Sunday, September 19, 2021
Depan > Kemasyarakatan > BPBD Bentuk Destana Desa Kedungsumur

BPBD Bentuk Destana Desa Kedungsumur

Reporter : Syamsul Akbar
PAKUNIRAN – Dalam rangka Pengurangan Resiko Bencana (PRB) berbasis masyarakat, dibutuhkan peran serta seluruh masyarakat, utamanya masyarakat pedesaan. Untuk itulah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo membentuk Destana (Desa Tangguh Bencana) yang kali ini dilakukan di Desa Kedungsumur Kecamatan Pakuniran, Senin (25/11/2019).

Kegiatan ini diikuti oleh 100 orang relawan dan masyarakat Desa Kedungsumur Kecamatan Pakuniran yang berasal dari 5 (lima) dusun. Dimana masing-masing dusun mengikutsertakan 20 orang. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan bhakti sosial, apel kesiapsiagaan dan simulasi. Sasaran kegiatan ini adalah pemerintah desa dan masyarakat Desa Kedungsumur Kecamatan Pakuniran.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi mengungkapkan pengembangan desa tanggung bencana ini bertujuan melindungi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bahaya dari dampak-dampak merugikan bencana serta meningkatkan peran serta masyarakat, khususnya kelompok rentan dalam pengelolaan sumber daya dalam rangka mengurangi risiko bencana.

“Selain itu, meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya dan pemeliharaan kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana, meningkatkan kapasitas pemerintah dalam memberikan dukungan sumber daya dan teknis bagi pengurangan risiko bencana serta meningkatkan kerjasama antara para pemangku kepentingan dalam PRB, pihak pemerintah daerah, sektor swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi masyarakat dan kelompok-kelompok lainnya yang peduli,” katanya.

Menurut Anggit, Desa Kedungsumur dipilih dengan pertimbangan secara topografi adalah daerah perbukitan dan merupakan daerah paling atas yang merupakan hulu dari sungai-sungai di Kraksaan dan Paiton. Sehingga sangat berpotensi terjadinya bencana banjir bandang dan longsor.

“Sebagai rangkaian pembentukan Destana, sebelumnya telah dipasang rambu-rambu bencana. Selanjutnya dilaksanakan apel kesiapsiagaan relawan dan dilanjutkan dengan simulasi guna memahami rambu yang telah terpasang agar ketika terjadi bencana yang sesungguhnya masyarakat sudah siap,” pungkasnya. (wan)