Depan > Kemasyarakatan > Asdep Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Bahas Masalah Harga Jagung

Asdep Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Bahas Masalah Harga Jagung

Reporter : Syamsul Akbar
DRINGU – Sekarang ini harga komoditas jagung lumayan sangat tinggi. Hal ini tentunya membuat petani senang. Akan tetapi di sisi lain peternak berteriak karena harga pakan jagung naik, sementara hasil telur harganya masih rendah.

Menyikapi kondisi tersebut, Asisten Deputi (Asdep) Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Muhammad Saifulloh melakukan kunjungan ke Kabupaten Probolinggo, Senin (4/10/2021).

Kunjungan untuk membahas permasalahan jagung ini dipusatkan di ruang pertemuan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini juga mendatangkan pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Bulog, BPS, Gapoktan dan kelompok tani.

Asdep Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Muhammad Saifulloh mengatakan kedatangannya di Kabupaten Probolinggo untuk mengetahui permasalahan jagung ini seperti apa sebenarnya.

“Kita datang kesini untuk mengambil sample mengenai permasalahan harga jagung yang tinggi. Nantinya sample ini akan kita bawa ke Jakarta untuk dicocokkan dengan sample dari beberapa daerah lain,” katanya.

Menurut Saifulloh, saat ini petani menginginkan supaya jagung harganya tetap tinggi. Sedangkan peternak yang membutuhkan jagung untuk pakan ternak mengharapkan harganya murah. “Hal ini dipicu karena harga telur di pasaran masih murah sehingga tidak seimbang dengan kebutuhan biaya pakannya,” jelasnya.

Sementara Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Mahbub Zunaidi melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Didik Tulus Prasetyo mengungkapkan untuk sementara ini di pasaran stok jagung sangat banyak. Bahkan jagung banyak yang dikirimkan ke luar daerah karena memang produksi petani sangat banyak.

“Sebenarnya harga tinggi ini membuat petani senang, namun di lain pihak peternak mengharapkan harganya bisa sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) sebesar Rp 4.500. Sekarang harganya berkisar antara Rp 4.200 hingga Rp 5.000,” ujarnya.

Tulus menjelaskan hal yang dapat dilakukan oleh peternak menyikapi dengan mahalnya harga pakan dan murahnya harga telur adalah dengan beralih usaha dari ayam petelur menjadi ayam pedaging.

“Namun sebagai petani tentunya kami mengharapkan ada peningkatan produksi jagung yang dihasilkan oleh petani. Kami mendukung harga jual jagung tetap tinggi sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani bisa meningkat,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan lintas sektoral menyampaikan beberapa permasalahan yang ada di lapangan terkait dengan melonjaknya harga jagung. (wan)