Tuesday, October 26, 2021
Depan > Pemerintahan > Tiga Orang Positif COVID-19 Kondisinya Sehat

Tiga Orang Positif COVID-19 Kondisinya Sehat

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE menyampaikan bahwa 3 (tiga) orang klaster pelatihan petugas haji di Asrama Haji Sukolilo Surabaya yang dinyatakan positif Corona Virus Disease (COVID-19) saat ini dalam kondisi yang sehat. Dalam arti tidak ada keluhan kesehatan apapun yang dirasakan baik itu batuk, pilek, sesak nafas, demam dan seterusnya.

Demikian disampaikan oleh Bupati Tantri dalam pers release di Peringgitan Rumah Dinas Bupati Probolinggo, Jum’at (10/4/2020) malam. Oleh karenanya, kemudian pihaknya berinisiatif dan ini juga sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah pusat, ketiganya tidak dirawat di rumah sakit karena memang tidak membutuhkan perawatan.

“Sebetulnya isolasi mandiri di rumah itu sudah cukup, tetapi karena pertimbangan lain, saya juga ingin betul-betul melokalisir virus ini sehingga tidak menyebar ke mana-mana termasuk juga memudahkan kami berkoordinasi dan mengawasi karena tentu tim kesehatan akan melakukan pengawasan melekat pada 3 orang ini, kami memilih istilahnya mereka berada di rumah pengawasan di wilayah Kabupaten Probolinggo,” katanya.

Menurut Bupati Tantri, ketiga orang positif COVID-19 ini merupakan orang yang diberi tugas oleh pemerintah sebagai petugas haji. Latar belakangnya tentu ada yang dari medis tenaga kesehatan dan ada pula yang dari ustadz karena hubungannya adalah pada pelayanan haji. Jadi 3 orang ini ada dari tenaga kesehatan dan tokoh agama.

“Tentunya 3 orang dan 7 orang yang lain telah berinteraksi dengan beberapa orang terdekat. Karena mereka semua telah berkeluarga, sehingga pasti ada istri, suami, anak dan beberapa orang di sekitar termasuk juga rekan kerja. Oleh karena itu, rekan kerjanya juga kami isolasi. Dimana ketiganya berasal dari wilayah Kecamatan Tongas, Kraksaan dan Paiton,” jelasnya.

Bupati Tantri pun tidak ingin menyalahkan siapapun, tetapi bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Dimana penyelenggaraan pelatihan ataupun perkumpulan yang melibatkan orang banyak di tengah pandemi tentu adalah sebuah kecerobohan. Karena pelatihan ini dilaksanakan pada saat pusat sudah menganjurkan untuk mengoffkan semua kegiatan.

“Akhirnya imbasnya pada kami daerah seperti yang juga terjadi di Kota Probolinggo, kemudian di wilayah Madura, Tuban, Blitar dan seterusnya sampai kemudian bahkan ada yang menjadi korban dalam hal ini tidak tertolong dan meninggal dunia,” tegasnya.

Lebih lanjut Bupati Tantri menegaskan bahwa tracing itu merupakan langkah awal saat Pemerintah Daerah mendengar ada kasus Jawa Timur 1 orang kemudian ditracing dan dirilis oleh Provinsi Jawa Timur bahwa ini adalah penyebarannya pada saat proses pelatihan petugas haji.

“Pada waktu itu pun kami bergerak cepat. Dinas Kesehatan langsung mentracing sebanyak 10 orang. Kemudian akhirnya melebar kepada keluarga mulai dari anak, suami, istri dan seterusnya. Rapid test tentu kita lakukan pada orang yang paling dekat utamanya suami, istri dan anaknya,” terangnya.

Sampai saat ini tambah Bupati Tantri, orang yang diluar 3 orang ini posisinya pada Orang Dalam Pemantauan (ODP). Hasilnya masih menunggu dari pusat karena yang berhak merilis positif atau tidaknya orang itu adalah pusat, kemudian baru pada daerah.

“Jadi sampai dengan Jum’at ini kami baru dikonfirmasi 3 orang itu positif. Tapi yang lain tentu yang 7 orang yang lain termasuk juga keluarga dekat tetap kami lakukan pada posisi Orang Dalam Pemantauan,” pungkasnya. (wan)