Depan > Kemasyarakatan > Idul Adha 1443 Hijriyah, Pemotongan Ternak Kurban Capai 4.070 Ekor

Idul Adha 1443 Hijriyah, Pemotongan Ternak Kurban Capai 4.070 Ekor

Reporter : Syamsul Akbar
DRINGU – Pemotongan ternak kurban pada Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriyah tahun 2022 di Kabupaten Probolinggo mencapai 4.070 ekor. Terdiri dari sapi sebanyak 508 ekor, domba sebanyak 3.037 ekor dan kambing sebanyak 525 ekor.

Medik Veteriner Muda Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto mengatakan data pemotongan ternak kurban ini diperoleh dari hasil pengawasan, pendataan dan pemeriksaan ante mortem dan post mortem kurban pada hari raya Idul Adha 1443 Hijriyah pada 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo.

“Pendataan ini dimulai tanggal 9 hingga 13 Juli 2022 pukul 16.00 WIB. Apabila dilihat total pemotongan ternak kurban memang ada penurunan pada tahun 2022 sebesar 4.070 ekor dibandingkan tahun 2021 sebesar 5.927 ekor,” katanya.

Dasar hukum pendataan pemotongan hewan ini adalah Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan juncto UU Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 Tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan.

Selanjutnya, Surat Edaran Menteri Pertanian Nomor 03/SE/PK.300/M/5/2022 Tentang Pelaksanaan Kurban dan Pemotonan Hewan dalam Situasi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (Foot and Mouth Disease), Surat Edaran Menteri Pertanian Nomor 01/SE/PK/300/M/5/2022 Tentang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Ternak serta Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor : 32 Tahun 2022 Tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban Saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku.

Selain jumlah pemotongan hewan kurban jelas Niko, Tempat Pemotongan Hewan Sementara (TPHS) di Kabupaten Probolinggo juga mengalami penurunan. Untuk tahun 2021 jumlahnya mencapai 475 TPHS dan tahun 2022 ada 204 TPHS.

“Berdasarkan informasi dari teman-teman di lapangan, kemungkin besar penurunan jumlah pemotongan hewan kurban ini terjadi karena banyak yang menunda untuk tidak berkurban. Alasannya menunggu sampai wabah PMK tidak ada di Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Niko menegaskan menurunnya jumlah pemotongan hewan kurban ini juga bisa dikarenakan masyarakat yang masih merasa was-was untuk memakan daging sapi di tengah wabah PMK. Harapannya, supaya KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) kepada masyarakat tetap disampaikan agar mereka mengerti dengan benar bahwa produk hewan walaupun terkena PMK masih bisa dikonsumsi asalkan dimasak dengan benar. Daging sapi itu direbus pada air mendidih selama 30 menit.

“Mengubah persepsi masyarakat terhadap daging yang terkontaminasi PMK ini butuh waktu lama. Sebab masyarakat kita kalau sudah mempercayai sesuatu yang belum pasti itu susah untuk diubah. Jadi butuh penyampaian secara perlahan-lahan kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurut Niko, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) juga harus menyampaikan bahwa tidak perlu takut terhadap daging yang terpapar PMK asalkan dimasak dengan benar. Diharapkan setiap hari Jum’at sebelum dimulai sholat Jum’at perlu disampaikan maupun saat pengajian, ibu-ibu harus disampaikan bahwa daging sapi walaupun terpapar PMK masih bisa dikonsumsi.

“Ini menjadi tanggung jawab semuanya agar perekonomian tetap berjalan. Diharapkan masyarakat sampai ke perangkat desa turut berperan aktif dalam memberikan KIE mengenai PMK,” tegasnya.

Terkait KIE ini terang Niko bukan hanya tanggung jawab masyarakat saja. Media cetak, media elektronik atau media onlinepun harus mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar terhadap PMK dan produk hewan masih dikonsumsi asal dimasak dengan benar. “Jadi merekapun mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan yang benar kepada masyarakat,” pungkasnya. (wan)