Depan > Pendidikan > 293 WB SKB Kraksaan Ikuti Ujian PAS Pendidikan Kesetaraan

293 WB SKB Kraksaan Ikuti Ujian PAS Pendidikan Kesetaraan

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Sebanyak 293 Warga Belajar (WB) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kraksaan Kabupaten Probolinggo mengikuti ujian Penilaian Akhir Semester (PAS) Ganjil Pendidikan Kesetaraan Paket A, B dan C, Senin hingga Kamis (20-24/12/2021).

Ratusan WB tersebut terdiri dari Paket A sebanyak 80 WB, Paket B sebanyak 85 WB dan Paket C sebanyak 128 WB. Ujian PAS Pendidikan Kesetaraan ini menggunakan sistem blended learning. Bagi WB yang tidak mampu dan kurang menguasai IT (Informasi Teknologi) menggunakan kertas. Khusus ujian yang dilakukan di SKB Kraksaan adalah ujian berbasis komputer.

Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Sulastri mengungkapkan pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS) ini bertujuan untuk pemetaan mutu pendidikan dan mengukur standar kompetensi peserta didik pada jenjang Paket A, B dan C serta dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan dalam pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar di satuan pendidikan (PKBM/SKB).

“PAS Pendidikan Kesetaraan ini berfungsi sebagai bahan pertimbangan dalam pemetaan mutu, umpan balik dalam perbaikan program pembelajaran serta alat pengendali mutu pendidikan,” ungkapnya.

Sementara Kepala SKB Kraksaan Herry Eko Purnomo mengatakan soal untuk ujian PAS Pendidikan Kesetaraan ini sebagian pilihan ganda dan isian. Tetapi untuk komputer semuanya adalah soal pilihan ganda.

“Ujian PAS Pendidikan Kesetaraan ini menggunakan sistem modul. Misalnya untuk Bahasa Indonesia untuk semester ini ada 3 modul, maka ujiannya dilakukan bertahap mulai dari modul 1, 2 dan 3. Kalau tidak bisa lulus di modul awal, berarti tidak bisa lanjut ke modul berikutnya. Khusus ujian yang dilakukan di SKB Kraksaan adalah ujian berbasis komputer,” katanya.

Eko menerangkan dalam 1 (satu) tahun itu ada 5 (lima) modul untuk Paket A, B dan C. Untuk semester ganjil menggunakan 3 modul dan 2 modul ada di semester genap dengan jumlah mata pelajaran yang berbeda. Paket A sebanyak 9 (sembilan) mapel, Paket B sebanyak 10 mapel dan Paket C sebanyak 12 mapel. WB bisa melanjutkan ke modul berikutnya dengan syarat harus lulus modul awal terlebih dahulu.

“Memang secara kualitas pendidikan kesetaraan ini berbeda dengan pendidikan formal. Metode pembelajaran yang digunakan ada 3 (tiga) meliputi tatap muka, tutorial dan mandiri. Tetapi tidak boleh 100% mandiri dan tidak pernah hadir di kelompok belajar. Boleh mandiri dan sisanya tatap muka dan tutorial,” jelasnya.

Menurut Eko, yang menjadi kendala selama ini adalah tingkat kehadiran dari WB. Karena mengelola anak-anak istimewa yang tidak mau bersekolah agar mau sekolah butuh perjuangan yang berat. Terlebih juga WB yang sudah bekerja tetapi ingin meningkatkan kualitasnya.

“Memang untuk BOP (Bantuan Operasional Penyelenggaraan) dari pusat, untuk warga belajar umurnya dibatasi maksimal 21 tahun. Sementara untuk usia di atas usia 21 tahun harapannya bisa tertampung melalui dana daerah,” tegasnya.

Eko menerangkan secara umum pelaksanaan ujian PAS Pendidikan Kesetaraan di SKB Kraksaan ini berjalan dengan lancar, hanya terkendala jaringan internetnya saja bagi yang mengikuti ujian berbasis komputer. Untuk tingkat kehadiran WB sudah mencapai sekitar 90% dari total WB.

“Harapannya ke depan kita masih melaksanakan kegiatan ini dalam rangka membantu Pemerintah Daerah untuk meningkatkan capaian indek pendidikan meliputi harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah,” harapnya.

Ke depan Eko berencana akan mengembangkan sarana prasarana yang sudah dimiliki SKB Kraksaan seperti computer, tata rias, menjahit dan membatik untuk memotivasi masyarakat sekolah dan tidak menutup kemungkinan arahnya ke masyarakat.

“Rencana ke depan tahun 2022, kami mendapatkan alokasi 300 WB untuk masing-masing tingkatan Paket A, B dan C dari Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo. Sehingga totalnya mencapai 900 WB. Untuk program ini nantinya akan melibatkan PGRI. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan indek pendidikan yang merupakan salah satu indikator dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (wan)