Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi pelayanan tera dan tera ulang di Kabupaten Probolinggo hingga 30 Maret 2023 atau triwulan I mencapai Rp 46.209.500 atau 25,42 persen dari target sebesar Rp 181.783.500.
“Alhamdulillah, realisasi tera ulang untuk triwulan I bisa mencapai 25,42%. Artinya, kami optimis sampai akhir tahun nanti kami upayakan 100%. Kalau tiap triwulan bisa tercapai 25%, maka akhir tahun bisa capai 100%,” kata Kepala UPT Metrologi Legal Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo Diyah Setyo Rini.
Menurut Rini, dalam triwulan I pihaknya bisa melakukan pelayanan tera ulang terhadap 2.377 UTTP (Ukur, Timbang, Takar dan Perlengkapannya) terdiri dari timbangan 604 unit, nozzle PUBBM 84 unit dan perlengkapan (anak timbangan) 1.689 unit. “Pelayanan tera ulang ini dibagi 3 (tiga) meliputi tera ulang di tempat sidang, tera ulang di tempat pakai dan tera ulang di kantor,” jelasnya.
Rini menjelaskan untuk pelayanan tera ulang di tempat sidang di pasar sebanyak 2.200 UTTP dengan retribusi Rp 6.853.800. Ini masih dari 7 kecamatan. Selanjutnya, pelayanan tera ulang di kantor sebanyak 16 UTTP dengan retribusi Rp 204.000 dan pelayanan tera ulang di tempat pakai sebanyak 161 UTTP dengan retribusi Rp 39.152.000.
“Untuk SPBU di Kabupaten Probolinggo terbagi dalam golongan besar dan kecil. Untuk SPBU besar sebanyak 18 unit. Sementara SPBU kecil terdiri dari Pertashop sebanyak 24 unit dan Indomobil sebanyak 24 unit,” terangnya.
Lebih lanjut Rini menerangkan keberadaan juru timbang sangat membantu dalam pelayanan tera ulang di pasar-pasar tradisional. Seperti di Pasar Tiris, Pasar Krucil dan Pasar Kertosuko yang sangat maksimal perannya.
“Sesuai dengan tugas dan fungsinya, juru timbang memberikan sosialisasi dan menyampaikan undangan atau surat panggilan untuk sidang tera ulang serta memberikan saran dan ajakan kepada WTU (Wajib Tera Ulang) untuk menera ulang UTTP-nya,” ujarnya.
Kendalanya jelas Rini, waktu pelayanan yang masih kurang untuk masing-masing pasar rata-rata hanya 1 hari. Di satu sisi UTTP-nya lumayan banyak baik dari dalam maupun luar pasar. Karena keterbatasan anggaran, maka ploting hari pelayanan di satu pasar hanya satu hari saja. Padahal idealnya 2 harinya untuk meraih hasil yang maksimal.
“Kiat-kiat yang kita lakukan selain peningkatan pengawasan juga peran serta juru timbang sangat besar di dalam peningkatan partisipasi WTU di pasar untuk melakukan tera ulang,” tegasnya.
Rini mengharapkan mudah-mudahan capaian di triwulan I ini akan terulang pada triwulan selanjutnya. Jadi capaian PAD di triwulan berikutnya akan tercapai 50%. “Capaian ini terus meningkat hingga akhir tahun mencapai 100%. Syukur-syukur bisa melebihi target,” pungkasnya. (wan)
