Depan > Kemasyarakatan > MUI Gelar Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi Covid-19

MUI Gelar Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi Covid-19

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo melalui Komisi Pemberdayaan Perempuan menggelar ketahanan keluarga di masa pandemi Covid-19 di Ruang Amanah Lantai Dasar Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Kamis (9/12/2021).

Kegiatan ini diikuti oleh 36 orang peserta terdiri dari 30 orang dari perwakilan organisasi perempuan di Kabupaten Probolinggo dan 6 orang dari pengurus Komisi Pemberdayaan Perempuan MUI Kabupaten Probolinggo.

Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan MUI Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati mengatakan kegiatan ini digelar dengan tujuan untuk menyikapi fenomena tingginya angka perceraian, khususnya di Kabupaten Probolinggo. Dimana salah satu penyebabnya karena Covid-19 yang berpengaruh kepada faktor ekonomi, pengaruh teknologi informai dan perselingkuhan.

“Untuk menyikapi hal tersebut, solusi yang kita tawarkan ingin membentuk rumah konseling di masing-masing kecamatan bekerja sama dengan organisasi setempat. Pemberdayaan Perempuan dan MUI akan menyiapkan tenaga melalui pelatihan konselor di masing-masing kecamatan. Sehingga nantinya ada semacam rumah curhat berupa konseling di kecamatan,” katanya.

Selain itu jelas Nurayati, solusi yang dilakukan dengan memberikan pembinaan catin (calon pengantin) bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo.

“Pembinaan catin ini bukan hanya untuk mendidik menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah saja, tetapi bagaimana meningkatkan perekonomian di dalam keluarga. Catin ini diperlukan karena masih banyak yang belum bekerja dan belum siap menikah. Akan tetapi mereka terburu-buru bekerja, salah satu faktor karena orang tua dan budaya,” jelasnya.

Jika hal tersebut terjadi jelas Nurayati, maka diperlukan sebuah sosialisasi bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan pada anak. Selain itu juga diperlukan memberikan pemahaman kepada para tokoh agama dan tokoh masyarakat.

“Kalau dibiarkan maka akan membudayakan pernikahan dini di masyarakat. Padahal semua permasalahan ini berawal dari pernikahan dini. Biasanya dari pernikahan ini selama 2 bulan pertama masih senang-senangnya. Tetapi begitu masuk bulan ketiga, biasanya sudah muncul masalah, terutama ekonomi. Biasanya mertua akan bertanya mengapa menantunya tidak bekerja. Inilah bintik-bintik permasalahan yang akan muncul dan lama-lama akan menimbulkan kekerasan. Jika punya anak biasanya akan stunting dan gizi buruk,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini Nurayati mengharapkan dapat menyadarkan masyarakat bahwa menghadapi sebuah permasalahan itu perceraian bukan satu-satunya penyelesaian. Bagaimana menghadapi masalah itu bisa diselesaikan dengan kekompakan dan kebersamaan suami istri.

“Oleh karena itu kami menghimbau kepada ibu-ibu, di masa pandemi Covid-19 ini dibutuhkan kesabaran ekstra. Kalau seorang ibu sabar maka ekonomi keluarganya akan bangkit kembali,” pungkasnya. (wan)