Reporter : Syamsul Akbar
KRUCIL – Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo memberikan sosialisasi Lumpy Skin Disease (LSD) dan tata cara vaksinasinya di KUD Argopuro Kecamatan Krucil, Senin (12/12/2022).
Kegiatan yang dipimpin oleh Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Diperta Kabupaten Probolinggo drh Nikolas Nuryulianto ini diikuti oleh pengurus dan pengawas, 6 kelompok dan 34 pokja yang ada di KUD Argopuro.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Diperta Kabupaten Probolinggo drh Nikolas Nuryulianto menyampaikan selain Penyakit Mulut dan Kuku yang sudah melandai, tetap harus dilakukan vaksinasi pada hewan, tetap harus menjaga hiegine sanitasi dan biosecurty. Disamping itu, transportasi juga harus diperhatikan.
“Selain itu ada juga penyakit LSD atau Lumpy Skin Disease. Penyakit ini merupakan penyakit yang lebih berbahaya dari pada PMK. Penyakit ini disebabkan oleh virus Poxviridae. Kalau istilah gampangnya itu cacar kulit, tetapi yang diserang adalah sapi dan kerbau,” katanya.
Niko menjelaskan yang diprioritaskan sementara adalah sapi perah yang ada di KUD Argopuro. Bahkan sudah mendapatkan vaksin LSD sebanyak 1.500 vaksin. Serta baru diambil hari ini tanggal 12 Desember 2022 di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sebanyak 3.000 dosis. Dengan demikian totalnya ada 4.500 dosis yang harus disuntikkan segera kepada populasi sapi perah milik KUD Argopuro sekitar 6.000 ekor.
“Mengapa hanya 4.500 dosis? Karena pasien LSD itu jumlahnya terbatas. Jadi diprioritaskan kepada sapi perah terlebih dahulu. Penyakit LSD ini lebih parah dari PMK. Walaupun tidak bersifat zonosis kepada manusia, tetapi dia itu menyerang kulit sehingga bentol-bentol seperti cacar, jerawat hingga karkas (daging dan tulangnya rusak) karena penyakit virus Poxviridae atau cacar kulit,” jelasnya.
Menurut Niko, kalau pada PMK dagingnya masih bisa dimakan asalkan dimasak dengan benar dan direbus selama 30 menit. Tetapi kalau LSD ini tidak bisa dimakan karena rusak. Oleh karena sudah rusak, maka dagingnya tidak bisa dimakan.
“LSD baru pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 2022. Awalnya ada di Provinsi Riau. Penyebarannya tidak seperti PMK. Jika PMK penyebarannya bisa melalui udara maupun lalu lintas ternak,” terangnya.
Niko menerangkan LSD ini disebabkan oleh vektor berupa lalat, nyamuk dan caplak. Oleh karena itu, lalu lintas ternak harus 100 persen harus ditiadakan. Pertama kali ada di Riau, setelah itu lewat batas provinsi ke Jawa Tengah di daerah Kendal. Sekaran lewat batas provinsi lagi ke Jawa Timur. Penyebarannya tidak seperti PMK. Jika PMK satu daerah kena, pasti daerah-daerah sebelahnya juga akan kena.
“Penyebaran LSD sementara ini tidak bisa diprediksi dan bisa saja lewat lalu lintas maupun angkutan. Apalagi disana ada caplak dan nyamuk yang menempel pada sapi dan kerbau yang lalu lintas ternak,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut Niko meminta kepada masyarakat khususnya yang ada di wilayah Kecamatan Krucil agar jangan pernah memasukkan ternak baru ke suatu tempat yang kulitnya bentol-bentol seperti jerawat. Kalau mau beli konsultasi dulu dengan dokter hewan maupun petugas teknis peternakan setempat. Harus dilihat Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) apakah ada riwayat vaksinasinya maupun riwayat sakitnya.
“Disarankan kepada pemilik sapi perah untuk hati-hati memasukkan dan mengeluarkan ternak ke wilayah KUD Argopuro. Kita menganjurkan supaya para pemilik sapi perah ini mau ternaknya di vaksin LSD. Sebab vaksin LSD ini terbatas jumlahnya. Selain itu, masyarakat perlu diberikan KIE terus menerus supaya menjaga pakan ternak agar kondisi hewan tetap dalam kondisi prima pada saat diberikan vaksin LSD,” ujarnya.
Niko menegaskan vaksin LSD ini tidak boleh diberikan kepada ternak yang sakit. Walaupun belum sampai di Kabupaten Probolinggo, tetapi Diperta melakukan pencegahan dengan cara vaksinasi prioritas pada sapi perah. Hal ini sudah sesuai anjuran dari pemerintah pusat. KIE kepada masyarakat terkait vaksinasi LSD sangat perlu. Lebih baik mencegah penyakitnya sebelum masuk ke Kabupaten Probolinggo.
“Kita mengharapkan masyarakat selalu koordinasi dengan dokter hewan maupun petugas teknis peternakan apabila membeli ternak baru. Perlu melihat fisik ternak terlebih dahulu apabila ada bentol-bentol di banyak tempat. Kooridnasi dengan petugas teknis peternakan maupun dokter hewan apakah itu LSD atau tidak. Masyarakat mau tidak mau dan suka tidak suka ternaknya perlu divaksin LSD untuk mencegah masuknya LSD di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (wan)
