Tuesday, September 21, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Eksis di Masa Pandemi Covid-19, Meubel Antik Mampu Menginspirasi dan Memberdayakan Masyarakat Sekitar

Eksis di Masa Pandemi Covid-19, Meubel Antik Mampu Menginspirasi dan Memberdayakan Masyarakat Sekitar

Reporter : Syamsul Akbar
SUMBERASIH – Masa pandemi Covid-19 ini sangat berdampak sekali terhadap keberlangsungan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Hal ini memaksa para pelaku IKM untuk memutar otak agar produknya tetap eksis dan laku di pasaran.

Salah satu IKM yang mampu menangkap peluang tersebut adalah CV Gemilang Jati Duplicate Antique yang berada di Desa Banjarsari Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Tidak hanya bertahan di masa pandemi Covid-19 saja, IKM yang dipimpin oleh Darusman ini juga mampu menginspirasi dan memberdayakan masyarakat sekitar.

Bahkan saat ini Darusman lebih banyak melakukan penjualan produknya melalui jaringan online. Sehingga tidak jarang, tempatnya sekilas terlihat sepi. Padahal dia kewalahan melayani pembeli yang memesan produknya secara online.

Darusman mengaku awal mula menggeluti usaha tersebut dikarenakan karena kesulitan mencari kerja dan dirasani bekerja yang tidak baik. Akhirnya diapun mencari peluang dengan cara melukis, tetapi hasil lukisannya kurang begitu laku. Kemudian mencari peluang lagi dan yang cocok dengan hobinya.

“Saat itu saya berprinsip sebuah hobi jika dijadikan sebuah pekerjaan itu jauh akan lebih bagus dan ditekuni dari pada pekerjaan yang ditarik untuk dijadikan hobi itu sulit untuk diterima. Karena hobi saya di seni, saya mencari yang cocok dan ternyata pilihannya adalah menjadi tukang ukir,” ungkapnya.

Namun perjuangannya tidak semulus yang dibayangkan, Darusman harus menjual cincin kawin istrinya untuk membeli pahat dan alat-alat ukir. Selain itu, dia harus berpindah-pindah bekerja ikut orang lain

“Selanjutnya saya berpindah ke topeng antik dengan bayaran sebesar Rp 6 ribu. Dengan catatan karya hari ini tidak boleh sama dengan sebelumnya walaupun bahannya sama. Saya bekerja disisi hampir 7 tahun lamanya. Namun setelah itu usahanya bangkrut dan saya pun pindah ke tempat yang lain,” tegasnya.

Seiring dengan berjalanya waktu, Darusman pun berkeinginan untuk membuka usaha sendiri. Hanya saja waktu itu masih terkendala dengan modal. “Awalnya saya meminjam kayu-kayu yang tidak terpakai kepada salah satu pengusaha. Pertama saya ukir dulu, ternyata repot juga membuat ukiran sambil membuat hiasan dinding. Karena tidak semua orang butuh. Kemudian saya termotivasi untuk lebih mengembangkan hasil ukiran yang dipadukan dengan furniture,” terangnya.

Darusman mengaku mulai membuka usaha tahun 1997 bertepatan dengan terjadinya krisis ekonomi. Saat itu bahan baku murah dan tebangan hutan dimana-mana. Tetapi begitu hutan habis, maka bahan baku mahal. “Akhirnya saya beli bahan baku mulai dari tempat tidur yang sama dan lain sebagainya saya beli,” ujarnya.

Oleh karena semangatnya yang tinggi, Darusman pun mampu melakukan ekspore ke Abu Dhabi, Amerika dan Australia. Hal ini dikarenakan karyanya tidak sama dengan orang lain dan mengikuti karakter daerah. Apalagi ukiran Kabupaten Probolinggo tidak ada pakemnya. “Karya saya itu terbilang unik karena adanya perpaduan antara Jawa, Madura dan China,” jelasnya.

Lebih lanjut Darusman menjelaskan upaya pemberdayaan masyarakat yang sudah dilakukan selama ini adalah memberikan pelatihan ukir bagi pemuda-pemuda sekitar. Hanya saja dari semua yang dilatih, yang benar-benar bisa sekitar separuhnya. Namun tidak berhenti sampai disitu, setiap hari atau kapanpun tetap melatih jika ada yang mau belajar secara gratis.

“Dengan catatan orang yang sudah selesai belajar dan dianggap bisa bukan harus bekerja di tempatnya. Pasalnya mereka boleh berhenti dengan membuka usaha sendiri dan bukan ikut orang lain. Selama mereka tidak bisa mempunyai usaha sendiri, tetap akan mendapatkan upah dengan dipekerjakan disini,” tegasnya,

Selain mebel antik ini, Darusman mengaku memang yang paling utama fokus di meubel. Disamping meubel, jika ada limbah-limbah kayu yang tidak terpakai maka akan dijadi maka dijadikan produk-produk kerajinan. Dimana notabene untuk pangsa pasar kerajinan ebih cepat menghasilkan uang walaupun sedikit-sedikit.

“Prinsipnya dari awal untuk usaha meubel antik ini adalah mengolah limbah menjadi berkah. Tetapi bahan bakunya walaupun meubel ini dibeli dari limbah-limbah rumah, jembatan dan yang lain-lain itu. Semuanya limbah dan tidak pernah membeli yang baru. Limbah dari meubel ini juga kalau masih bisa dimanfaatkan dijadikan kerajinan seperti tempat HP, tempat keris serta hiasan-hiasan dinding,” akunya.

Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo Taufik Alami mengatakan owner CV Gemilang Jati Darusman merupakan seorang seorang entrepreneur muda yang menginspirasi masyarakat di Kabupaten Probolinggo.

“Melalui perjuangannya yang gigih mulai dari nol, sehingga menjadi inspirator dan contoh bagi IKM-IKM yang lain dan mampu mengangkat serta mengharumkan nama Kabupaten Probolinggo,” katanya.

Menurut Taufik, Darusman ini bergerak di usaha mebel-mebel antik khas Kabupaten Probolinggo. Dalam artian mebel pendalungan yang merupakan kombinasi perpaduan antara model Madura dan Jawa. “Bidang ini yang disentuh dan dilirik oleh Pak Darusman sehingga menjadi kekuatan utama dalam produknya,” jelasnya.

Taufik menerangkan bahwa pemerintah dalam hal ini bersifat membina, mengarahkan memfasilitasi serta mempromosikan produk-produk yang ada di Kabupaten Probolinggo. Lewat sentuhan pemerintah serta niat dan semangat yang besar mampu menghasilkan karya-karya yang banyak diminati oleh masyarakat Jawa Timur serta luar negeri.

“Semoga Pak Darusman ini tetap eksis dan lebih mengembangkan produknya serta bermanfaat kepada orang lain. Karena saat ini Pak Darusman ini lebih banyak bersifat memberdayakan dan memperkerjakan masyarakat sekitar. Selain itu menjadi instruktur atau pelatih untuk menghasilkan entrepreneur-entrepreneur baru yang bergerak di usaha mebel,” harapnya.

Taufik menerangkan meubel antik milik Darusman ini merupakan salah satu bukti IKM yang mampu mempromosikan produk unggulan dan potensi yang mempunyai peluang untuk ekspor. Terlebih mampu memberdayakan masyarakat sekitar untuk membantu mengentaskan kemiskinan. “Banyak kadang pelaku meuble yang tidak melibatkan masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut Taufik menambahkan meubel antik milik Darusman ini mampu menemukan diversifikasi produk kerajinan dan ketrampilan handycraf yang senada dengan olahan kayu. Hakikatnya harus memberikan inspirasi bagaimana menggerakkan ekonomi masyarakat dan upaya bertahan di masa pandemi Covid-19.

“Harus ada kreatifitas dan jiwa entrepreneur yang tangguh. Disperindag berusaha membantu mempromosikan khususnya lewat media online dan dimasukkan dalam katalog produk unggulan Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (wan)