KRAKSAAN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo menggelar sosialisasi aplikasi Inlis Lite bagi perpustakaan sekolah di ruang Pustakaloka Kantor Dispersip Kabupaten Probolinggo, Senin (11/5/2026).
Kegiatan yang dibuka Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas ini diikuti oleh 35 peserta terdiri dari Kepala SD dan SMP negeri maupun swasta, pustakawan serta pengelola perpustakaan sekolah di Kabupaten Probolinggo.
Sosialisasi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan perpustakaan sekolah sekaligus mendukung program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial melalui penerapan sistem digitalisasi perpustakaan.
Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas menegaskan perpustakaan sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi, riset dan berpikir kritis di lingkungan pendidikan. “Perpustakaan sekolah adalah jantung pendidikan. Dari perpustakaanlah tumbuh budaya literasi, budaya riset dan budaya berpikir kritis bagi peserta didik,” ujarnya.
Menurut Ulfi, kondisi perpustakaan sekolah di Kabupaten Probolinggo saat ini masih belum sepenuhnya ideal. Berdasarkan data per April 2026, dari 718 sekolah tingkat SD hingga SMA/SMK, baru 13,9 persen yang telah menggunakan sistem automasi perpustakaan. “Artinya masih ada sekitar 86 persen sekolah yang mengelola perpustakaan secara manual, mulai pencatatan buku hingga laporan administrasi,” jelasnya.
Ulfi menerangkan, penerapan sistem digital menjadi kebutuhan penting karena telah menjadi bagian dari standar nasional perpustakaan dan instrumen akreditasi pendidikan. “Tidak mungkin lagi meraih akreditasi A jika pengelolaan perpustakaannya masih manual,” tegasnya.
Melalui aplikasi Inlis Lite 3.5 yang merupakan aplikasi resmi dari Perpustakaan Nasional RI, Dispersip bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo menargetkan 60 persen perpustakaan sekolah di Kabupaten Probolinggo telah terautomasi pada akhir tahun 2026. “Dengan Inlis Lite, layanan perpustakaan menjadi lebih cepat, efektif dan terintegrasi. Laporan yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari kini bisa selesai dalam hitungan menit,” terangnya.
Ulfi berharap seluruh peserta dapat mengikuti sosialisasi secara maksimal dan menerapkan sistem automasi tersebut di perpustakaan sekolah masing-masing. “Semoga melalui kegiatan ini kita dapat memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan Kabupaten Probolinggo yang SAE literasi, berpengetahuan, berkarakter dan berdaya saing global,” pungkasnya. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
