KRAKSAAN – Langkah Cantika Maharani Putri di lapangan upacara Alun-alun Kraksaan pada Senin (17/8/2026) pagi menjadi salah satu momen yang tidak akan mudah dilupakan. Siswi SMKN 1 Kraksaan kelas XI TKJ 2 itu dipercaya menjadi pembawa baki bendera Merah Putih dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tingkat Kabupaten Probolinggo.
Di tengah khidmatnya upacara, Cantika menjalankan tugas dengan penuh konsentrasi. Baki yang dibawanya menjadi bagian penting dalam prosesi pengibaran Sang Merah Putih. Tugas tersebut sekaligus menjadi simbol kepercayaan yang diberikan kepadanya setelah melalui proses seleksi dan latihan sebagai anggota Paskibraka Kabupaten Probolinggo.
Bagi gadis kelahiran Probolinggo, 14 Januari 2010 ini, kepercayaan tersebut menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan satu kata. Ada rasa terkejut, bangga, haru, sekaligus beban tanggung jawab yang besar.
“Perasaan itu campur aduk banget. Ada rasa kaget, bangga dan terharu. Tapi bebannya juga langsung terasa besar banget. Karena pembawa baki itu kan pusat perhatian saat upacara,” ujar Cantika.
Ketika pertama kali mengetahui dirinya terpilih sebagai pembawa baki, Cantika bahkan sempat mempertanyakan kemampuan dirinya. Namun, di balik rasa khawatir itu muncul kebahagiaan karena mendapatkan kepercayaan yang menurutnya tidak datang dua kali. “Pas tahu terpilih rasanya kayak, wah, beneran nih aku? Aku bakal sanggup? Tapi di sisi lain bahagia banget karena kepercayaan besar ini nggak datang dua kali,” katanya.
Menjadi pembawa baki bukanlah target yang sejak awal dipasang Cantika ketika mendaftarkan diri sebagai Paskibraka. “Bisa lolos sebagai anggota Paskibraka dan mendapat kesempatan ikut mengibarkan bendera sudah menjadi sebuah kebanggaan,” lanjutnya.
Ia mengaku tidak pernah menyangka akan mendapatkan posisi tersebut. Apalagi, menurutnya, para peserta lain yang menjadi pesaing juga memiliki kemampuan yang tidak kalah baik.

“Sama sekali tidak pernah nyangka. Karena saingannya bagus-bagus dan lebih keren. Dari awal mikirnya yang penting masuk Paskibraka dan bisa ikut ngibar saja sudah bersyukur banget,” ungkapnya.
Karena itu, ketika akhirnya dipercaya menjadi pembawa baki, Cantika merasakan pengalaman tersebut seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. “Pas terpilih menjadi pembawa baki, benar-benar kayak mimpi yang jadi kenyataan,” tuturnya.
Rasa tegang paling besar justru dirasakan Cantika menjelang prosesi pengibaran. Tanggung jawab membawa baki di hadapan peserta upacara dan masyarakat membuatnya harus mampu mengendalikan rasa gugup. “Sebelum mengibarkan bendera perasaannya sangat tegang dan gugup karena membawa tanggung jawab yang sangat besar,” terangnya.
Namun, setelah seluruh rangkaian prosesi selesai, rasa tegang itu berubah menjadi kelegaan. Beban yang sejak awal dirasakan seolah hilang setelah tugas berhasil dituntaskan. “Perasaan sesudah pengibaran rasanya plong banget. Rasanya kayak beban berat itu langsung hilang,” ujarnya.
Keputusan Cantika mengikuti Paskibraka tidak lepas dari keinginannya membanggakan kedua orang tuanya Waluyo dan Siti Arumansyah. Anak kedua dari dua bersaudara yang tinggal di Dusun Krajan RT 06 RW 02 Desa Gending Kecamatan Gending itu juga ingin membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin.
Selain itu, ada sosok kakaknya yang menjadi salah satu sumber motivasi. Sang kakak pernah menjadi anggota Paskibraka pada tahun 2022. Pengalaman tersebut turut mendorong Cantika untuk mengikuti jejaknya.

“Saya ingin membanggakan orang tua, melatih diri supaya lebih disiplin dan punya pengalaman berharga yang tidak bakal terlupakan seumur hidup. Selain itu, saya juga termotivasi dari kakak saya yang menjadi anggota Paskibraka pada 2022,” urainya.
Selama menjalani latihan, Cantika merasakan suka dan duka yang berjalan beriringan. Ia mendapatkan teman-teman baru yang kemudian terasa seperti keluarga sendiri. Berbagai pengalaman selama latihan juga menjadi kenangan yang menurutnya akan selalu melekat. “Sukanya kita jadi punya keluarga baru, ketawa bareng teman-teman dan memiliki momen berkesan di tempat latihan,” jelasnya.
Namun, proses tersebut tentu tidak selalu mudah. Latihan fisik yang intens membuat kaki mudah pegal. Kulit yang semakin gelap akibat aktivitas di lapangan pun menjadi bagian dari pengalaman.
“Kalau dukanya kulit jadi semakin gelap, kaki jadi mudah pegal. Belum lagi kalau kena omel pelatih saat gerakannya masih ada yang kurang,” ujarnya sembari mengenang proses latihan.
Bagi Cantika, kerasnya latihan Paskibraka bukan sekadar persiapan untuk menjalankan tugas pada 17 Agustus. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi ruang untuk membentuk karakter, kedisiplinan dan jiwa kepemimpinan.
Ia berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti ketika tugas sebagai Paskibraka selesai. Jiwa kepemimpinan yang dibangun selama latihan diharapkan terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Untuk ke depannya saya berharap jiwa kepemimpinan yang dibentuk di Paskibraka ini tidak luntur dan bisa terus dipakai di kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, kuliah maupun di dunia kerja nanti,” ungkapnya.

Cantika juga memiliki pesan bagi generasi muda yang ingin mengikuti seleksi Paskibraka. Menurutnya, calon peserta tidak perlu merasa minder hanya karena persoalan fisik atau tinggi badan. Hal terpenting adalah kemauan, mental dan konsistensi menjalani proses.
“Latihan Paskibraka itu memang keras dan capek, tapi prosesnya benar-benar membentuk karakter. Semua tetesan keringat saat latihan terbayar lunas saat bendera berhasil berkibar,” kenangnya.
Ia pun mengajak calon peserta untuk berani mencoba. “Jangan takut mencoba. Jangan minder duluan sama fisik atau tinggi badan kalian. Yang paling penting itu niat, mental yang kuat dan konsistensi,” pesan Cantika.
Pada akhirnya, tugas membawa baki bendra Merah Putih di Alun-alun Kraksaan bukan hanya tentang beberapa langkah dalam sebuah prosesi upacara. Bagi Cantika, tugas itu merupakan buah dari keberanian untuk mencoba, kesediaan menjalani latihan keras serta kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Di usia yang masih 16 tahun, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Dari lapangan Paskibraka, Cantika belajar bahwa sebuah kepercayaan harus dijawab dengan tanggung jawab, sementara sebuah mimpi dapat menjadi kenyataan ketika disertai kerja keras dan konsistensi. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
