KRAKSAAN – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo bersama Dewan Pendidikan Kabupaten Probolinggo menggelar Refleksi Pendidikan bertema “Membangun Budaya Mutu” di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Senin (15/6/2026).
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Probolinggo.
Sebanyak 400 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur pendidikan, mulai dari Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo, LP Ma’arif, Muhammadiyah, PGRI, kepala sekolah hingga para guru dari berbagai jenjang pendidikan.
Kegiatan dibuka oleh Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris didampingi Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Probolinggo Abd. Aziz Wahab, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo Samsur, Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono serta Ketua PGRI Kabupaten Probolinggo Asim.

Selain seremoni pembukaan, kegiatan juga diisi dengan pemaparan materi dari Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono dengan materi peran dan fungsi strategis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam membangun budaya mutu pendidikan, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo Samsur dengan materi membangun budaya mutu pendidikan madrasah dan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Probolinggo Abd. Aziz Wahab dengan materi membangun budaya mutu pendidikan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif.
Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris mengatakan pentingnya pengelolaan pendidikan berbasis data sebagai fondasi utama dalam meningkatkan kualitas SDM. Pembangunan pendidikan berbeda dengan pembangunan fisik yang hasilnya bisa terlihat dalam waktu singkat. Pendidikan membutuhkan proses panjang karena berkaitan langsung dengan pembentukan peradaban.
“Kalau membangun jalan mungkin hanya beberapa bulan, membangun gedung beberapa tahun. Tetapi membangun peradaban membutuhkan pendidikan yang dikelola dengan baik. Karena itu saya selalu menekankan pentingnya data sebagai dasar pengambilan keputusan,” katanya.
Bupati Haris menjelaskan pemerintah harus memiliki data yang lengkap dan akurat terkait jumlah sekolah, guru, siswa, pesantren, madrasah hingga angka putus sekolah. Dengan data yang valid, berbagai persoalan pendidikan dapat dipetakan dan diselesaikan secara tepat.

“Kita harus mengetahui kondisi pendidikan secara detail. Berapa jumlah guru, siswa, sekolah, pesantren dan anak yang tidak sekolah. Kita juga harus memahami penyebabnya agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Menurut Bupati Haris, kolaborasi menjadi kunci utama dalam mempercepat peningkatan kualitas pendidikan. Seluruh lembaga pendidikan, baik sekolah formal, madrasah maupun pesantren harus dipandang sebagai bagian dari sistem pendidikan yang sama.
“Sekolah formal, madrasah maupun pesantren adalah bagian dari keluarga besar pendidikan Kabupaten Probolinggo. Karena itu kita harus bergerak bersama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” tegasnya.
Lebih lanjut Bupati Haris mengungkapkan Kabupaten Probolinggo masih menghadapi tantangan besar dalam sektor pendidikan. Salah satunya terlihat dari capaian IPM yang sebelumnya berada di kelompok bawah di Jawa Timur.

“Ini berangkat dari data yang cukup merah. IPM kita pernah berada di posisi lima terbawah di Jawa Timur. Karena itu kita harus membuka pola pikir bersama dan mencari akar persoalannya agar bisa segera diperbaiki,” lanjutnya.
Untuk mewujudkan daerah yang ramah pendidikan, Bupati Haris menyebut terdapat lima faktor utama yang harus diperkuat. Pertama, meningkatkan kualitas guru melalui pembelajaran berkelanjutan. Kedua, memperkuat budaya literasi. Ketiga, membangun kolaborasi antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Keempat, memperkuat pendidikan karakter berbasis moral dan keagamaan. Kelima, menanamkan pola pikir bertumbuh atau growth mindset.
Bupati Haris menerangkan pendidikan yang berkualitas harus mampu membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus memiliki karakter, moral dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Selama ini masyarakat sering menilai keberhasilan pendidikan hanya dari aspek akademik berupa kecerdasan intelektual atau IQ (Intelligence Quotient). Padahal, peserta didik juga harus memiliki EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosi yang baik untuk membangun empati dan kemampuan berinteraksi, SQ (Spiritual Quotient) atau kecerdasan spiritual untuk memahami nilai-nilai kehidupan,” ujarnya.

Bupati Haris juga menyoroti pentingnya penguatan Adversity Quotient (AQ) dan Creativity Quotient (CQ) dalam dunia pendidikan. Kemampuan bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan berinovasi menjadi dua aspek penting yang harus dimiliki generasi muda untuk menghadapi era persaingan global.
“Adversity Quotient adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dalam situasi sulit dan tidak mudah menyerah. Sedangkan Creativity Quotient adalah kemampuan melahirkan ide dan inovasi baru. Kedua hal ini sangat penting untuk membentuk generasi unggul,” tambahnya.
Selain itu, Bupati Haris mendorong penguatan budaya membaca melalui optimalisasi perpustakaan, pengembangan science center dan berbagai program inovatif yang mampu meningkatkan minat belajar peserta didik hingga ke wilayah pelosok.
“Kalau kita ingin mencetak generasi unggul, maka budaya membaca, rasa ingin tahu dan semangat belajar harus terus ditumbuhkan. Dengan kolaborasi semua pihak, saya optimistis kualitas pendidikan dan IPM Kabupaten Probolinggo akan terus meningkat,” harapnya.

Sementara Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Probolinggo Abd. Aziz Wahab menyampaikan Dewan Pendidikan berkomitmen mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui penguatan koordinasi, evaluasi dan refleksi bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
“Dalam satu semester terakhir kami telah melaksanakan delapan kali forum diskusi dan melakukan kunjungan ke-34 sekolah dan madrasah. Kunjungan ini bukan untuk mencari kelemahan, tetapi sebagai ajang silaturahmi dan belajar langsung dari para guru, tenaga kependidikan serta peserta didik mengenai kondisi riil dunia pendidikan di Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.
Dari hasil kunjungan tersebut jelas Aziz, Dewan Pendidikan menemukan berbagai praktik baik yang layak dikembangkan. Beberapa sekolah dinilai berhasil menciptakan lingkungan belajar yang bersih, nyaman dan berkarakter. Namun di sisi lain, masih terdapat satuan pendidikan yang membutuhkan perhatian lebih dalam aspek kebersihan dan pengelolaan lingkungan sekolah.
“Banyak sekolah yang memberikan inspirasi karena mampu menciptakan lingkungan yang tertata, nyaman dan mendukung pembentukan karakter peserta didik. Namun ada pula yang masih memerlukan pembenahan. Semua itu menjadi bahan evaluasi bersama untuk terus meningkatkan mutu pendidikan,” jelasnya.

Aziz menerangkan Dewan Pendidikan akan menjadikan kegiatan refleksi pendidikan sebagai agenda rutin setiap semester. Tujuannya untuk mengukur perkembangan dan perubahan yang terjadi di masing-masing satuan pendidikan.
“Kami ingin setiap semester ada ruang refleksi bersama. Kita melihat apa yang sudah berubah, apa yang sudah diperbaiki dan apa yang masih harus ditingkatkan. Dengan cara itu, budaya perbaikan akan terus tumbuh dalam dunia pendidikan,” terangnya.
Lebih lanjut Aziz menegaskan Dewan Pendidikan hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan di Kabupaten Probolinggo. “Tidak perlu mengeluh terhadap tantangan yang ada. Mari kita jawab dengan kerja nyata dan kolaborasi. Dewan Pendidikan siap menjadi mitra strategis dalam mewujudkan pendidikan Kabupaten Probolinggo yang lebih maju, berkualitas dan berprestasi,” pungkasnya. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
