Depan > Kesehatan > Cegah Stunting, Dinkes Gelar Orientasi KAP Lintas Program Puskesmas

Cegah Stunting, Dinkes Gelar Orientasi KAP Lintas Program Puskesmas

Reporter : Syamsul Akbar
GADING – Dalam rangka mencegah stunting, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar orientasi Komunikasi Antar Pribadi (KAP) lintas program puskesmas di Hotel & Resto Kampoeng Kita Desa Condong Kecamatan Gading, Senin hingga Sabtu (13-18/6/2022).

Kegiatan ini diikuti oleh 96 orang peserta (promkes/sanitasi/pelaksana gizi), 3 orang kader dan Dinkes Kabupaten Probolinggo. Para peserta tersebut dibagi ke dalam 3 (tiga) tahap masing-masing selama 2 (dua) hari. Narasumber terdiri dari Dinkes Kabupaten Probolinggo Trenggalek, Dinkes Kabupaten Probolinggo, Puskesmas Sukapura, Puskesmas Kuripan dan Puskesmas Wonomerto.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi pemahaman dasar model KAP, tehnik membangun suasana penggunaan nama, tehnik membangun suasana nonverbal yang memotivasi, tehnik membangun suasana permainan yang menyenangkan, tehnik membangun suasana mendengarkan fasilitatif dan tehnik membangun partisipasi bertanya yang mengundang bicara.

Selanjutnya, tehnik membangun partisipasi curah pendapat, tehnik membangun partisipasi menurunkan tekanan bicara, tehnik membangun partisipasi berbicara yang membangun imajinasi, tehnik membangun partisipasi feedback yang menyemangati, tools untuk perubahan perilaku (body maping, TTD, jamban sehat, gizi seimbang) dengan praktek perkelompok serta praktek KPP.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Sri Rusminah mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan KAP petugas puskesmas dalam penanggulangan stunting di Kabupaten Probolinggo. ”Dengan demikian peserta memahami tentang konsep KAP dan mampu mengimplementasikan KAP pada masyarakat,” katanya.

Menurut Sri Rusminah, stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Tidak jarang masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan.

“Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun,” jelasnya.

Sri Rusminah menjelaskan data stunting di Kabupaten Probolinggo pada tahun 2019 menurun menjadi 16,37% atau 13.206 dari 80.665 balita yang ditimbang, dengan menyisakan 5.569 balita yang tidak ditimbang. Sedangkan untuk tahun 2020 data ini kembali menurun menjadi 16,24 % atau 12.833 dari sebanyak 79.497 balita yang ditimbang.

“Salah satu upaya intervensi sensitif yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo adalah meningkatkan pemahaman kepada petugas kesehatan di puskesmas tentang penanggulangan stunting melalui orientasi komunikasi antar pribadi dengan harapan penanganan kasus stunting oleh petugas kesehatan di Kabupaten Probolinggo lebih optimal,” pungkasnya. (wan)