Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo melakukan validasi pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular pada Senin (29/4/2024).
Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang peserta dari Pengelola Program PTM Puskesmas di Kabupaten Probolinggo. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari narasumber Dinkes Kabupaten Probolinggo terkait paparan capaian semester I, evaluasi capaian PTM serta strategi pemanfaatan data SIMPUS EVO dan RM PKM dalam mendukung capaian kinerja program PTM.
Plt Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Tutug Edi utomo melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr Nina Kartika mengatakan kegiatan ini secara umum bertujuan untuk melakukan evaluasi dalam rangka meningkatkan capaian program pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular di Kabupaten Probolinggo.
“Selain itu, melakukan validasi data capaian kinerja P2PTM TW 1 Tahun 2024 dan TW 4 2023, menyampaikan kebijakan dan strategi program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) di Kabupaten Probolinggo, menyampaikan penguatan dan strategi pencapaian indikator program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular serta optimalisasi berbagai sumber data untuk peningkatan cakupan SPM,” katanya.
Menurut Nina, Penyakit Tidak Menular (PTM) telah menjadi masalah kesehatan msyarakat yang besar di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada indikator PTM.
“Yakni, prevalensi tekanan darah tinggi pada penduduk usia 18 tahun ke atas meningkat dari 25,8% menjadi 34,1%, prevalensi obesitas penduduk usia 18 tahun ke atas meningkat dari 14,8% menjadi 21,8% dan prevalensi merokok penduduk usia ≤ 18 tahun meningkat dari 7,2% menjadi 9,1%,” jelasnya.
Nina menjelaskan Penyakit tidak menular (PTM) terjadi akibat berbagai faktor risiko, seperti merokok, diet tidak sehat, kurang aktivitas fisik dan konsumsi minuman beralkohol. Faktor risiko tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis di dalam tubuh manusia, sehingga menjadi faktor risiko antara lain tekanan darah meningkat, gula darah meningkat, kolesterol darah meningkat dan obesitas. Selanjutnya dalam waktu yang relatif lama terjadi PTM.
“Berdasarkan Riskesdas 2013 prevalensi obesitas pada laki-laki umur ˃ 18 tahun (19,7%) dan pada perempuan (32,9%), obesitas sentral (26,6%), konsumsi tembakau usia ≥ 15 tahun (36,3%) dan kurang konsumsi sayur-buah (93,5%),” terangnya.
Lebih lanjut Nina menerangkan program pengendalian PTM dan faktor risikonya dilaksanakan mulai dari pencegahan, deteksi dini dan pengobatan serta rehabilitasi. Kegiatan pencegahan dan deteksi dini dapat dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat melalui Posbindu PTM. Sedangkan deteksi dini, pengobatan dan rehabilitasi di fasilitas pelayanan kesehatan, baik fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) maupun fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL).
“Salah satu kegiatan FKTP adalah melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi terhadap akses, mutu dan cakupan pelayanan Kesehatan, termasuk PTM. Surveilans PTM di FKTP dilaksanakan sejalan dengan kegiatan FKTP tersebut guna mendukung penyelenggaran program pengendalian penyakit di masyarakat,” teangnya.
Nina menambahkan kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis dan terus-menerus. Dalam rangka pelaksanaan surveilans faktor risiko PTM baik berbasis Posbindu maupun FKTP, diperlukan panduan teknis dan sistem surveilans informasi surveilans yang menjadi acuan pelaksanaan di lapangan.
“Selanjutnya, data dan informasi yang dihasilkan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya bagi pengembangan dan penguatan program pengendalian PTM. Dengan terlaksananya kegiatan ini diharapkan terlaksananya kegiatan dan pelaporan surveilans PTM di Kabupaten Probolinggo secara berkesinambungan,” pungkasnya. (wan)
