Depan > Kesehatan > Dinkes Gelar Orientasi Pelaksanaan Skrining Bayi Baru Lahir

Dinkes Gelar Orientasi Pelaksanaan Skrining Bayi Baru Lahir

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar kegiatan orientasi pelaksanaan skrining bayi baru lahir di Kabupaten Probolinggo. Penerima manfaatnya adalah organisasi profesi, lintas program dan fasilitas pelayanan kesehatan yang melaksanakan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK).

Kegiatan ini diikuti oleh 80 orang peserta terdiri dari perwakilan dari 33 puskesmas, rumah sakit pemerintah dan swasta, klinik dan rumah sakit ibu dan anak serta organisasi profesi (PMB). Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari narasumber yang berasal dari Dinkes Kabupaten Probolinggo dan Laboratorium RSU dr. Soetomo Surabaya.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Sri Wahyu Utami mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang sama kepada semua pemberi layanan yang ada di Kabupaten Probolinggo. “Selain itu, membahas pemecahan masalah dan menentukan rencana selanjutnya terhadap pelaksanaan skrining bayi baru lahir khususnya Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK),” katanya.

Menurut Sri Wahyu, dalam rangka mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, maka pembangunan kesehatan harus dilakukan secara bersama-sama dengan pendidikan dan ekonomi sehingga akan dapat tercipta pilar yang saling menopang dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang cerdas dan memiliki daya saing baik di tingkat lokal maupun di tingkat lobal.

“Untuk mendapatkan SDM yang berkualitas, perlu persiapan dan perencanaan sejak dini, karena tidak terlahir dengan sendirinya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempersiapkannya adalah dengan melakukan deteksi yang sedini mungkin pada bayi sejak dilahirkan melalui skrining bayi baru lahir,” jelasnya.

Lebih lanjut Sri Wahyu menerangkan skrining bayi baru lahir (neonatal screening) adalah uji yang dilakukan pada saat bayi berumur beberapa hari yang dapat mendeteksi adanya gangguan atau kelainan sedini mungkin pada bayi sehingga apabila ditemukan gangguan/kelainan dapat segera diantisipasi sedini mungkin sebelum timbulnya gejala klinis diatas, karena makin lama gejala makin berat.

“Hambatan pertumbuhan dan perkembangan lebih nyata dimana pada umur 3–6 bulan gejala khas hipotiroid menjadi lebih jelas. Perkembangan mental semakin terbelakang, terlambat duduk dan berdiri serta tidak mampu belajar bicara,” tegasnya.

Sri Wahyu menambahkan dalam pelaksanaan SHK masih banyak kendala baik dari segi sumber daya manusia, sarana prasarana, logistik, pencatatan dan pelaporan, klaim pembayaran, perjanjian kerjasama dan lain-lain.

“Untuk pengembangan program skrining bayi baru lahir di Indonesia, maka perlu dilakukan orientasi pelaksanaan skrining bayi baru lahir di lapangan begitu juga terkait laboratorium pemeriksa SHK. Pertemuan evaluasi tersebut melibatkan seluruh anggota kelompok kerja fasilitas kesehatan skrining bayi baru lahir, organisasi profesi dan lintas lintas program terkait,” pungkasnya. (wan)