Thursday, October 8, 2026
Depan > Kesehatan > Cegah Stunting, Dinkes Lakukan Penguatan Taman Posyandu

Cegah Stunting, Dinkes Lakukan Penguatan Taman Posyandu

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo melakukan penguatan taman posyandu dalam upaya pencegahan stunting di Kabupaten Probolinggo, Senin (15/8/2022).

Kegiatan ini diikuti oleh 33 orang pelaksana Promkes Puskesmas, 33 puskesmas dan Kabupaten Probolinggo. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi konsep dasar Taman Posyandu, evaluasi pelaporan promkes dan PM, instrumen promosi dan PM serta diskusi penyusunan kejakan dan SOP promkes dan PM dari Dinkes Kabupaten Probolinggo.

Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda pada Dinkes Kabupaten Probolinggo Sri Rusminah mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan penguatan Taman Posyandu dalam rangka pencegahan stunting di Kabupaten Probolinggo. “Paling tidak peserta memahami konsep Taman Posyandu dan instrumen promkes dan PM,” ujarnya.

Menurut Sri Rusminah, data stunting di Kabupaten Probolinggo pada tahun 2019 menurun menjadi 16,37% atau 13.206 dari 80.665 balita yang ditimbang, dengan menyisakan 5.569 balita yang tidak ditimbang. Sedangkan untuk tahun 2020 data ini kembali menurun menjadi 16,24% atau 12.833 dari sebanyak 79.497 balita yang ditimbang.

“Salah satu upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo adalah meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat melalui penguatan Taman Posyandu dalam rangka penurunan stunting di Kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Sementara Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo Sri Wahyu Utami mengatakan stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya.

“Tidak jarang masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun,” katanya.

Sri Wahyu menerangkan berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4% atau 5,33 juta balita. Prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.

“SSGI 2021 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan tidak hanya memberikan gambaran status gizi balita saja, tetapi juga dapat digunakan sebagai instrumen untuk monitoring dan evaluasi capaian indikator intervensi spesifik maupun intervensi sensitif baik di tingkat nasional maupun kabupaten/kota yang telah dilakukan sejak 2019 dan hingga tahun 2024,” pungkasnya. (wan)