Thursday, October 8, 2026
Depan > Kemasyarakatan > DLH Kabupaten Probolinggo Mulai Verifikasi 26 Calon Sekolah Adiwiyata

DLH Kabupaten Probolinggo Mulai Verifikasi 26 Calon Sekolah Adiwiyata

PROBOLINGGO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo mulai melakukan verifikasi lapangan terhadap calon Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Probolinggo. Proses verifikasi berlangsung mulai akhir September hingga awal November 2026 untuk memastikan penerapan budaya peduli lingkungan benar-benar dijalankan dalam keseharian sekolah.

Sebanyak 26 sekolah dinyatakan lolos administrasi dan menjadi sasaran verifikasi lapangan. Ke-26 sekolah tersebut meliputi SMPN 2 Gading, SDN Sebaung 1 dan SMPN 1 Gending, MI Raudhatul Jannah 2 Maron, MIS Nurul Islam Dringu, SDN Sidomukti 1 dan SMPN 3 Kraksaan serta SDN Sentong dan SDN Patemon Krejengan.

Selanjutnya, SDN Krucil 2, SDN Krucil 3 dan SMPN 2 Krucil, SDN Jatisari 1 dan SMPN 1 Kuripan, SDN Lumbang 2 dan SDN Branggah 1, SD Muhammadiyah 1 Paiton, SDN Karangpranti 1, SDN Sukomulyo dan SMP Zainul Hasan 1 Pajarakan, SMPN 1 Pakuniran, SMPN 4 Pakuniran Satu Atap, SDN Pakel 1 Sukapura, SMPN 1 Sumber, SMPN 2 Sumber serta SDN Wringinanom 2 Tongas.

Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Roby Siswanto melalui Kepala Bidang Tata Lingkungan Suryana Nuring Perbawani mengatakan verifikasi lapangan dilakukan setelah sekolah melewati tahap seleksi administrasi. “Tidak ada jadwal karena ini sifatnya seperti sidak, guna mengetahui situasi dan kondisi sesungguhnya di masing-masing sekolah,” katanya.

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kabupaten Probolinggo Suryana Nuring Perbawani melakukan kunjungan verifikasi lapangan terhadap calon Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Probolinggo. (Foto : DLH)

Menurutnya, verifikasi tersebut bukan sekadar melihat kelengkapan sarana prasarana sekolah. Tim juga ingin mengetahui sejauh mana prinsip Adiwiyata benar-benar diterapkan oleh seluruh warga sekolah dalam aktivitas sehari-hari. “Karena program Adiwiyata itu bukan lomba, lebih ke perubahan sikap perilaku warga sekolah untuk berbudaya yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Nuring menegaskan, penerapan prinsip Adiwiyata tidak identik dengan kebutuhan anggaran besar. Hal yang lebih penting adalah adanya komitmen sekolah dalam menjalankan prinsip peduli dan ramah terhadap lingkungan hidup.

“Karena bukan lomba, maka sebenarnya program Adiwiyata tidak selalu mutlak butuh biaya yang besar. Yang utama adalah adanya komitmen untuk menjalankan prinsip peduli dan ramah terhadap lingkungan hidup di sekolah yang diimplementasikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi,” terangnya.

Lebih lanjut Nuring menegaskan sarana pendukung juga tidak harus dibuat mewah. Sekolah justru didorong memanfaatkan berbagai bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dengan menerapkan prinsip 3R, yakni Reduce, Reuse dan Recycle. “Sarana penunjang tidak perlu mewah, bahkan diutamakan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar berprinsip pada 3R (Reduce, Reuse dan Recycle),” tegasnya.

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kabupaten Probolinggo Suryana Nuring Perbawani memimpin kegiatan verifikasi lapangan terhadap calon Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Probolinggo. (Foto : DLH)

Hingga saat ini terang Nuring, verifikasi lapangan telah dilakukan di empat sekolah meliputi SDN Sidomukti 1 Kecamatan Kraksaan, MI Raudhatul Jannah 2 Kecamatan Maron, SMPN 3 Kraksaan serta SDN Karangpranti 1 Kecamatan Pajarakan.

“Namun, sekolah yang telah diverifikasi belum otomatis dinyatakan lolos sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Probolinggo. Hasil verifikasi masih menjadi bagian dari proses penyaringan untuk menentukan sekolah yang memenuhi kriteria,” ungkapnya.

Nuring menjelaskan, verifikasi lapangan bertujuan mencocokkan kondisi nyata di sekolah dengan data yang telah disampaikan melalui sistem administrasi. “Maksud dilaksanakan verifikasi adalah mengetahui kondisi langsung di sekolah apakah suatu sekolah benar-benar sudah menjalankan prinsip Sekolah Adiwiyata dalam keseharian,” lanjutnya.

Proses seleksi calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten Probolinggo dilakukan melalui dua tahapan. Tahap pertama berupa seleksi administrasi dengan menginput data melalui aplikasi SIDIA (Sistem Informasi Adiwiyata). Tahap kedua dilakukan melalui seleksi lapangan atau verifikasi lapangan. Pada tahap ini, tim mencocokkan data yang telah diinput dalam aplikasi dengan kondisi dan penerapan nyata di sekolah.

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kabupaten Probolinggo Suryana Nuring Perbawani dalam kegiatan verifikasi lapangan terhadap calon Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Probolinggo. (Foto : DLH)

“Melalui proses ini DLH Kabupaten Probolinggo ingin memastikan predikat Sekolah Adiwiyata diberikan kepada sekolah yang tidak hanya memenuhi persyaratan administrasi, tetapi juga mampu membangun kebiasaan dan budaya ramah lingkungan secara nyata di lingkungan sekolah,” pungkasnya. ***

Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info