SURABAYA – Potensi Kawasan Industri Gending Kabupaten Probolinggo mendapat perhatian dalam East Java Investment Forum (EJIF) 2026 di Grand City Surabaya, 1–2 Oktober 2026. Investment Project Ready to Offer (IPRO) Kawasan Industri Gending yang ditampilkan melalui booth Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menjadi salah satu materi promosi investasi yang membuka komunikasi dengan calon investor.
Pemkab Probolinggo melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) memanfaatkan forum tersebut untuk memperkenalkan potensi dan peluang investasi daerah kepada dunia usaha.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala DPMPTSP Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi bersama jajaran melakukan promosi dan membangun komunikasi dengan calon investor. Turut hadir pula Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Probolinggo Kristiana Ruliani beserta staf.
EJIF 2026 sendiri mempertemukan pemerintah, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan strategis. Forum tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, pimpinan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur, Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Timur serta perwakilan Konsulat Jenderal.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi mengatakan Kawasan Industri Gending ditawarkan dengan nilai indikatif investasi sekitar Rp4,8 triliun dengan luas kawasan sekitar 400 hektare. Potensi tersebut menjadi salah satu daya tarik yang dipromosikan Pemkab Probolinggo dalam forum investasi tingkat Jawa Timur tersebut.
“Dari sisi konektivitas, kawasan ini memiliki posisi strategis karena berada sekitar 10 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Tembaga dan terhubung dengan jaringan jalan tol Trans-Jawa,” katanya.
Menurut Joko, pengembangan Kawasan Industri Gending diarahkan untuk mendukung sejumlah sektor industry. Di antaranya kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), elektronik, pengolahan logam serta industri berorientasi ekspor.

“Melalui booth IPRO ini, calon investor dapat memperoleh informasi secara langsung mengenai potensi kawasan, peluang investasi, konektivitas, tata ruang hingga skema pengembangan Kawasan Industri Gending,” jelasnya.
Sejumlah komunikasi dan penjajakan juga dilakukan dengan pihak-pihak yang memiliki ketertarikan terhadap pengembangan kawasan industri. Komunikasi tersebut menjadi tahap awal bagi Pemkab Probolinggo untuk membuka pembahasan lebih lanjut terkait peluang investasi di kawasan tersebut.
“Keikutsertaan Kabupaten Probolinggo dalam EJIF 2026 menjadi bagian dari strategi memperluas jejaring promosi investasi sekaligus mendekatkan informasi peluang usaha daerah kepada calon investor,” terangnya.
Joko menegaskan, promosi investasi tidak berhenti pada keikutsertaan dalam forum, tetapi harus dilanjutkan dengan menindaklanjuti setiap peluang yang muncul. Pemkab Probolinggo akan terus memperkuat komunikasi dengan pihak yang menunjukkan minat terhadap peluang investasi dengan mengedepankan kemudahan berusaha, kepastian tata ruang dan perizinan serta kesiapan daerah dalam mendukung pengembangan investasi.
“Bagi Kabupaten Probolinggo, forum ini menjadi ruang untuk memperkenalkan Kawasan Industri Gending secara lebih luas sekaligus membuka peluang komunikasi langsung dengan calon investor,” tegasnya.
Dengan nilai indikatif investasi sekitar Rp4,8 triliun dan luas kawasan sekitar 400 hektare, IPRO Kawasan Industri Gending diharapkan dapat menjadi salah satu peluang pengembangan investasi baru di Kabupaten Probolinggo.
“Jika penjajakan yang dilakukan dapat berlanjut ke tahap pembahasan dan kerja sama konkret, pengembangan kawasan tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi serta membuka peluang lapangan kerja melalui pengembangan kawasan industri yang terintegrasi,” pungkasnya. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
