Friday, December 3, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Pengurus PCNU Kota Kraksaan Resmi Dilantik

Pengurus PCNU Kota Kraksaan Resmi Dilantik

Reporter : Wahed Efendi
KRAKSAAN – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kraksaan masa khidmat 2020-2025 resmi dilantik oleh Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah , Minggu (8/11/2020).

Pelantikan yang dilakukan di Kantor PCNU Kota Kraksaan, di Jalan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan ini dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI selaku Mustasyar PCNU Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si, Wakil Bupati Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko, Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan, Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Andi Suryanto Wibowo dan Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo H. Soeparwiyono.

Tampak pula segenap jajaran pengurus PWNU Jawa Timur, PCNU Kota Kraksaan, pengurus lembaga dan badan otonom PCNU Kota Kraksaan serta MWCNU se-wilayah PCNU Kota Kraksaan.

Mustasyar PCNU Kota Kraksaan yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si menyampaikan ucapan selamat kepada para pengurus PCNU Kota Kraksaan yang sudah dilantik dengan harapan bisa khidmat untuk berkhidmat di PCNU Kota Kraksaan.

“Formatur sudah memilah dan memilih sebagai pengurus PCNU Kota Kraksaan sesuai dengan keahliannya yang tersebar dimana-mana baik itu birokrasi, tokoh agama dan tokoh yang lainnya ditempatkan sesuai dengan makomnya agar tupoksinya mampu memberdayakan warga NU di Kota Kraksaan,” katanya.

Menurut Hasan, seluruh pengurus PCNU Kota Kraksaan, MWCNU, Ranting, lembaga dan badan otonom ingin belajar dan berkhidmat sesuai dengan Khittah 1984. Pengurus NU ingin mencoba menyapa warga NU agar supaya bangga kembali kepada NU. Ini penting dilakukan supaya bisa mewarisi gerakan para pendiri NU dan orang tua di zamannya.

“Hancurnya ideologi NU tergeser dan bergeser pada generasi muda dan anak cucu kita masing-masing karena banyaknya fragmatisme bermunculan. Mari kita mengajak infak dan sedekah kepada para warga NU bagi pengurus NU yang benar-benar ikhlas menyerahkan hartanya kepada NU supaya betul-betul menjadi gerakan menyapa warga NU,” jelasnya.

Tidak lupa Hasan menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap pengurus baik cabang hingga anak ranting yang masih mempunyai semangat militansi ingin barokah ulama dan bersama ulama di akhirat di surga Allah. “Mari cari rizki di luar NU. Di dalam NU mari infakkan rizki kita bagi yang berlebih,” pungkasnya.

Sementara Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah mengungkapkan selaku warga NU ada situasi tidak menguntungkan warga Indonesia dan seluruh dunia. Selaku umat yang beriman tentunya harus mengambil hikmah dan pembelajaran yang sesuatu yang ada saat ini.

“Yang ingin saya sampaikan bahwa setiap pengurus NU apapun posisinya mempunyai amanah yang dititipkan oleh jam’iyyah NU. Ada 2 misi jam’iyyah bagi setiap pengurus NU dalam posisi sebagai apapun dan tingkatan apapun. Yaitu misi keagamaan dan kemasyarakatan,” ungkapnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong ini menerangkan pengurus NU harus memahami bahwa pengurus PCNU Kota Kraksaan ini adalah perpanjangan tangan dari pengurus PWNU Jawa Timur sebagai struktur diatasnya.

“Tugas pengurus NU adalah mengamankan, menjalankan dan mensosialisasikan sikap dan keputusan organisasi-organisasi mulai dari PBNU, PWNU sampai cabang untuk disampaikan ke struktur di bawahnya hingga ranting. Bagaimana supaya keputusan dan sikap secara organisassi sampai dan dipahami oleh warga NU yang ada di kecamatan-kecamatan di wilayah PCNU Kota Kraksaan,” terangnya.

Kiai Mutawakkil menegaskan pengurus NU apapun posisinya apakah pengurus NU atau pejabat karir di luar NU ada misi keagamaan yaitu menuntut warga NU agar supaya istiqomah di dalam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Bagaimana supaya warga NU dalam bertindak, berbangsa dan bernegara sesuai dengan arahan dan keteladanan para ulama-ulama terdahulu, khususnya pendiri ulama.

“Jujur dampak buruk dari globalisasi adalah menyebarnya pemahaman agama yang tidak sesuai dengan kultur budaya Indoensia. Ini cepat masuknya ke umatnya melalui media sosial. Bukan hanya ajaran tapi juga budaya yang bertentangan dengan agama dan budaya bangsa,” tegasnya.

Terkait dengan peran kemasyarakatan terang Kiai Mutawakkil, peran pengurus NU diantaranya dapat dilakukan melalui pendidikan minimal lembaga yang dimiliki NU. “Pengurus NU harus dekat dan berkomunikasi di dalam pendidikan dengan pesantren-pesantren yang ada. Maksimalkan peran RMI dengan tujuan yang penting supaya tidak ada warga NU yang tidak bisa sekolah dan tidak bisa mondok. Ini perlu bermitra dengan Pemerintah Daerah dan pengusaha,” pungkasnya. (hed)