Tuesday, February 27, 2024
Depan > Kesehatan > RSUD Waluyo Jati Gelar Workshop Akses Umbilical dan Phlebotomy

RSUD Waluyo Jati Gelar Workshop Akses Umbilical dan Phlebotomy

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dalam rangka memperingati Hari Prematur Sedunia tahun 2023, RSUD Waluyo Jati Kraksaan menggelar workshop akses umbilical dan phlebotomy di ruang pertemuan Asoka RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Rabu (6/12/2023).

Kegiatan ini diikuti oleh petugas ATLM Laboratorium, perawat/bidan di ruang NICU dan Neonatologi UOBK RSUD Waluyo Jati serta tenaga kesehatan 5 rumah sakit wilayah Kabupaten Probolinggo terdiri dari dokter, perawat/bidan dan ATLM dari RS Graha Sehat, RS Rizani, RSIA Fatimah, RSU Wonolangan dan RSUD Tongas.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari dr Hj Izzuki Muhashonah, Sp.PK (K) FISQUA dan dr Muhammad Reza, M. Biomed., Sp.A (K). Selain materi, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan diskusi dan tanya jawab.

Plt Direktur dr. Hariawan Dwi Tamtomo mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu program kegiatan di RSUD Waluyo Jati dalam rangka untuk upaya penurunan angka kematian bayi.

“Kita melaksanakan program kegiatan untuk penurunan angka kematian bayi dengan upaya-upaya salah satunya untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan, pemahaman dan Teknik-teknik penanganan terhadap bayi premature,” katanya.

Hariawan menerangkan kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Prematur Sedunia yang jatuh pada tanggal 17 Nopember. Dimana Hari Prematur Sedunia ini diperingati oleh masyarakat seluruh dunia untuk mengingatkan kembali bahwa masih banyaknya bayi-bayi yang lahir prematur dan penanganannya belum bisa terlalu optimal.

“Untuk itu RSUD Waluyo Jati mempunyai program, disamping untuk meningkatkan fasilitas dan kelengkapan sarana prasarana, juga menyetandarkan sistem dan prosedur dalam upaya untuk peningkatan kapasitas dan kemampuan termasuk keterampilan dari SDM yang melaksanakan penanganan langsung kepada bayi-bayi premature,” terangnya.

Menurut Hariawan, kegiatan hari ini untuk membekali kemampuan tenaga-tenaga kesehatan yang menangani langsung terhadap bayi-bayi prematur dan sekaligus memberikan pengetahuan terkait dengan teori-teori dan ilmu-ilmu penanganan bayi-bayi prematur.

“Harapan kita dengan kelengkapan sarana prasarana serta sistem dan prosedur yang tertata rapi, ditunjang dengan SDM yang kompeten, ini upaya untuk penurunan angka kematian bayi-bayi yang prematur bisa kita optimalkan. Karena memang kasus kematian bayi ini masih tertinggi disebabkan karena kasus-kasus prematuritas. Jadi bayi-bayi yang baru lahir dalam kondisi premature,” tegasnya.

Lebih lanjut Hariawan menjelaskan kehamilan ibu kurang dari 37 minggu itu bayinya sudah lahir. Hal itu disebut bayi prematur karena bayi-bayi yang lahir dalam usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Kalau bayi yang sudah matang itu bayi-bayi yang lahir dari ibu hamil yang sudah berumur diatas 37 minggu.

“Memang kondisi riil di RSUD Waluyo Jati ini kunjungan bayi-bayi premature cukup tinggi dan kasus kematian juga cukup tinggi. Hal ini karena keterlambatan rujukan, adanya ketidakstandartan penanganan sebelum dirujuk maupun kekurangan terampilnya pemahaman tenaga kesehatan untuk menangani bayi-bayi prematur. Memang bayi-bayi prematur ini perlu perlakuan penanganan khusus, tidak bisa disamakan dengan bayi-bayi yang lahir normal,” jelasnya.

Hariawan menambahkan kegiatan ini bukan hanya berasal dari RSUD Waluyo Jati saja, tetapi juga ada dari RSUD Tongas dan rumah sakit swasta di Kabupaten Probolinggo seperti RSU Wonolangan, RS Rizani dan RS Graha Sehat. Sebab pihaknya ingin bekerja bersama dan bahu membahu bagaimana upaya untuk penanganan kepada bayi-bayi prematur.

“Harapan dari RSUD Waluyo Jati dengan adanya kegiatan ini, tenaga kesehatan yang mengikuti workshop ini pengetahuan dan pemahaman terkait dengan penanganan bayi-bayi prematur yang sesuai dengan standart bisa lebih baik lagi,” tambahnya.

Tidak lupa Hariawan juga mengharapkan nantinya ada kesinambungan terkait dengan kemampuan dari tenaga kesehatan yang menangani bayi-bayi baru lahir yang premature ini bisa berjalan dengan continue dan lebih baik lagi.

“Kita berharap hal ini bisa meningkatkan skill, ketrampilan dan kemampuan mereka secara teknis terkait dengan penanganan bayi-bayi prematur. Sekaligus memberikan pemahaman mereka agar betul-betul memahami bagaimana prosedur, upaya-upaya maupun tindakan-tindakan secara teknis penanganan bayi prematur,” tegasnya.

Sementara ketua panitia dr Muhammad Reza, M. Biomed., Sp.A (K). menyampaikan RSUD Waluyo Jati sebagai center rujukan di Kabupaten Probolinggo yang masih memiliki NICU sesuai standar dengan semestinya dan jumlah bed yang cukup banyak.

“Kegiatan ini sangat penting karena kebanyakan ternyata prematur di Kabupaten Probolinggo lahir bukan di rumah sakit ini tetapi di rumah sakit luar. Sedangkan mereka kalau tidak diajarkan seperti standar dalam merujuk tata laksana awal maka pasien sampai sini dalam posisi 2, 3 hingga 4 jam dengan jarak geografi yang cukup jauh kondisinya sudah lemah, letih, lesu dan hanya menumpang meninggal saja,” ujarnya.

Reza menerangkan bayi prematur yang penting adalah tata laksana awalnya. Kebetulan kegiatan ini bagaimana cara memasang infus pada prematur dan mengambilkan darah sampel pada premaur sehingga begitu mereka merujuk ke rumah sakit betul-betul dalam kondisi yang ideal dan meningkatkan kemungkinan diselamatkan lebih tinggi.

“Intinya satu, belajar melakukan karena mereka selama ini hanya menerima instruksi dan kemudian melanjutkan. Tetapi untuk prematur mereka angkat tangan dan mereka tidak mau karena tidak dilatih. Karena biaya pelatihan cukup mahal dan ternyata tidak selalu ada di Probolinggo. Mereka harus keluar kota sehingga tidak mudah meninggalkan pekerjaan dan keluarga,” terangnya.

Menurut Reza, faktor utama terjadinya bayi prematur kalau di daerah Kabupaten Probolinggo karena ibu kurang gizi, adanya faktor komorbid seperti penyakit darah tinggi dan ada penyakit kencing manis yang tidak terkontrol, hamil yang tidak diinginkan dan paling parah hamil usia muda karena nikahnya usia muda.

“Trend nikah muda itu sepertinya normal. Jadi bayi-bayi banyak lahir dari ibu yang usianya kurang dari 27 tahun dan yang tua tidak mau kalah yang lahirnya di atas usia 40 tahun banyak. Padahal lahir di atas usia 35 tahun itu resiko prematur,” tambahnya.

Reza menegaskan mencegah persalinan prematur itu susah untuk dikendalikan karena sebetulnya tindakan disiplin dan kesadaran masyarakat. Setiap mau dan hamil jangan bikin trend loh ternyata hamil.

“Kalau memang planningnya mau punya anak, maka pastikan konsultasi dulu ke dokter kandungan sehingga semua faktor dari ibunya diperbaki dulu baru hamil sehingga ibu hamil dalam kondisi yang prima. Apakah masih layak hamil? Kalau memang sudah tidak layak hamil dan ingin anak, pastikan konsultasi dulu karena ada cara yang aman baik itu cara-cara dari dokter kandungan sesuai dengan kondisi masing-masing ibu. Kehamilan harus direncanakan dengan baik,” pungkasnya. (wan)