Monday, May 20, 2024
Depan > Kesehatan > Dinkes Gelar Pertemuan Koordinasi Penguatan Capaian Program IVA

Dinkes Gelar Pertemuan Koordinasi Penguatan Capaian Program IVA

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar pertemuan koordinasi penguatan capaian program IVA di Paseban Sena Probolinggo, Selasa (7/11/2023).

Kegiatan ini diikuti oleh 66 orang Pengelola Program PTM dan Bidan Pusksmas se-Kabupaten Probolinggo. Selama kegiatan mereka dipandu narasumber dr. Lalita Eka Pervita Sari,M.Ked.Klin, Sp.OG dan Dinkes Kabupaten Probolinggo.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengatakan kanker leher rahim adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama (vagina).

“Menurut data Globocan 2012 didapatkan estimasi insiden kanker leher rahim di Indonesia sebesar 17 per 100.000 perempuan. Kanker ini terjadi karena infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada perempuan usia reproduksi. Infeksi dapat menetap, berkembang menjadi dispasi atau sembuh sempurna,” katanya.

Menurut Dewi, pengobatan kanker serviks pada stadium lebih dini, hasilnya lebih baik, mortalitas akan menurun. “Dengan masalah yang begitu kompleks, timbul gagasan untuk melakukan skrining kanker serviks dengan metode yang lebih sederhana, antara lain yaitu dengan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), sedangkan secara lebih teliti menggunakan Papsmear,” jelasnya.

Dewi menjelaskan proses terjadinya kanker leher rahim sangat erat hubungannya dengan proses metaplasia. Masuknya mutagen yang dapat mengubah perangai sel secara genetik pada saat fase aktif metaplasia dapat berubah menjadi sel yang berpotensi ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di daerah transformasi. Sel yang mengalami mutasi disebut sel displastik dan kelainan epitelnya disebut displasia.

“Lesi displasia disebut lesi prankanker yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan IVA, yaitu pemeriksaan dengan cara mengamati dengan menggunakan spekulum, melihat leher rahim yang telah di pulas dengan asam asetat 3-5%. Pada lesi prakanker akan menampilkan bercak putih/aceto white epitelium,” terangnya.

Lebih lanjut Dewi menegaskan target pemeriksaan IVA adalah 130.569, akan tetapi pemeriksaan IVA yang telah dilakukan hanya sejumlah 2.665 atau 2,04%. Tidak tercapaiknya target pemeriksaan IVA disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut, yaitu sulitnya membaca lesi IVA, kurangnya petugas, masyarakat takut untuk memeriksakan dan lain sebagainya.

“Salah satu hal yang paling banyak dikeluhkan oleh petugas puskesmas, terkait dengan pembacaan hasil IVA, sehingga untuk memperkuat capaian IVA diperlukan adanya pelatihan untuk pembacaan hasil pemeriksaan IVA. Dimana kemampuan untuk membaca ini diperlukan ketelitian lebih,” pungkasnya. (wan)