MARON – Penguatan layanan anak usia dini tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan, gizi dan pengasuhan keluarga. Hal itu menjadi salah satu materi dalam hari kelima bimbingan teknis (bimtek) penguatan PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) dan pencegahan stunting di Kecamatan Maron, Senin (28/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kecamatan Maron tersebut menghadirkan Ahli Gizi Puskesmas Suko dan Koordinator KB Kecamatan Maron sebagai narasumber. Peserta terdiri atas guru PAUD, kader Posyandu dan kader PKK dari seluruh desa se-Kecamatan Maron.
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah praktik pijat laktasi, khususnya pijat oksitosin untuk ibu menyusui. Materi tersebut diberikan sebagai bagian dari penguatan pengetahuan kader dan guru PAUD mengenai dukungan terhadap ibu dan anak pada masa awal pertumbuhan.
Praktik dipandu Ahli Gizi Puskesmas Suko dengan memperagakan teknik pijat pada bagian punggung dan pijat payudara secara lembut. Peserta kemudian diajak mempraktikkan teknik tersebut secara berpasangan.
Dalam praktiknya, ibu diposisikan duduk dengan nyaman dan sedikit condong ke depan. Pijatan dilakukan dari area leher kemudian turun sepanjang sisi tulang belakang menggunakan ibu jari atau telapak tangan dengan tekanan lembut dan gerakan berirama.
Materi tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman dasar kepada peserta mengenai teknik relaksasi dalam mendukung proses menyusui. Peserta juga dibekali pemahaman agar dapat memberikan pendampingan dasar kepada ibu menyusui di lingkungan masing-masing.

Bimtek tersebut dibuka oleh Sekretaris Kecamatan Maron Wawas Arifrachmanto. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, tidak hanya bidang kesehatan.
“Penurunan stunting bukan hanya tugas sektor kesehatan, tetapi butuh sinergi pendidikan, KB, PKK, desa dan keluarga. Kita ingin setiap anak di Kecamatan Maron mendapat layanan esensial yang baik sejak dini,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pencegahan perkawinan anak dan penurunan angka putus sekolah sebagai bagian dari strategi sensitif dalam upaya menurunkan risiko stunting. “Hal tersebut sekaligus berkaitan dengan dukungan terhadap kebijakan Wajib Belajar 13 tahun yang dimulai dengan satu tahun pendidikan pra-sekolah,” terangnya.
Selain materi kesehatan dan gizi, kegiatan juga memperkuat peran kader PKK dan Dasawisma dalam mendukung layanan anak usia 0–6 tahun.
Anggota Pokja 2 TP-PKK Kabupaten Probolinggo Massajo dalam paparannya menekankan bahwa kader PKK memiliki posisi penting sebagai penggerak, fasilitator dan pembina keluarga sejahtera sekaligus mitra pemerintah dalam mendukung program pendidikan, kesehatan, tumbuh kembang, pola asuh dan perlindungan anak usia dini.
“Penguatan peran kader perlu dilanjutkan melalui penyebarluasan informasi dan materi hasil bimtek. Diseminasi diharapkan dapat dilakukan di tingkat desa, gugus PAUD maupun lembaga satuan PAUD,” tegasnya.

Pada sesi penutup, Ketua PP PAUD Kecamatan Maron Laurentia Eka Sari Damayanti juga mengarahkan kader dan guru PAUD untuk memperkuat kerja sama di tingkat desa. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memastikan pemenuhan kebutuhan esensial anak usia 0–6 tahun berlangsung secara terpadu dan berkelanjutan.
“Guru PAUD, kader Posyandu dan kader PKK adalah ujung tombak di desa. Dengan kerja sama yang kuat, kita bisa memastikan setiap anak mendapat stimulasi, gizi dan pengasuhan yang optimal,” pesannya.
Bimtek hari kelima kemudian ditutup dengan komitmen peserta untuk menindaklanjuti materi yang diperoleh melalui kegiatan rutin PAUD dan Posyandu. Termasuk di dalamnya penguatan edukasi gizi, pendampingan ibu menyusui serta upaya pencegahan stunting dan pendampingan keluarga yang berisiko di masing-masing desa. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
