Sunday, May 19, 2024
Depan > Pemerintahan > Mengenal Sumber Kapong Sebagai Kampung Strom

Mengenal Sumber Kapong Sebagai Kampung Strom

Reporter : Hendra Trisianto
TIRIS – Energi Baru Terbarukan (EBT) terus dikembangkan di Kabupaten Probolinggo. Salah satunya dengan memanfaatkan sumber air menjadi energi listrik. Seperti di Dusun Sumber Kapong Desa Andung Biru Kecamatan Tiris yang dikenal dengan sebutan Kampung Strom.

Dari Kota Kraksaan, Ibukota Kabupaten Probolinggo, diperlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di kampung ini. Jalan berkelok menuju dusun itu terhampar lahan perkebunan. Seperti kopi, jagung, sayur dan lain sebagainya, tentunya selain pohon tegakan.

Sepintas tak ada yang istimewa dengan dusun yang berada di lereng Pegunungan Hyang atau Argopuro ini, terletak di ketinggian 1.000 mdpl. Nyatanya dari balik kesunyian, dusun ini mandiri listrik. Warganya mandiri energi listrik sejak puluhan tahun silam.

Ada 200 keluarga yang mendiami dusun itu mendapatkan listrik dengan memanfaatkan EBT mikrohidro. Memanfaatkan aliran sungai kecil yang melaluinya, dari energi gerak dikonversi menjadi tenaga listrik. Ada 3 (tiga) Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang digunakan.

“Dulu puluhan tahun lalu gelap gulita, sekarang terang benderang, tak perlu khawatir ada pemadaman, listriknya nyala 24 jam,” ucap Mohammad Rasid, tokoh masyarakat Dusun Sumber Kapong, Rabu (7/12/2023).

Rasid bercerita ihwal kampungnya merdeka listrik. Bermula ketika dirinya bersama Suryani, istrinya, berkunjung ke rumah pamannya di Jember sekitar tahun 1993. Rumah si paman yang bermukim di perkebunan eks Belanda diterangi oleh listrik mandiri.

“Energi itu didapat dari dinamo yang digerakkan oleh kincir air. Saya berpikir kenapa gak juga diterapkan di daerah saya yang daerahnya mirip dengan di Jember,” kata ia.

Ide itu muncul, karena ada kesempatan kontur tanah antara di Jember dengan di rumahnya. Dimana dari balik perbukitan, air sungai mengalir deras. Aliran sungai yang melewati perbukitan itulah, yang coba dimanfaatkan olehnya.

“Saya kemudian menjual sapi dan meniru untuk membuat bolang-baling atau kincir dari aliran sungai. Termasuk menjual perhiasan emas milik istri,” kenang Ketua Kelompok Tirta Pijar, pengelola PLMTH.
Upaya ayah 2 anak itu mendapatkan cibiran dari warga. Bahkan dianggap gila karena hendak mengubah air menjadi energi listrik.

Meski dicemooh, ia tetap melanjutkan angan-angannya. Hingga akhirnya, listrik dari bolang-baling tersebut sukses memproduksi listrik. “Ya awalnya belum stabil, karena memang saya tidak faham ilmu kelistrikan, yang penting nyala. Alhamdulillah, selama puluhan tahun mampu menerangi perkampungan,” ujar ia sembari bertahmid.

Jika awalnya menggunakan bolang-baling, kini PLTMH itu memakai turbin. Tiga PLTMH yang dikelola Kelompok Tirta Pijar mampu menghasilkan listrik 105 KVA. Berasal dari 2 generator masing-masing berkekuatan 40 KVA dan 1 generator 25 KVA.

Listrik yang dihasilkan dialirkan ke 600 keluarga. Ratusan pelanggan itu tak hanya mencakup dusun setempat, melainkan lintas desa antar kecamatan. Untuk Kecamatan Tiris, ada 2 desa yang menikmati. Yakni, Desa Angdungbiru dan Desa Tiris. Kemudian 3 dusun di Desa Sumberduren dan 2 dusun di Desa Roto Kecamatan Krucil.

“Yang paling banyak di Sumberduren, sekitar 300 keluarga. Warga ditarik iuran sesuai pemakaian. Dari iuran itu, kami gunakan untuk persiapan perbaikan perawatan dan honor pengurus,” ungkapnya.

Ia pun menjelaskan cara kerja PLTMH di desanya. Pertama-tama arus akan melewati pintu air yang berfungsi sebagai penyaring dari daun dan ranting pohon yang terbawa arus. Saringan itu terletak di bagian atas sungai, terbuat dari besi warna biru.

Selanjutnya, arus air akan diarahkan menuju turbin melalui pipa besi berdiameter sekitar 40 centimeter (cm). Pipa itu memiliki panjang 200 meter, terhitung dari lokasi pintu air menuju turbin yang terletak di dalam sebuah bangunan.
Arus air yang datang dari ketinggian itu, kemudian menabrak turbin sehingga menciptakan gerakan sentripetral yang memicu dorongan kepada generator.

Proses tersebut menimbulkan suara bising yang terdengar hingga radius 30 meter. Usai menggerakkan turbin, air yang arusnya sudah tak terlalu deras akan ditampung di sebuah bak untuk diarahkan kembali ke sungai.

“Listrik yang dihasilkan dari proses tersebut selajutnya disalurkan melalui jaringan kabel ke ratusan rumah,” kata ayah 2 anak itu.

Selain untuk penerangan atau lampu, listrik di sini juga untuk keperluan lainnya. Seperti mengoperasikan alat pengolahan kopi, alat mebel, televisi dan lainnya. Menggerakkan perekonomian warga sekitar.

“Saya punya usaha kopi, ya pake listrik ini,” kata Joko, warga Desa Sumberduren.

Warga yang memanfaatkan listrik hanya membayar Rp 500 kilowatt jam (kwh). Tiap bulan warga akan ditarik iuran dengan nominal yang berbeda. Tergantung dari jumlah pemakaian dan besaran instalasi listrik yang mereka pasang di rumahnya.

Rata-rata, warga membayar iuran dari Rp 30.000-70.000 per bulan. Sistem pembayaran listriknya juga tergolong murah bahkan unik. “Kalau bayarnya tidak mesti, kadang sebulan kadang musiman, tergantung kemampuan kita. Bisa paket uang, kalau kita ada uang. Kadang ya pake barang, hasil bumi seperti kopi, pisang, juga hewan ternak, kayak ayam. Yang penting sesuai nilainya,” lanjut Joko.

Pemerintah desa juga berencana menggandeng kelompok Tirta Pijar untuk memperluas jaringannya ke 4 dusun lainnya, yakni Krajan, Klakah, Kedaton dan Lawang Kedaton. Empat dusun ini memang sudah dialiri listrik dari perusahaan negara. Namun belum optimal, utamanya pada penerangan jalan.

“Ya ini, sangat membantu perekonomian warga. Listrik di Desa Andungbiru harus diperluas penggunaannya. Kalau bisa semua warga menggunakan listrik dari energi terbarukan ini,” kata Sekretaris Desa Andungbiru Asrawi.

Dua dari 3 turbin yang digunakan yang dikelola Kelompok Tirta Pijar merupakan bantuan dari program CSR perusahaan di Kabupaten Probolinggo.

“Pemerintah Daerah selalu mensupport dan mendukung penuh program CSR dari perusahan tersebut. Dengan adanya peran CSR ini tentu akan mempercepat membentuk desa mandiri yang ada di wilayah Kabupaten Probolinggo ini,” tutup Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Probolinggo Yulius Christian.

Kampung inipun lebih dikenal dengan nama Kampung Strom. Sebab mampu menghasilkan listrik sendiri tanpa bergantung pada pihak lain. Memanfaatkan energi gerak aliran sungai dikonversi menjadi tenaga listrik. (dra)