Saturday, September 18, 2021
Depan > Kesehatan > 40 Kasus Berasal dari Hasil Pemeriksaan Laboratorium Luar RSUD Waluyo Jati

40 Kasus Berasal dari Hasil Pemeriksaan Laboratorium Luar RSUD Waluyo Jati

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Kasus Covid-19 di Kabupaten Probolinggo pada Rabu (14/7/2021) bertambah sebanyak 115 kasus sehingga totalnya mencapai 4.062 kasus dengan rincian 399 kasus masih dirawat dan diisolasi, 3.443 kasus sembuh dan 220 kasus meninggal dunia.

“Dari 115 kasus ini, 40 kasus itu berasal dari luar fasilitas kesehatan Kabupaten Probilinggo mulai dari Jakarta, Surabaya dan Mataram. Jadi 40 kasus ini merupakan hasil pemeriksaan laboratorium di luar RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Tetapi memang mereka adalah warga Kabupaten Probolinggo,” kata Juru Bicara Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica.

Menurut Dewi, 40 orang ini merupakan warga Kabupaten Probolinggo tetapi melakukan pemeriksaan di laboratorium luar Kabupaten Probolinggo. Saat ini sudah online semua, sehingga meskipun periksa atau dirawat di luar tetapi kalau KTP-nya terdaftar di all recordnya Kabupaten Probolinggo maka releasenya masuk di Kabupaten Probolinggo.

“Jadi yang 40 orang itu periksanya dari luar laboratorium RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Kalau yang lain-lain itu kebanyakan pasien banyak dari Surabaya. Ini bisa jadi sebuah perusahaan yang menggunakan pihak ketiga PCR luar, makanya releasenya ada yang dari luar seperti Surabaya, Mataram dan lain-lain. Intinya mereka itu periksanya bukan di laboratorium RSUD Waluyo Jati Kraksaan, tapi KTP-nya dari Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Dewi menerangkan bisa jadi mereka bekerja atau perusahaan yang ada di Kabupaten Probolinggo. Hal ini bisa jadi karena laboratorium RSUD Waluyo Jati Kraksaan overload. Sebab rata-rata perusahaan itu bayar sendiri. “Untuk lainnya adalah pasien dan penunggu-penunggu pasien yang merupakan kontak erat. Kalau klusternya masuk dalam kluster tempat kerja dan keluarga,” tegasnya.

Lebih lanjut Dewi menjelaskan sebenarnya ini bukan hanya bertambah kasusnya saja, tetapi juga bersih-bersih data. Jadi sekarang sudah tidak bisa disembunyikan. Meskipun mau periksa di laboratorium manapun kalau orang Kabupaten Probolinggo pasti akan masuk dan terlacak di Kabupaten Probolinggo.

“Jadi begitu nanti pihak puskesmas langsung melacak ke tempat alamat yang ada di all record, misalnya pasien dirawat inap di Surabaya, berarti dia tetap disana. Nanti keluarga yang satu rumah yang kita PCR,” ujarnya.

Hanya yang perlu diingatkan tegas Dewi, karena untuk penentian zona merah, kuning dan hijau di Kabupaten Probolinggo memakai jumlah testing. Seperti saat ada penambahan 114 kasus, itu berarti harusnya yang ditracing atau ditesting minimal satu pasien positif itu minimal 15 orang yang hrus di PCR. Dengan demikian, 114 kali 15 orang itu adalah jumlah orang yang harus ditesting.

“Sekarang tambah lagi 115 kasus, berarti 115 kali minimal 15 orang. Jadi selama kita pembaginya jumlah testingnya sedikit, maka positif fertility ratenya tetap akan tinggi terus. Kita akan tetap menjadi zona merah dan orange. Tetapi kalau testingnya kita banyak, misalnya dari 10 orang yang ditesting ternyata 9 orang yang positif. Berarti positif fertility ratenya hampir 100%. Tapi kalau yang ditesting itu 50 orang dan jumlah yang positif 9 orang, otomatis positif fertility ratenya rendah. Itu yang diharapkan oleh pemerintah,” tambahnya.

Dengan demikian tambah Dewi, tidak ada kasus yang disembunyikan dan semuanya ditesting. Harapannya dengan jumlah testing yang banyak, karena target kita adalah 1.600-an per hari.

“Kalau target harian sesuai dengan BNPB dan Gubernur Jawa Timur, target Kabupaten Probolinggo adalah 1.600-an per hari jumlah testingnya. Baru jika positif fertility ratenya kita landai, stabil dan jumlah testingnya banyak, itu baru kita dinyatakan kasusnya memang menurun,” pungkasnya. (wan)