Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Pendidikan dan pelatihan (diklat) calon kepala sekolah yang digelar oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo resmi berakhir pada Sabtu (4/12/2021) di Orin Hall & Resto Probolinggo.
Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial (PPPPTK PKN dan IPS) dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah (LPPKSPS) ini dimeriahkan dengan Gelar Karya oleh para calon kepala sekolah.
Diklat calon kepala sekolah ini diikuti oleh 40 orang peserta. Mereka sudah mengikuti pelatihan selama 300 jam pelajaran dengan narasumber dari Dispendik Kabupaten Probolinggo, PPPPTK PKN dan IPS serta pengajar tunggal di kelas. Penilaian mencakup 3 aspek meliputi sikap, pengetahuan dan ketrampilan.
Penutupan diklat calon kepala sekolah yang ditandai dengan pelepasan tanda peserta secara simbolis ini dihadiri oleh Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi, Ketua PPPPTK PKN dan IPS Subandi, perwakilan dari LPPKSPS, pengajar serta para mentor.
Kegiatan ini diawali dengan peninjauan hasil gelar karya para calon kepala sekolah oleh Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi dan Ketua PPPPTK PKN dan IPS Subandi bersama LPPKSPS, pengajar dan mentor.
Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi mengungkapkan saat ini kehidupan manusia sudah masuk di era revolusi industri 4.0. Artinya, seluruh kebutuhan manusia dipenuhi oleh digitalisasi. Apa yang menjadi karya dari para calon kepala sekolah ini juga bagian dari perkembangan di era revolusi industri 4.0.
“Tetapi kita tidak hanya hadir di era revolusi industri 4.0 saja, tetapi kita juga hadir di sebuah zaman yang dikenal dengan society 5.0. Dimana masyarakat harus mampu menyelesaikan permasalahan hidup dengan akal dan hatinya. Ini yang menjadi pembeda manusia dengan yang lain. Society 5.0 ini artinya mempunyai akal dan hati dalam menyelesaikan permasalahan,” ungkapnya.
Menurut Rozi, hal ini juga berlaku dalam proses pembelajaran terhadap anak didiknya. Artinya, dalam proses pembelajaran pastikan menggunakan akal dan hati. Karena apa yang berasal dari hati akan sampai juga ke hati. “Jangan kaku dengan aturan yang ada, utamakan nilai-nilai religius dan perasaan dalam proses pembelajaran terhadap anak didiknya,” jelasnya.
Rozi menerangkan tentunya di kehidupan abab 21 ini ada 4 jenis kompetensi yang harus dimiliki meliputi berpikir kritis, ketrampilan berkomunikasi, kreatifitas dan kolaborasi. Semua itu merupakan sebuah keniscayaan yang harus dimiliki di abad 21.
“Tetapi ingat, kita menjadi jembatan bagi anak didiknya menuju ke zamannya dengan kunci kemanfaatan. Menjadi guru bukan hanya sekedar mengajar tapi lebih dari lebih itu memberikan edukasi bagaimana menggambarkan anak didik kita hidup pada zamannya nanti menjadi manusia yang bermanfaat. Itu tidak bisa tidak harus menggunakan akal dan pikiran kita,” terangnya.
Lebih lanjut Rozi menegaskan bahwa peserta didik itu adalah ciptaan Allah SWT yang menggunakan hati dan akal. Dalam proses pembelajaran begitu juga. “Jadilah kita ulil albab dan melahirkan ulil albab. Generasi yang menggunakan akal dan pikirannya sehingga mampu mengarungi kehidupan di zaman society 5.0,” tegasnya.
Rozi mengharapkan agar semua peserta calon kepala sekolah ini bisa lulus 100%. “Performance itu tidak hanya fisik saja, tetapi penampilannya ini yang lebih penting. Mudah-mudahan semua peserta ini tidak hanya sekedar lulus, tetapi apa yang didapatkan ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah,” ujarnya.
Sementara Ketua PPPPTK PKN dan IPS Subandi mengaku sangat senang melihat hasil karya yang dilakukan oleh para calon kepala sekolah. Diharapkan hasil karya ini bisa segera diangkat dan diimplementasikan dengan baik. “Fenomena sekarang banyak sekali perubahan-perubahan,” katanya.
Subandi menegaskan kepala sekolah tingkat SD maupun SMP harus banyak membaca dan melihat website dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi(Kemendikbudristek) RI agar mengetahui setiap perubahan yang dilakukan oleh Kemendikbudristek.
“Kalau zamannya sudah informasi dan teknologi, maka didiklah anak sekarang dengan menggunakan informasi dan teknologi. Didiklah anak itu sesuai dengan zamannya. Saya harapkan hasil karya ini tidak hanya berada di ruangan ini saja, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pasca pelatihan ini bisa ditularkan dan diimplementasikan ke teman-teman sejawatnya,” tegasnya.
Menurut Subandi, guru sekarang harus lebih banyak belajar dan belajar. Setiap orang menjadi guru dan setiap ruang menjadi sekolah bagi guru. “Saya berpesan ketika sudah dilantik menjadi kepala sekolah, jangan lupa untuk selalu komitmen, koordinasi, komunikasi dan kontrol,” pungkasnya. (wan)
