukan tindakan sendiri. Dari hasil kajian ilmunya itu secara logika masuk akal. Sebab sebelum divaksin karena masih menunggu 2 bulan lagi, peternak sudah memberikan jamuan-jamuan yang secara logika masuk dalam kategori penyembuhan.

“Kalau penyakitnya ada di mulut itu diberikan jamuan berupa empon-empon seperti kunyit dan sereh. Jika di kuku diberikan kapur gamping. Itulah yang sudah dilakukan peternak. Makanya jangan panik supaya tidak menjadi kepanikan publik yang berlebihan akhirnya dimanfaatkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab,” pintanya.

Yahyadi mencontohkan, ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab datang kepada peternak yang menyampaikan jika ternaknya terdeteksi PMK maka tidak akan sembuh dan harus segera dijual.

“Setelah mau dijual dengan harga tidak layak dengan 50 persen, kasihan peternak yang menunggu musim kurban. Karena menunggu musim kurban ini merupakan tabungan atau cicilan untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan menjual ternaknya,” ungkapnya.

Lebih lanjut Yahyadi menegaskan bahwa adanya kasus PMK ini tidak perlu melakukan penutupan pasar hewan. Pasalnya PMK ini perlu diantisipasi dengan by name by addres yang hasilnya tangkas atau agile. Perlu adanya pengawasan ketat terhadap ternak yang terduga dan terinfeksi PMK. Namun ini perlu regulasi hukum agar petugas yang bertugas bisa standby di tempat masuk ternak.

“Bagi ternak terinfeksi PMK, maka hrus dibawa pulang dan dilakukan penyembuhan disana. Karena ini yang berbahaya dalam hal penularan dari pada di kandang-kandang. Kemungkinan sapi ini yang terkena ini tidak terjual, namun mobilnya sudah terdeteksi oleh ternak tersebut. Maka ternak yang sembuh kalau mau dijual akan terinfeksi dan berbahaya,” pungkasnya. (wan)