Thursday, October 8, 2026
Depan > Pendidikan > PGRI Gelar Workshop Penyusunan Perangkat Ajar Kurikulum Merdeka

PGRI Gelar Workshop Penyusunan Perangkat Ajar Kurikulum Merdeka

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Probolinggo melalui Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) menggelar workshop penyusunan perangkat ajar Kurikulum Merdeka bagi guru jenjang dasar SD dan SMP di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Jum’at dan Sabtu (12-13/8/2022).

Kegiatan yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi ini diikuti oleh 600 orang peserta SD kelas 1 dan 4 serta SMP kelas 7.

Peserta ini dibagi dalam 2 (dua) sesi untuk setiap In-nya. Untuk narasumber PGRI merangkul guru jenjang SD, SMP, SMA dan SMK yang selama ini sudah secara intens menjadi pengajar praktek di Program Guru Penggerak di Kabupaten Probolinggo serta pengawas sekolah.

Ketua APKS PGRI Kabupaten Probolinggo Gunawan mengungkapkan kegiatan ini digelar dalam rangka mengajak guru-guru SD dan SMP untuk belajar secara intensif dan praktek bagaimana melaksanakan Kurikulum Merdeka yang sudah dilaunching oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI sehingga bisa mempraktekkan sesuai dengan kaidah-kaidah yang memang harus dipahami terlebih dahulu.

“Melalui kegiatan ini guru-guru kita ajak untuk praktek langsung membuat praktek ajar yang tujuan akhirnya mereka bisa membuat modul ajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Guru merdeka untuk merencanakan dan mengevaluasi konsep-konsep pembelajaran di kelas sesuai dengan kebutuhan siswa dan karakteristik siswa,” ungkapnya.

Sementara Ketua PGRI Kabupaten Probolinggo Asim menyampaikan workshop penyusunan perangkat ajar Kurikulum Merdeka ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan membantu bagi guru-guru untuk menerapkan Kurikulum Merdeka.

“Terkait dengan banyaknya lembaga yang masih belum log in, memang di lapangan ada keterlambatan untuk log innya. Tetapi akhir-akhir ini semua lembaga sudah dikumpulkan dan diberikan cara-cara untuk masuk di Kurikulum Merdeka pada Platform Merdeka Mengajar,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan ini Asim mengharapkan supaya guru-guru SD dan SMP di Kabupaten Probolinggo tidak ada kesulitan dan mampu mengembangkan materi yang sudah diterimanya.

“Kita menghimbau kepada seluruh anggota PGRI yang ikut dalam workshop ini bisa menularkan apa yang diterimanya kepada yang lain di lembaganya masing-masing,” harapnya.

Sedangkan Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi mengatakan kegiatan ini memberikan modal bagi guru-guru di Kabupaten Probolinggo, apalagi Kurikulum Merdeka ini masih baru bagi guru-guru.

“Dengan adanya penyusunan perangkat ajar ini akan memberikan kemudahan bagi mereka dalam melaksanakan proses pembelajaran, khususnya pembelajaran differensiasi,” katanya.

Rozi mengharapkan dengan adanya kegiatan ini akan banyak memberikan kemudahan bagi mereka dan anak-anak mendapatkan suatu proses pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. “Pada akhirnya capaian pembelajaran yang berending pada tujuan pembelajaran betul-betul bisa tercapai,” harapnya.

Menurut Rozi saat ini kita hidup di sebuah era yang bernama revolusi industri 4.0. Dimana kehidupannya didominasi oleh digitalisasi dan otomasi. Dengan era ini, ada perubahan yang cepat tanpa melihat dampak dari perubahan. Kalau tidak bisa beradaptasi maka akan ketinggalan. Ini riil, padahal hidup di era revolusi industri 4.0 ini tuntutan dan tidak bisa tidak.

“Kita harus adaptif dan beradaptasi terhadap tuntutan dari masyarakat dan kehidupan. Selain itu harus bisa mengadopsi. Melestarikan yang baik di masa lalu tapi juga inovatif dan kreatif untuk mendapatkan yang lebih baik,” jelasnya.

Tidak hanya itu jelas Rozi, saat ini kita juga hidup di zaman yang disebut smart society 5.0. Ini menunjukkan bahwa yang menjadi pengendali itu adalah diri sendiri dan bukan orang lain. Yang membuat beda karena kita memiliki nilai-nilai karakter profil Pelajar Pancasila.

“Semangat dari Kurikulum Merdeka ini adalah profil Pelajar Pancasila. Meliputi iman taqwa akhlak mulia, gotong royong, kebhinekaan global, mandiri, kreatif dan bernalar kritis,” tegasnya.

Lebih lanjut Rozi menegaskan semangat Kurikulum Merdeka menjadi pembeda dari kurikulum sebelumnya. Pertama, pembelajarannya berfokus pada pembelajaran project untuk mengembangkan soft skill dan karakter. Hal ini harus dilakukan. Bagaimana bisa mengajarkan karakter baik kalau gurunya tidak berkarakter. Kedua, literasi dan numerasi dan ketiga memiliki kebebasan dan kemerdekaan pembelajaran berdasarkan kompetensi masing-masing peserta didik.

“Ending penyusunan ini adalah modul pembelajaran. Hanya saja itu bukan barang mati, tetapi sifatnya dinamis sesuai dengan kondisi karakteristik peserta didik dalam sebuah kelas. Guru memiliki kebebasan dan melaksanakan pembelajaran dalam konteks Kurikulum Merdeka,” pungkasnya. (wan)